FaktualNews.co

‘Ngaji Roso’ di Petilasan Mbah Klomprodjoyo Dukuh Menanggal Surabaya

Religi     Dibaca : 250 kali Penulis:
‘Ngaji Roso’ di Petilasan Mbah Klomprodjoyo Dukuh Menanggal Surabaya
FaktualNews.co/Mokhamad Dofir/
oto. Seorang pengunjung tengah ngaji roso di Petilasan Mbah Klomprodjoyo Dukuh Menanggal Kota Surabaya, Sabtu (16/10/2021).

SURABAYA, FaktualNews.co – Banyak cara ditempuh masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dari segi spiritual, salah satu cara dengan ‘ngaji roso’ alias mengaji rasa. Yakni aktivitas perenungan diri guna mengetahui setiap gejolak dalam batin.

Biasanya, ngaji roso dilakukan masyarakat dengan bersemedi atau zikir di makam keramat hingga petilasan.

Seperti yang dilakukan Miftahul Hidayah (32), pria asal Kabupaten Sumenep, Madura. Ia mengaku gemar ngaji roso di Petilasan Mbah Buyut Klomprodjoyo yang terletak di Kelurahan Dukuh Menanggal, Kota Surabaya.

“Aku kesini untuk ngaji roso. Menyelami arti hidup, mencari jati diri dan menenangkan diri berusaha mencari jalan keluar dari segala persoalan yang dihadapi,” ujarnya, Sabtu (16/10/2021).

Ia mengatakan, dengan mengunjungi Petilasan Mbah Klomprodjoyo, kemudian bersemedi sambil berzikir serta membaca ayat-ayat suci Al Quran, menjadikan hidupnya lebih terasa tenang.

Dia mengaku, jauh lebih mengenal dirinya ketika mengaji rasa di sana. Sehingga tenang ketika berhadapan dengan beragam masalah kehidupan. Berbeda saat berada di tempat lain.

“Kalau aku di kosan, di Perak (Surabaya) itu kayak gimana ya. Bawaannya ingin kesini (petilasan) terus,” akunya.

Kepada media ini Miftah lalu bercerita, jika dirinya belakangan sedang dirundung masalah. Mulai dari urusan pekerjaan sewaktu di kampung halaman hingga persoalan keuangan di perantauan. Yang menurutnya, hal tersebut sangat membebani pikiran sampai membuatnya menjadi pribadi yang tak terkendali. Saking beratnya, ia bahkan mengaku pernah mencoba mengakhiri hidup.

“Sampai pernah kepikiran kesitu (bunuh diri),” ucapnya.

Beruntung, tindakan itu tak jadi ia lakukan karena lebih dulu mengenal Petilasan Mbah Klomprodjoyo sebagai tempat ngaji roso untuk bermeditasi menenangkan diri.

“Disini adem, tenang,” singkat mantan bankir ini.

Miftah menyampaikan, ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke Petilasan Mbah Klomprodjoyo dikala senggang. Baik sendirian maupun bersama komunitas yang dia ikuti untuk sekedar bermeditasi atau melakukan ritual keagamaan.

“Sering kesini. Tadi datang pukul 07.00 WIB, mandi kemudian meditasi. Ngaji roso di sini,” tuturnya.

Ditemui terpisah, Mbah Os selaku perawat petilasan mengatakan, Petilasan Mbah Klomprodjoyo dulunya merupakan tempat tinggal Mbah Klomprodjoyo yang memiliki nama asli Syekh Syauqi bin Abdurrohman, seorang tokoh babat alas Desa Dukuh Menanggal (sekarang kelurahan) sekaligus pesiar agama Islam asal Yaman.

“Beliau ini sahabat karib Sunan Ampel,” ucapnya.

Jika berniat mengunjungi tempat itu, pengunjung harus melalui Jalan Raya Taman Indah lalu belok kiri memasuki Jalan Bambe Dukuh Menanggal Surabaya. Beberapa meter usai memasuki jalan tersebut, pengunjung akan melihat gedung Tanah Lapangan Olah Raga milik Yayasan Nanggala, letaknya di sebelah timur jalan.

Di halaman gedung itulah sebaiknya kendaraan diparkir, lalu pengunjung bakal diarahkan untuk berjalan kaki karena akan menyusuri jalan setapak diatas tanggul sungai.

Setelah itu pengunjung akan menjumpai sebuah pagar besi. Di balik pagar besi terdapat lorong menuju Petilasan Mbah Klomprodjoyo berada. Sebenarnya lokasi petilasan berada di dalam area IKIP PGRI Adi Buana Surabaya, namun kebanyakan para tamu sering memilih jalan setapak ketimbang lewat pintu utama kampus.

Sebelum benar-benar sampai, aroma dupa maupun minyak wangi khas ziarah menguar menyapa kedatangan pengunjung.

Di sekitar petilasan terdapat bangunan sanggar seluas 5×5 meter persegi yang dilengkapi kamar mandi. Sanggar ini menghadap ke arah barat. Di atas petilasan pengunjung disuguhkan beragam hiasan berupa dua buah payung keraton, bangunan pembatas seperti makam hingga seonggok batu kali.

Batu kali ini adalah replika dari batu asli yang hilang. Konon, batu yang asli berwarna hitam pekat menyerupai hajar aswad, sebagai tanda tempat berdiam Mbah Klomprodjoyo. Kemudian di sebelahnya, tumbuh pohon kepuh yang memiliki batang dengan diameter 20 sentimeter.

“Dulu disini pohon kepuh sangat besar batangnya, namun ditebang dan diganti cangkokan,” tutup Mbah Os.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Mufid