Sains

Ungkap Awal Kehidupan di Bumi, Batu Rubi Tertua di Dunia

JAKARTA, FaktualNews.co – Saat menganalisis beberapa batu permata berwarna tertua di dunia. Para peneliti dari University of Waterloo, Kanada, menemukan residu karbon yang dulunya merupakan kehidupan purba, terbungkus dalam batu rubi berusia 2,5 miliar tahun.

Tim peneliti, yang dipimpin Chris Yakymchuk, profesor Ilmu Bumi dan Lingkungan di Waterloo, berangkat untuk mempelajari geologi batu rubi tersebut untuk lebih memahami kondisi yang diperlukan dalam pembentukan batu rubi.

Selama penelitian di Greenland, yang mempelajari deposit batu rubi tertua di dunia. Tim menemukan sampel batu rubi yang mengandung grafit, mineral yang terbuat dari karbon murni. Analisis karbon ini menunjukkan bahwa itu adalah sisa dari kehidupan awal bumi.

“Grafit di dalam batu rubi ini benar-benar unik. Ini pertama kalinya kami melihat bukti kehidupan purba di batu rubi,” kata Yakymchuk seperti dikutip dari Terra Daily seperti dilihat, Jumat (29/10/2021).

“Kehadiran grafit juga memberi kita lebih banyak petunjuk untuk menentukan bagaimana batu rubi terbentuk di lokasi ini, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan secara langsung berdasarkan warna dan komposisi kimia batu rubi,” sambungnya.

Kehadiran grafit memungkinkan para peneliti untuk menganalisis properti yang disebut komposisi isotop atom karbon, yang mengukur jumlah relatif atom karbon yang berbeda. Lebih dari 98% dari semua atom karbon memiliki massa 12 satuan massa atom, tetapi beberapa atom karbon lebih berat, dengan massa 13 atau 14 satuan massa atom.

“Materi hidup secara istimewa terdiri dari atom karbon yang lebih ringan karena mereka membutuhkan lebih sedikit energi untuk dimasukkan ke dalam sel,” ujar Yakymchuk.

“Berdasarkan peningkatan jumlah karbon-12 dalam grafit ini, kami menyimpulkan bahwa atom karbon tersebut pernah hidup di zaman purba,” sambungnya.

Grafit ini ditemukan di bebatuan berusia lebih dari 2,5 miliar tahun yang lalu, saat di planet ini belum melimpah oksigen di atmosfer, dan kehidupan hanya ada dalam mikroorganisme dan lapisan alga.

Selama penelitian ini, tim Yakymchuk menemukan bahwa grafit ini tidak hanya menghubungkan batu permata dengan kehidupan kuno. Tetapi juga mengubah kimia batuan di sekitarnya untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan batu rubi. Tanpa itu, pemodelan tim menunjukkan tidak mungkin ada batu rubi terbentuk di lokasi ini.