FaktualNews.co

Masjid Keramat Bangunan Kanjeng Jimat, Mengenal Salah Satu Pepunden Nganjuk

Sosial Budaya     Dibaca : 246 kali Penulis:
Masjid Keramat Bangunan Kanjeng Jimat, Mengenal Salah Satu Pepunden Nganjuk
FaktualNews.co/Istimewa
Salah satu sudut di dalam Masjid Al-Mubarok yang berciri khasukian Jawa.

NGANJUK, FaktualNews.co – Masjid Al-Mubarok di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk merupakans salah satu masjid yang istimewa di Jawa Timur.

Di areal masjid itu terdapat makam Adipati Nganjuk yang pertama, Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokusumo I (Kanjeng Jimat). Dia lah orang yang membangun masjid tersebut.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Juru Pelihara Masjid Al-Mubarok, Hendro Prayitno mengatakan, sebelum Masjid Al-Mubarok dibangun, kawasan tersebut masjidnya berada di dekat perkuburan pangeran Singosari. Area perkuburan pangeran Singosari ini berada di sebelah Utara dari Masjid Al-Mubarok saat ini.

“Saat kedatangan Mbah Kanjeng Jimat, akhirnya ditukargulingkan dan dibangun yang lebih besar di sini (lokasi Masjid Al-Mubarok saat ini), dan lebih bagus,” ujar Hendro Prayitno, saat ditemui di area Masjid, Senin (12/04/2021)

Secara singkat, Hendro menjelaskan, Madjid ini dibangun oleh Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokusumo I (Kanjeng Jimat). Beliau merupakan Adipati pertama Kabupaten Nganjuk.

Menurut Hendro, Masjid ini dibangun oleh Adipati sejak Tahun 1830. Kemudian, Adipati meninggal dunia Tahun 1832. Setelah itu, pembangunan dilanjutkan oleh adiknya, yakni pangeran Sosrodirjo.

Mengenali lebih dalam, pada struktur bangunannya terdapat akulturasi budaya Hindu, Cina dan Islam. Ditandai adanya konsep batu bata, ukiran, mimbar dan bedug.

Masjid Besar Al-Mubarok ini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2016. Ada 4 tiang utama yang besar yang saat ini masih terlihat seperti pahatan kayu. “Masih utuh semua”ungkapnya

Setiap malam di bulan Ramadhan, lanjut Hendro, ada kegiatan Dzikrul Ghofilin. “Setelah salat Tarawih, istirahat, terus tadarus, kemudian Dzikrul Ghofilin,” pungkasnya.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh

YUK BACA

Loading...