FaktualNews.co

Banyak Pesaing, Omzet Penjual Janur di Mojokerto Anjlok

Ekonomi     Dibaca : 135 kali Penulis:
Banyak Pesaing, Omzet Penjual Janur di Mojokerto Anjlok
FaktualNews.co/lutfi hermansyah
Penjual janur di Pasar Tanjung Kota Mojokerto, Selasa (18/05/2021).

MOJOKERTO, Faktualnews.co – Makanan ketupat menjadi menjadi tradisi masyarakat Indonesia saat datangnya hari raya Idul Fitri.

Biasanya, makanan ketupat di sajikan pada saat lebaran ketupat yang dimulai pada hari ke delapan bulan Syawal setelah menyelesaikan puasa Syawal selama 6 hari.

ucapan idul fitri bank jatim
ucapan idul fitri kasatlantas jember
ucapan idul fitri pasuruan
ucapan idul fitri PUJ
ucapan idul fitri PUPR
Ucapan Idul Fitri RSUD Jombang
Ucapan Idul Fitri Jombang
ucapan idul fitri kapolres jombang
ucapan idul fitri dprd jember
ucapan idul fitri mundjidah
ucapan idul fitri sadarestuwati
ucapan idul fitri rsud mojokerto

Untuk menghadapi tradisi ketupat, saat ini di Pasar Tradisional Kota Mojokerto marak penjual janur sebagai bahan membuat ketupat. Namun, maraknya penjual janur membuat sebagian penjual tak lagi moncer seperti sedia kala.

Listiana misalnya, perempuan penjual janur musiman asal Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu mengaku, hasil dari jualan janur pada lebaran tahun ini (2021) turun drastis dibanding tahun lalu.

“Agak sepi, tidak kayak tahun kemarin. Banyak yang jualan ini soalnya sekarang,” ungkapnya saat ditemui di pasar Tanjung Kota Mojokerto, Selasa (18/05/2021).

Menurutnya, banyak penjual baru yang tak biasanya berjualan di pasar berdatangan. Sehingga menyebabkan antar penjual harus bersaing.

Pada tahun lalu, kata Listiani, dirinya mampu meraup keuntungan hingga Rp 2 juta dalam kuran waktu 5 hari. Sedangkan saat ini, sejak Sabtu (15/05/2021) lalu belum memenuhi target.

Harga yang ia tawarkan bervariasi, tergantung besar kecil ikatannya, mulai dari Rp. 400 ribu hingga Rp. 10 ribu.

“Kalau yang sudah berbentuk anyaman ketupat harganya Rp. 8 ribu perikat, 1 ikat isinya 7 anyaman ketupat,” katanya.

Ia menjalaskan, janur-janur yang ia didatangkan langsung dari daerah Lumajang itu, nantinya terpaksa akan dibuang jika tidak laku.

“Janur tidak bertahan lama, paling lama 5 hari sudah kering. mau tidak mau kita buang, dibilang rugi ya mau bagaimana lagi,” tandas Listiani.

Meski demikian, ia tidak kehilangan akal. Usaha jaualan janur juga membukanya di rumah. Namun dirumah dibantu dengan ibunya agar tetap bisa laku semua

“Kalau di pasar kan harganya bisa agak tinggi seperti itu. orang-orang desa kebanyakan beli janur di penjual ruamahan, harganya agak murah,” bebernya.

Jualan janur merupakan usaha musiman bagi Listiani san suaminya. Jika momen lebaran ketuapat habis, ia akan kembali ke berjualam bauh seperti sebelum hari raya.

“Biasanya saya berjualan buah disini. Jualan janur hanya musiman saja pada waktu lebaran,” terangnya.

Iklan Cukai Lamongan

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono

YUK BACA

Loading...