FaktualNews.co

Ponpes Nurul Huda Surabaya Sudah Terapkan Pembelajaran Tatap Muka

Pendidikan     Dibaca : 79 kali Penulis:
Ponpes Nurul Huda Surabaya Sudah Terapkan Pembelajaran Tatap Muka
FaktualNews.co/risky prama
Belajar tatap muka dengan terapkan prokes di Ponpes Nurul Huda Surabaya.

SURABAYA, FaktualNews.co-Seperti tahun lalu, pada Ramadan tahun ini umat muslim menjalani puasa dalam situasi yang tidak biasa, yakni di tengah pandemi Covid-19.

Namun, tahun ini situasi agak berbeda. Meskipun kita semua belum keluar dari situasi pandemi Covid-19, sejumlah perubahan dalam bentuk pelonggaran aturan telah diberikan.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Seperti pembelajaran tatap muka (PTM) sudah mulai dibolehkan. Tentu saja, syaratnya tetap dengan penerapan disiplin protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Salah satu lembaga pendidikan yang sudah menerapkan PTM adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda di Jalan Sencaki, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.

Pengasuh Ponpes Nurul Huda, menyatakan saat ini belajar mengajar sudah menggunakan sistem tatap muka. Meski ada pembatasan jumlah siswa (santri) ditengah Pandemi Covid-19. Selain itu, ada pula sistem belajar yang menggunakan ‘Luring’ maupun ‘Daring’.

“Sekolah tatap muka sudah kita lakukan, namun tetap ada pembatasan siswa santri dan tetap menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes),” jelas Ahmad Syauqi, putra pendiri Ponpes Nurul Huda.

Selama pandemi Covid-19 di Ponpes Nurul Huda, sistem belajar mengajar kepada siswa santri menggunakan sistem pembelajaran ‘luring’ maupun ‘daring’.

“Untuk tahun kemarin di awal pandemi Covid-19, seluruhnya menggunakan sistem belajar daring. Karena semua santri dipulangkan,” sebutnya, Senin (19/4/2021).

Jumlah santri di Ponpes Nurul Huda sendiri 200 orang. Ke-200 santri ini, yang bermukim di ponpes. Jika dijumlah dengan santri dari luar, bisa mencapai seribu santri, mulai dari tingkat TK sampai SMA.

“Untuk sekolah masih tetap mengikuti aturan dari pemerintah. Yakni sistem luring bagi santri yang bermukim, dan daring untuk santri yang tidak bermukim,” ucap dia.

Menurut Ahmad Syauqi, belajar di tengah pandemi Covid-19 ini sangat perlu dilakukan, apalagi di pondok pesantren juga sudah mencoba. “Dan Alhamdulillah tidak ada masalah,” tambahnya.

Sekolah di tengah pandemi Covid-19 ini seharusnya memang murid dipertemukan dengan gurunya. Karena sudah satu tahun ini sudah cukup untuk sekolah menggunakan sistem daring.

“Namun di sisi lain, dengan sistem belajar daring. Guru juga bisa inovatif, dimana guru dituntut lebih bisa belajar IT,” ungkapnya.

Sementara itu, sewaktu anak tidak bisa sekolah tatap muka selama satu tahun terakhir, orang tua harus bisa mengukur bagaimana kepatuhan anak kepada orang tua.

“Orang tua bisa lebih peka kepada perilaku anak, sehingga kepekaan itu adalah modal di tengah adanya perubahan kondisi. Dimana sebenarnya pendidikan yang paling utama adalah di keluarga,” pungkasnya.

Selain itu, pendidikan tatap muka untuk saat ini sudah saatnya dilakukan oleh pemerintah. Baik di sekolah diluar pesantren maupun di pesantren sendiri.

Pada satu tahun lalu, saat semua dibatasi, guru sebagai pendidik. Sekolah dengan sistem virtual, menuntut guru memberikan pelajaran dengan video yang menarik.

“Namun dalam hal ini ada yang dikorbankan yakni pelajar. Dan di saat itu peran orang tua mempunyai peran utama bagi anaknya agar bisa menjaga karakter anak,” harapnya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono

YUK BACA

Loading...