FaktualNews.co

Tellasan Topak Asareng Bupati Sumenep, Fauzi Ingatkan Masyarakat Waspadai Varian Baru Covid-19

Advertorial     Dibaca : 265 kali Penulis:
Tellasan Topak Asareng Bupati Sumenep, Fauzi Ingatkan Masyarakat Waspadai Varian Baru Covid-19
FaktualNews.co/Istimewa
Pelaksanaan lebaran ketupat virtual bersama Bupati Sumenep, Achmad Fauzi dan Wakil Bupati Nyai Hj. Dewi Khalifah saat acara Tellasan Topak, Kamis (21/5/2021).

SUMENEP, FaktualNews.co – Pelaksanaan Hari Raya Ketupat atau yang biasa disebut Tellasan Topak oleh warga Madura, dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, bersama para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Camat, Pemerintah Desa hingga masyarakat umum secara virtual memalui zoom meeting dan disiarkan secara langsung di YouTube channel Kominfo Sumenep, Kamis (21/5/2021).

Pelaksanaan tellasan topak virtual yang dihadiri langsung oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi dan Wakil Bupati Nyai Hj. Dewi Khalifah dijadikan momentum untuk bersilaturrahim antara Pemerintah Daerah dan masyarakat, termasuk mendengarkan masukan dari berbagai pihak untuk perbaikan kota keris.

Dalam sambutannya, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi memulai obrolan santai dengan pengantar tradisi lebaran ketupat yang biasa dilakukan masyarakat ujung timur pulau Madura, tradisi dan budaya leluhur yang digelar setiap tahun, tepatnya seminggu setelah lebaran Idul Fitri yang telah menjadi kebiasaan umut islam di Madura, Jawa hingga nusantara.

“Pelaksanaan tellasan topak atau disebut juga tellasan terater (berbagi atau memberi kepada sesama:Madura) menjadi tradisi kita warga Sumenep dan Madura bahkan Jawa dan Nusantara. Kita biasa memperingati dengan membuat ketupat lengkap dengan opor ayam untuk dihantarkan ke masjid-masjid maupun musala, warga terdekat diundang untuk menikmati santap ketupat bersama, ini cara warga Sumenep berbagi dengan sesama,” tutur Fauzi, mengawali zoom meeting.

Ketupat sebagai konsep dakwah, kata Fauzi, orang yang telah tuntas melaksanan puasa ramadan kemudian melakukan sing papat, yakni membayar zakat fitrah, membaca takbir, sholat Idulfitri dan bersilaturrahim, telah diterjemahkan sebagai konsep penyederhanaan pemahaman ajaran islam.

“Dulu waktu kita masih kecil, orang tua kita mengajak kita bersama-sama menganyam ketupat, mengisi beras dalam wadah ketupat, itu menjadi satu pembelajaran tradisi yang harus terus dilestarikan, agar di era modernisasi tradisi leluhur kita tidak terkikis, begitu cara orang tua kita mengajarkan, termasuk memasukkan pesan moral untuk terus merawat tradisi yang ada,” paparnya.

Dalam perkembangannya, lanjut Faizi, perayaan lebaran ketupat atau kupatan mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman, bahkan juga dilaksanakan di sejumlah objek wisata, menikmati hidangan khas ketupat sambil berlibur bersama keluarga.

“Seiring perkembangan zaman, perayaan tellasan topak banyak dilaksanakan di sejumlah objek wisata, baik di pantai Slopeng, Pantai Lombang maupun objek wisata lainnya, makan di sana sambil merayakan tellasan topak bersama keluarga, bahkan ada yang sampai menyewa mobil,” sebut politisi muda PDI Perjuangan Sumenep ini.

Di masa pandemi Covid-19, lebaran Idul Fitri maupun lebaran ketupat pun dirasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga Pemerintah Daerah yang secara rutin melaksanakan di sejumlah tempat wisata harus ditiadakan, karena faktor kesehatan dan upaya memutus mata rantai penyebaran virus asal wuhan China tersebut menjadi pertimbangan utama.

“Pelaksanaan tellasan topak tahun ini dirayakan secara berbeda oleh masyarakat maupun pemerintah daerah, karena aturan dan edaran-edaran yang menegaskan larangan berkerumun harus dipatuhi secara bersama-sama,” imbuhnya.

Dalam perayaan lebaran ketupat tahun ini diimbau untuk melaksanakan di rumah saja, kendati dilaksanakan di luar rumah, maka protokol kesehatan yang telah menjadi anjuran pemerintah hendaknya dipatuhi demi mengantisipasi penyebaran penularan Covid-19.

Bagi pengelola tempat wisata yang diizinkan untuk membuka wisatanya karena dinilai mampu menerapkan protokol kesehatan, maka standar prokes yang disepakati hendaknya benar-benar diperketat dengan menyediakan fasilitas cuci tangan, hand sanitizer, serta menunjuk petugas pengurai kerumunan massa.

“Itu penting agar wisatawan yang datang terpantau dan tidak berkerumun. Termasuk untuk Kepala Dinas Kesehatan saya perintahkan untuk menyediakan fasilitas pertolongan pertama seperti ambulans dan tenaga kesehatan di setiap titik tempat rekreasi yang ada di Sumenep,” pintanya.

Ihwal masih ada masyarakat yang merayakan lebaran ketupat di luar rumah baik di tempat wisata maupun lainnya, diingatkan suami Nia Kurnia untuk memperhatikan prokes, termasuk bagi para pengelola destinasi wisata guna menghindari penyebaran virus, termasuk munculnya varian baru virus tersebut.

“Beberapa kesepakatan yang telah disetujui bersama tim gugus Covid-19 harus dipatuhi bersama, sehingga penyebarannya dapat ditekan, termasuk munculkan varian baru virus ini,” tegas orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh