FaktualNews.co

Studi Terbaru, Manusia Mungkin Akan Punya Air Liur Berbisa

Sains     Dibaca : 81 kali Penulis:
Studi Terbaru, Manusia Mungkin Akan Punya Air Liur Berbisa
FaktualNews.co/Istimewa
Ilustrasi. (deadliestwarrior.fandom.com)

SURABAYA, FaktualNews.co – Manusia memiliki kelenjar ludah, sedangkan ular memiliki kelenjar bisa. Dadi dua hal berbeda itu, para peneliti menemukan bahwa manusia suatu hari mungkin memiliki air liur berbisa seperti ular.

Dilansir Science Times, peneliti dari Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University dan Australian National University mempelajari gen yang bekerja sama dan berinteraksi dengan racun pada ular pit viper.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Penemuan mereka menunjukkan bahwa fondasi genetik yang diperlukan agar bisa mulut berevolusi juga dapat ditemukan dalam gen reptil dan mamalia. Itu artinya bahwa manusia mungkin berada di jalur evolusi untuk berkembang menjadi memiliki air liur yang berbisa.

Studi yang berjudul “An ancient, conserved gene regulatory network led to the rise of oral venom systems” yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, adalah bukti konkret pertama tentang hubungan molekuler yang mendasari antara kelenjar racun yang ditemukan pada ular. dan kelenjar ludah pada mamalia.

Pengertian baru orang beracun

Sky News melaporkan bahwa para ilmuwan menemukan fondasi genetik yang diperlukan agar bisa mulut berevolusi pada reptil dan mamalia.

“Ini benar-benar memberi arti baru bagi orang beracun,” kata penulis studi Agneesh Barua dengan bercanda.

Peneliti mempelajari kelenjar racun yang ditemukan pada ular habu Taiwan, yaitu ular pit viper yang ditemukan di Asia, dan mencari gen yang bekerja sama dan bekerja sama dengan gen racun.


Artikel menarik lainnya:


Mereka mampu mengidentifikasi sekitar 3.000 gen yang bekerja sama ini yang memainkan peran penting dalam melindungi sel dari stres yang dibawa oleh produksi banyak protein.

Selain itu, para peneliti menyelidiki genom dari mamalia lain, seperti anjing, simpanse, dan manusia, dan menemukan bahwa mamalia ini memiliki versi mereka sendiri dari gen tersebut.

Penelitian tersebut mengungkapkan dasar kuno dari bisa ular tersebut. Barua mengatakan bahwa bisa ular adalah campuran protein yang digunakan hewan untuk melumpuhkan mangsanya, dan juga bertindak sebagai pertahanan diri.

Namun selain ular, hewan lain juga memiliki bisa, seperti ubur-ubur, laba-laba, kalajengking, dan beberapa mamalia. Memahami bagaimana gen yang berbeda berinteraksi membantu para peneliti lebih memahami kunci dalam mengatur modifikasi dan pelipatan protein.

Menurut MailOnline, asam amino panjang harus terlipat dengan cara tertentu selama produksi gen karena bahkan satu protein yang salah lipatan dapat menumpuk dan merusak sel.


Artikel menarik lainnya:


Barua menjelaskan bahwa sistem yang kokoh diperlukan untuk membuat semua protein yang diperlukan bagi gen guna memastikan bahwa ia terlipat dengan benar dan oleh karena itu dapat berfungsi secara efektif.

Ketika mereka menemukan bahwa mamalia, seperti halnya manusia, memiliki gen di kelenjar ludah mereka yang memiliki pola aktivitas serupa yang terlihat di kelenjar racun, mereka percaya bahwa kedua kelenjar tersebut memiliki fondasi kuno yang tetap ada sejak dua garis keturunan itu terpecah ratusan juta tahun yang lalu.

Barua mencatat bahwa ini adalah bukti kuat pertama bahwa kelenjar racun berevolusi dari kelenjar ludah. Dengan kemudahan fungsi kelenjar ludah yang digunakan kembali sebagai kelenjar racun, para ilmuwan mulai melihat mamalia dari sudut pandang yang berbeda.

Misalnya, pada 1980-an, para peneliti mengamati bahwa tikus jantan menghasilkan senyawa beracun saat disuntikkan ke tikus. Jika dalam kondisi ekologi tertentu, tikus terus mengembangkan air liur beracun dan dengan keberhasilan reproduksi, mereka bisa menjadi tikus berbisa dalam beberapa ribu tahun.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh
Sumber
Science Times
Tags

YUK BACA

Loading...