FaktualNews.co

Cerita Pria Lansia Penjaga Situs Duplang di Jember Selama 35 Tahun

Sosial Budaya     Dibaca : 510 kali Penulis:
Cerita Pria Lansia Penjaga Situs Duplang di Jember Selama 35 Tahun
FaktualNews.co/hatta
Abdurahim (84) Juru Pelihara Situs Duplang di Jember.

JEMBER, FaktualNews.co – Situs Duplang merupakan lokasi Cagar Budaya yang di dalamnya terdapat puluhan batu kenong, kubur batu, hingga batu menhir.

Tercatat ada kurang lebih 43 batu yang tersusun rapi dari zaman megalitikum, yang berada di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Jember.

Untuk menuju ke lokasi Situs Duplang, berjarak kurang lebih 12 km dari pusat kota. Untuk menuju ke sana bisa ditempuh dengan mengendarai motor, mobil, ataupun angkutan umum.

Situs Duplang dijaga dan dirawat Juru Pelihara (Jupel) Abdurahim, yang kini berusia sekitar 84 tahun.

Pria warga desa setempat itu, mengaku sudah 35 tahun merawat dan menjaga Situs Duplang. Pria kelahiran tahun 1937 ini adalah generasi ketiga, yang bertugas merawat lokasi situs tempat batu-batuan dari zaman praserjarah itu.

“Saya menjaga Situs Duplang ini, dan bekerja sebagai Juru Pelihara (Jupel). Sebagai tugas lanjutan generasi ketiga setelah ayah dan kakek saya,” kata pria yang akrab dipanggil Pak Dur ini, Kamis (30/12/2021).

Ia mengatakan ada kurang lebih 43 batu yang dirawat dan dijaga. Kebetulan lokasi situs itu berada dekat tempat tinggal Pak Dur selama 3 generasi.

“Dulu serambi saya di sana (sembari menunjuk lokasi jalanan berpaving), kemudian pindah kurang lebih berjarak 3 meter dari lokasi kumpulan Situs Duplang,” katanya.

“Saya menjaga Situs Duplang ini, karena sejak zaman kakek saya, memang tinggal di sini. Kemudian ditemukan di dekat rumah saya tumpukan batu menhir dan batu kenong itu. Batu-batu itu memiliki nilai sejarah sejak jaman Prasejarah dari nenek moyang dulu. Di sini cikal bakal peradaban zaman prasejarah,” sambungnya.

Batu kenong, batu Menhir, kata Pak Dur, merupakan tempat pemujaan di Zaman Megalitikum dan juga merupakan kuburan batu zaman prasejarah.

Pak Dur juga menceritakan asal mula dirinya ditunjuk secara resmi sebagai petugas honorer Jupel di Situs Duplang.

“Saya ditunjuk sebagai Jupel secara resmi oleh almarhum Kades Pak Ahdar. Tujuannya menjaga Situs Duplang ini. Karena barang-barang dari zaman prasejarah ini khawatir dicuri, yang akan menghilangkan sejarah dari zaman prasejarah di Desa Kamal,” ungkapnya.

Pak Dur mengaku bertugas menjadi Jupel sejak tahun 1985, dengan SK resmi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Kemudian, tambahnya, SK diperbaharui sekitar tahun 1990, dengan status dirinya sebagai tenaga sukarelawan alias sukwan alias honorer.

Tugas yang dilakukan Pak Dur sebagai Jupel itu, jelasnya, adalah melaporkan soal jumlah batu-batu Kenong dan Menhir yang ada di Situs Duplang.

“Lapornya ke Surabaya (Dinas Pariwisata Provinsi Jatim), dan ke BPCB Jatim. Juga menjaga kelestarian dan keamanan dari Situs Duplang itu. Sekarang saya juga ditunjuk sebagai petugas di Kantor Koleksi Disparbud Jember, sebagai bagian menjaga Situs Duplang ini,” katanya.

“Saya menjaga sendirian, dan bertugas sejak itu. Dengan honor per bulan saat itu saya terima Rp 50 ribu. Honor itu keluarnya tiap 3 bulan sekali. Sekarang menjadi Rp 1,75 juta per bulan,” sambungnya.

Namun karena faktor usia, kini tugas pelaporan ke Surabaya ataupun ke BPCB Jatim di Trowulan, Mojokerto diteruskan oleh anaknya.

“Karena nantinya ke depan, terkait tugas saya itu sebagai Jupel akan diteruskan oleh anak keturunan saya. Sekarang anak saya yang bekerja di tingkat provinsi menggantikan saya,” ucapnya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono Abdillah