FaktualNews.co

Protes Kekerasan terhadap Jurnalis, Wartawan Probolinggo Demo, Serahkan Batu Nisan ke Polisi

Peristiwa     Dibaca : 84 kali Penulis:
Protes Kekerasan terhadap Jurnalis, Wartawan Probolinggo Demo, Serahkan Batu Nisan ke Polisi
FaktualNews.co/agus
Demo wartawan di Probolinggo, serahkan batu nisan ke polisi yang bertugas mengawal mereka.

PROBOLINGGO, FaktualNews.co-Demonstrasi mengecam penganiayaan terhadap wartawan majalah Tempo di Surabaya, kian meluas. Setelah sebelumnya terjadi di sejumlah daerah, giliran jurnalis Probolinggo Raya, melaksanakan aksi serupa, Selasa (30/03/21).p

Aksi solidaritas digelar Jurnalis Probolinggo (Jispro) bersama Himpunan Wartawan Probolinggo (Hiwapro) dan Aliansi Jurnalis Probolinggo (AJP) dipusatkan di Pertigaan Tugu Adipura, Jalan Raya Panglima Sudirman.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Aksi mengambil start di Museum Rasulullah, selanjutnya puluhan jurnalis long march menuju lokasi demo sambil membentangkan poster dan batu nisan serta berorasi.

Sampai di lokasi, pendemo membentangkan poster dan melakukan orasi bergantian. Dalam orasinya, mereka menyayangkan dan mengecam perlakuan kasar terhadap wartawan yang tengah liputan. Karenanya mereka meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus dugaan kekerasan tersebut.

“Kami prihatin dengan kejadian yang menimpa teman kita yang satu profesi. Seharusnya hal ini tidak terjadi,” ujar Farid Fahlefi, korlap aksi.

Ia meminta, aksi kekerasan terhadap Nurhadi diusut tuntas. Wartawan media elektronik ini berharap, peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi ke depannya, agar peristiwa serupa tidak dialami wartawan lain.

“Kami berharap oknum yang terlibat diproses, sesuai hukum yang berlaku,” katanya.

Penangungjawab aksi yang sekaligus Ketua Jispro Rhoma Dona menyebut, wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi undang-undang. Karenanya ia meminta aparat penegak hukum dan masyarakat, untuk memahami tugas dari wartawan.

“Siapapun tidak boleh menghalang-halangi kerja wartawan. Baik dengan cara lembut, apalagi dengan kasar. Ada implikasi hukumnya,” tegasnya.

Dhona mengutuk keras oknum petugas yang berbuat kasar kepada wartawan yang tengah melakukan peliputan. Ia berharap, peristiwa yang dialami Nurhadi tidak terjadi lagi.

Sebelum membubarkan diri, puluhan wartawan meletakkan kartu persnya dan alat seperti kamera yang dipakai saat liputan. Barang-barang tersebut kemudian ditaburi bunga tujuh warna, sebagai bentuk protes.

Sedang dua batu nisan yang dibawa saat demo, diserahkan ke polisi yang bertugas mengawal aksi tersebut.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono

YUK BACA

Loading...