FaktualNews.co

Dusun Petung, Bondowoso yang Terisolasi (4/Selesai): Persembunyian Gerilyawan yang Terancam ‘Tinggal Kenangan’

Liputan Khusus     Dibaca : 75 kali Penulis:
Dusun Petung, Bondowoso yang Terisolasi (4/Selesai): Persembunyian Gerilyawan yang Terancam ‘Tinggal Kenangan’
FaktualNews.co/Deni Ahmad Wijaya
Anak-anak siswa SDN 3 Kretek bermain sepakbola di halaman sekolah saat jam istirahat, Senin (6/9/2021) lalu.

BONDOWOSO, FaktualNews.co – Dua puluhan bocah berusia antar 6 hingga 12 tahun duduk rapi di sebuah ruangan yang disekat bagian tengahnya. Ada 20 anak berseragam merah putih di ruangan itu, sementara dua bocah yang tubuhnya lebih mungil tak berseragam.

Kesemuanya merupakan total siswa kelas I-VI di SDN 3 Kretek yang berasal Dusun Petung, Desa Kretek, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso.

Dafir, Kepala SDN 3 Kretek didampingi Musappa mengajar di hari itu. Seluruh siswa diajar dalam sebuah ruangan dengan pola pembelajaran multigrade atau kelas rangkap.

“Karena jumlahnya sedikit. Jadi digabung. Sebelah kiri kelas 1-3, sedangkan kelas 4-6 ada di sebelah kanan,” tunjuk Dafir.

Musappa mengajar di SDN 3 Kretek yang dibangun sejak era Presiden Soeharto itu, 11 tahun lamanya.

“Semakin lama, jumlah siswa semakin berkurang. Puncaknya pada 2013-2014 lalu sebanyak 60 siswa. Lalu turun terus sampai sekarang jadi 20 siswa untuk 6 kelas,” sebut warga Kecamatan Wonosari ini.

Terus berkurangnya jumlah siswa itu disinyalir karena migrasi warga ke luar daerah. Baik disebabkan perkawinan dini maupun merantau.

“Karena bertahan hidup di sini sulit. Infrastruktur tidak mendukung peningkatan ekonomi warga. Ditambah, ibu-ibu banyak yang KB, semakin habis lama-lama penduduk di sini,” tuturnya.

Kusnadi adalah seorang warga yang mengaku ‘kalah’ dalam mengambil kebijakan keluarga berencana di rumah tangganya.

“Saya inginnya ya nambah anak. Karena nanti siapa yang akan bantu mengelola kebun kopi dan membantu cari madu,” ungkap pria yang menjabat sebagai Ketua RT 7 ini.

Namun, materi yang ditawarkan itu ditolak oleh sang istri. Dia kalah adu argumen.

“Akhirnya tetap pakai KB. Jadi anak masih 2 sampai sekarang,” sebutnya.

Namun, ia menghargai keputusan sang istri. Sebab, perjuangan melahirkan di dusun petung berat.

“Warga yang mau melahirkan harus ditandu jalan kaki turun gunung berjam-jam agar sampai di Polindes,” ungkap Kusnadi.

Jalur berupa bebatuan terjal dan tepian jurang yang curam dihindari warga sebagai akses utama membawa warganya yang sakit.

“Daripada naik motor, kepleset, malah bisa masuk jurang. Jadi jalan kaki lebih aman. Karena bergantian. Per angkut tenaga 4 orang,” paparnya.

PJ Kepala Desa Kretek Rachmad Haryono membenarkan kondisi tersebut, Selasa (7/9/2021) malam.

Meskipun ia adalah warga Desa Pejaten, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, namun dia memiliki riwayat keturunan warga Desa Kretek.

