FaktualNews.co

Derita Tiga Yatim Bersaudara di Nganjuk Memasak Seadanya Memprihatinkan

Peristiwa     Dibaca : 992 kali Penulis:
Derita Tiga Yatim Bersaudara di Nganjuk Memasak Seadanya Memprihatinkan
FaktualNews.co/Romza//
Tiga bocah yatim bersaudara di Nganjuk sedang memasak.

NGANJUK, FaktualNews.co – Nasib memprihatinkan dialami tiga yatim beraudara di Nganjuk. Betapa tiga bocah bersaudara yang tinggal di RT 04 RW 05, Dusun Batu, Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, rutin memasak makanan seadanya setiap hari.

Tiga bersaudara itu di antaranya adalah, Nabila Lintang Nurwiyana (15), Neila Nur Cahyani (13) dan Muhammad Rizki Nur Wijaya (10). Meraka adalah cucu dari Sukasih (55) atau Mbah Kasih yang kini juga menderita sakit.

Mereka biasa memasak nasi dan lauk seadanya. Hal itu dilakukan guna membantu Mbah Kasih yang punya kelainan di perut sejak tahun 2020 lalu. Aktifitas Mbah Kasih kini terbatas, untuk memasak dipasrahkan kepada kedua cucu perempuanya.

Pada tahun 2012, Mujiati atau ibu dari tiga cucu Mbah Kasih ini wafat gegara sesak nafas. Istri dari Heri Nurwiyanto (42) itu, meninggalkan tiga anak yang masih kecil-kecil saat itu. Yakni dua anak perempuan dan seorang laki-laki.

Sementara Heri Nurwiyanto kini menikah lagi dengan perempuan asal Surabaya dan tinggal di Suabaya.

Ketiga anak yatim itu kini mengenyam pendidikan di bangku SD hingga SMA. Nabila Lintang Nurwiyana  kelas X di SMAN 1 Pace. Neila Nur Cahyani kelas VIII di SMPN 1 Pace. Sementara Muhammad Rizki Nur Wijaya kelas V di SDN 3 Joho.

Selama sembilan tahun menjalani kehidupan sehari-hari, mereka sering dibantu warga sekitar. “Kadang-kadang ada orang yang peduli, memberi uang saku, “kata Mbah Kasih kepada FaktualNews.co, Jumat (8/10/2021) lalu.

Ketiga cucu, menurutnya, sering membantu aktifitas di rumah. Mulai memasak, membersihkan rumah dan mencuci baju. Karena perutnya semakin besar itu sulit dibuat beraktifitas. Perutnya, terasa mengganjal dan terdengar suara air saat tidur.

Untuk makan sehari-hari, mereka biasa memasak makanan yang sederhana. Terkadang, juga diberi bantuan oleh tetangga sekitar. “Makan seadanya, kadang sama sambel kecap saja,”ungkapnya.

Sementara itu, cucu kedua, Neila Nur Cahyani mengatakan, dalam serumah ini belum ada yang bekerja. Kakaknya,  masih sekolah tingkat SMA kelas X. Apalagi sang adik, masih kelas V SD. Untuk nenek, sudah tidak banyak aktifitas di rumah.

Neila tak ingin bermain-main di luar rumah. Sepulang sekolah, Neila, Lintang dan Rizki langsung bersih-bersih rumah dan memasak. Beras yang mereka masak, merupakan bantuan dari warga dan orang yang peduli.

Bahkan, mereka pernah memasak beras hasil memungut atau ‘ngasak’ di sawah petani.

“Ya biasanya kalau ada asakan (memungut sisa padi, red) dikabari tetangga,” kata Neila yang suka pelajaran IPA dan Bahasa Indonesia ini.

Hal ini sudah lama dijalani. Juga demikian, dalam hal keuangan. Mereka menerima bantuan dari warga setempat. Bila tidak, ia bersama kakak dan adik menunggu sang ayah.

“Ya kalau tidak punya uang ya menunggu, kiriman dari ayah,”ungkapnya.eila.

Sejak pandemi, uang sang ayahnya itu sudah lama belum dikirim. Neila yang rindu, mencatat setiap tanggal kiriman. Jumlah kiriman pun sebesar Rp 300 sampai Rp 400 ribu, biasanya digunakan dalam waktu tiga sampai empat bulan.

Uang kiriman itu tidak dibuat untuk jajan. Uang digunkan dengan baik. Dalam hal memasak pun, mereka tidak gunakan kompor dan tabung gas. Hingga saat ini, memasak beras dan lauk ini pakai kayu bakar.

Kesempatan bermain, tidak dinikmati seperti anak se-usianya. Tidak ada sepeda dirumah, adapun satu sepedah, tapi sudah rusak. Ia tidak berani menelphon sang ayah, karena pengertianya bahwa sang ayah sedang bekerja keras di Surabaya.

Sementara itu, cucu pertama, Lintang mengatakan, memasak beras dan lauk seadanya ini sering dilakukan. Hal ini semakin membuat diri lebih sabar. Pengertian ke nenek, semakin besar.

Untuk rutinitas sepulang sekolah, ia selalu memasak nasi. Ia tak ingin beli jajanan. Terlebih, hal itu karena untuk hemat uang saku. Bersih-bersih, juga turut dilakukan. Karena pada saar sore hari, waktunya digunakan mengaji dan waktu malam digunakan belajar.

“Nggih, kadang menggantikan posisi sebagai kepala keluarga, ngurus adik-adike, mengerti kalih mbah e,” kata Lintang lirih.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Nurul Yaqin