Sosial Budaya

Pemerhati Budaya Soroti Wayang Topeng Khas Jombang pada Ornamen Jalur Pedestrian

JOMBANG, FaktualNews.co – Perwujudan wayang topeng khas Jombang/Jombangan sebagai ornamen pada proyek jalur pedestrian di Jalan KH Wahid Hasyim mendapatkan sorotan dari pemerhati budaya dan sejarah setempat.

Seperti diungkapkan Dian Sukarno, dalam sebuah unggahan pada salah satu akun media sosial, memperlihatkan 3 wayang topeng berjejer dengan menyuarakan sebuah pandangan berdasarkan pengalaman, serta membandingkan dengan daerah lain.

“Mungkin maksudnya mengangkat wayang topeng Jatiduwur sebagai kekayaan budaya tak benda Kabupaten Jombang. Cuma tak seindah harapan. Saya bayangkan replika topeng berukuran jumbo seperti di Solo dengan tokoh utama Prabu Klonojoko, Raden Panji, dan Dewi Kemudaningrat,” tulis Dian beberapa waktu lalu di akun facebooknya.

Kemudian, Dian juga mempertanyakan maksud pemilihan tokoh yang telah dipasang sebagai ornamen pada jalur pedestrian di Jalan KH Wahid Hasyim tersebut.

“Sedangkan yang dipasang ini adalah topeng cantrik dan buta terong. Maksudnya gimana? Buta terong adalah bala kiwa (antagonis) diapit tokoh cantrik (murid) dan panakawan,” lanjutnya.

Terkait dengan kemiripan atau kesesuaian penggambaran pada wujud topeng tersebut, menurut Dian jauh dari kemiripan aslinya.

“Mbreset (tidak sesuai) jauh, bahkan netizen banyak yang menganggap tempat sampah karakter,” ujarnya, Sabtu (27/11/2021).

Sementara itu, pemerhati budaya dan sejarah, Nasrul Illah atau biasa dikenal dengan Cak Nas mendukung upaya Pemerintah setempat dengan menempatkan perwujudan wayang topeng Jombangan, hanya saja beberapa hal menjadi pertanyaan.

“Menurut saya itu upaya bagus. Cuma topengnya asal comot atau bagaimana monggo tanya pada penggagas. Sebaiknya ditanya yang punya konsep, jangan-jangan mereka punya dasar yang tidak saya ketahui,” katanya.

Lebih jauh, Cak Nas menerangkan beberapa akar topeng yang ada di Jombang, yakni wayang topeng Jatiduwur, topeng sandur manduro, topeng pada jidor sentulan, topeng jaranan (dor dan samboyo).

“Topeng Jatiduwur dan Sandur Manduro dari Budaya Panji, sedang topeng jidor dan topeng jaranan dari Budaya Panaragan,”lanjutnya.

Cak Nas juga mengungkapkan sebuah saran dan masukan, jika ingin menampilkan kesesuain dengan karakter asli maka harus dilakukan penggantian dengan kajian yang tepat.

“Seharusnya diganti, karena tidak sesuai dengan aslinya. Kabare mundut dari Wayang Topeng Jatiduwur, tapi tanpa kajian yang layak, sehingga pilihan tokoh, proporsi, dan karakternya mbreset semua. Yang mengerti menjadi malu, yang tidak mengerti menjadi gagal paham, dan kasihan stakeholders goverment, pemangku kepentingan, yang biayai,” ungkap Cak Nas memungkasi.

Ornamen dengan perwujudan wayang topeng Jombangan dapat ditemui disepanjang jalur pedestrian Jalan KH Wahid Hasyim, tepat pada seksi setelah traffic light disamping RSUD Jombang hingga berbatasan pada seksi berikutnya yakni traffic light setelah Kantor Disnakertrans Jombang.