“Mbah buyut saya warga Dusun Kemuning, Desa Kretek. Bahkan, beliau dinobatkan sebagai veteran perang karena jasanya menyediakan logistik bagi pejuang yang sembunyi di gunung putri,” kisah Haryono.

dusun petung bondowoso yang terisolasi

Ibu-ibu menunggu anaknya yang sedang belajar di dalam kelas di SDN 3 Kretek, Senin (6/9/2021). (FaktualNews/Deni Ahmad Wijaya)

Persembunyian gerilyawan di masa penjajahan

Dusun Petung berada di puncak Gunung Putri. Konon, warga di dusun petung ialah keturunan langsung para gerilyawan di zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda.

“Dusun Petung itu tempat sembunyi para pejuang. Mbah buyut saya diam-diam mengirimkan sembako ke atas. Malam harinya, para pejuang itu turun untuk perang. Saat sembunyi, mereka naik gunung lagi,” bebernya.

Nah, tempat persembunyian itu kemudian dijadikan padukuhan kecil. Hingga ketika Indonesia merdeka, para pejuang yang sudah nyaman tinggal di atas gunung memilih menetap di sana.

“Itulah kenapa di RT 7 dan 8 tempatnya terisolasi di atas gunung dan perlu perjuangan ekstra untuk sampai ke sana. Jauhnya mungkin 4-7 kilometer dari pemukiman warga di kemuning,” kata pria 43 tahun ini.

Berdasar data, jumlah penduduk di Desa Kretek sebanyak 1.836 jiwa dengan 716 kepala keluarga (KK).

“Dari jumlah itu, 226 jiwa merupakan warga dusun Petung dengan KK masing-masing di RT 7 sebanyak 29 KK dan RT 8 sebanyak 59 KK,” tuturnya.

Pemdes telah berupaya membangun infrastruktur bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran. Kendati, dengan topografi sedemikian ekstrem, maka pembangunan diakui tidak maksimal.

“Sudah dibangun makadam, rabat dan paving. Tapi memang sedikit-sedikit karena gak mampu dari jumlah anggaran pembangunan,” tutur PJ Kades yang menjabat sejak Juni 2021 tersebut.

Diakui bahwa infrastruktur yang buruk menjadi kendala dalam pelayanan masyarakat. Ia mencontohkan dengan penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD).

“Kita tawarkan warga di sana bisa turun ke kantor desa tidak. Kalau tidak bisa, maka perwakilan perangkat yang jemput bola naik ke Petung,” ucapnya.

Bekas persembunyian yang tetap sunyi

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Bondowoso Agus Suwardjito mengakui pembangunan infrastruktur juga berdampak pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan program KB.

“Seperti yang disampaikan tadi bahwa warga di sana mau melahirkan saja sulit untuk akses fasilitas kesehatannya. Jadi otomatis menunda kehamilan,” ungkap Agus, Rabu (8/9/2021).

Tapi, pihaknya mendukung antusias masyarakat dengan penundaan kehamilan jika memang telah dikaruniai dua anak. Hal itu sesuai dengan program KB yakni dua anak lebih baik.

“Memang bisa saja alasannya untuk membantu bekerja orang tuanya memanfaatkan lahan. Tapi harus bijak, hitung dulu pendapatan per kapita berapa. Toh, secara akumulatif nanti jumlah penduduk di sana mempengaruhi data global kabupaten,” terangnya.

Kendati demikian, ia sependapat jika infrastruktur layak harus menjadi prioritas dari pemerintah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Pasti nanti dihitung terkait potensi wilayah. Di sana apa kira-kira yang bisa digali dan dikelola maksimal, sehingga perlu perbaikan akses. Andaipun tidak ada potensi, setidaknya tidak harus dibangun jalan mulus, tapi infrastruktur layak,” tegasnya.

Sebab, infrastruktur berpengaruh pada mudahnya akses kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Semakin buruk kualitas akses jalan, maka migrasi penduduk keluar dari wilayah semakin tinggi.

“Jika masih tidak berubah (tidak ada perbaikan infrastruktur), bisa saja suatu saat nanti di sana tidak berpenghuni lagi dan tinggal kisahnya saja,” ucapnya. (Deni)

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh