FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Viral, Kades di Jombang Dituduh Tolak Jenazah Warganya yang Meninggal di Griya Lansia Malang

Peristiwa     Dibaca : 500 kali Penulis:
Viral, Kades di Jombang Dituduh Tolak Jenazah Warganya yang Meninggal di Griya Lansia Malang
FaktualNews.co/diana kusuma negara
Cuplikan ungkapan status yang diduga berasal dari sebuah yayasan lansia di Malang.

JOMBANG, FaktualNews.co – Viral di media sosial (medsos) facebook (FB) sebuah ungkapan status yang menyebut Kepala Desa (Kades) Jatirejo, Kecamatan Diwek, Jombang menolak jenazah seorang warganya yang meninggal saat dirawat di Griya Lansia Husnul Khatimah Malang, Minggu (2/1/2022).

Melalui sebuah status yang mengatasnamakan Ketua Yayasan Griya Lansia, Arief Camra membeberkan ungkapan yang dialaminya saat Sumiati warga Jatirejo meninggal dunia, sebagai berikut.

KADES TOLAK JENAZAH WARGANYA.

Belum kering makam mbah Tatik, hari ini ada susulan: meninggal dunia lagi, bu Sumiati, santri kami dari Jatirejo, Diwek, Jombang.
Tadi siang almarhumah Bu Tatik diterima lurah Gadang dengan terbuka dan dimakamkan di pemakaman desa setempat bersama warga.
***

Lain halnya dengan Almarhumah bu Sumiati, melalui percakapan telepon, kami (saya mewakili Griya Lansia, sebagai ketua yayasan) kontak dengan sekdes Jatirejo. Namun, berdasar keterangan beliau, Kades enggan menerima jenazah dengan berbagai alasan. (Simak video percakapan dengan lengkap).
Kami Griya Lansia sungguh sedih dan menyayangkan; kenapa warga asli sana kok gak bisa dikirim kesana jenazahnya. Apakah terlalu merepotkan?

Padahal bu Sumiati semasa hidup ingin dimakamkan di kampung halaman, Jatirejo, Diwek, Jombang.
Kemudian; kalau saya cek dokumen pengantaran lansia saat itu, Kepala Desa Jatirejo; Bu Arifah, S.Sos, __juga setuju saat itu, beliau menandatangani surat bahwa jika meninggal dunia jenazah lansia bisa dikirim ke Jatirejo. Surat ditandatangani tgl 18 November 2021. (Dokumen surat ada di video).
Kami sedih sekaligus kecewa, kenapa Kades gak punya empati dan simpati? Beliau menyampaikan penolakan melalui sekdesnya.

***
Semoga semua bisa memetik pelajaran, khususnya pemangku desa dimana saja. Bahwa setiap warga punya Hak Terakhir untuk dimakamkan secara layak dimana ia dilahirkan, dan itu tugas melekat kepala desa.
Selamat jalan bu Sumiati, semoga jalanmu lapang dan Husnul Khatimah.
Demikian,
Arief Camra
Ketua Yayasan Griya Lansia
Husnul Khatimah Malang.

Akun Arief Camra juga menambahkan sebuah video yang memperlihatkan kondisi Sumiati saat dirawat di yayasan tersebut, termasuk saat pengurusan jenazahnya berikut percakapan melalui telepon dengan sekretaris desa setempat, hingga akhirnya persemayaman dilakukan di pemakaman umun wilayah Malang.

Terkait tudingan tersebut, Sekretaris Desa Jatirejo, Gunawan yang dirinya telah terekam suaranya saat dihubungi pihak yayasan menyampaikan klarifikasi, dan mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut bersama Kepala Desa setempat.

“Tentunya kami akan segera melakukan koordinasi terus dengan Kepala Desa sebagai pengambil kebijakan, namun memang benar itu warga kami yang meninggal tadi sore (2/1/2022) sekitar 16.50 WIB yang kami terima kabarnya, dan kami juga butuh klarifikasi,” katanya dihubungi melalui telpon seluler, Minggu malam (2/1/2022).

Gunawan mengatakan, sebelumnya pihaknya pernah mendapat penawaran mengenai pemakaman warga yang masuk di yayasan lansia tersebut, karena pertimbangan kondisi Sumiati yang sebatang kara, diputuskan meminta untuk dimakamkan di Malang.

“Memang waktu itu sebagai prosedur administrasi, sewaktu-waktu kan orang pasti meninggal, memang format dari sana ditanda tangani Kepala Desa. Namun kenyataannya saat ini yang ketempatan juga ada kendala keuangan,” jelasnya.

Sumiati yang sekitar 1,5 bulan lalu diantar ke yayasan lansia di Malang tersebut menurut Gunawan tidak lagi mempunyai rumah ataupun keluarga, karena tidak mempunyai anak kandung.

“Dapat kabar meninggalnya Bu Sumiati, kami langsung koordinasi dengan yang ketempatan, namanya Pak Supri. Nah ini tetangganya karena almarhumah sudah tidak punya siapa-siapa. Rumahnya juga sudah dijual, punya anak tiri tapi tidak di desa kami. Bahkan saat diantar ke yayasan juga tidak mau ikut ngantar,” terangnya.

Dengan dasar itulah, pihaknya meminta agar pemakaman dilakukan di Malang dengan biaya pemakaman yang dibantu dari desa.

“Memang dari sana untuk pengurusan jenazah sekitar Rp 3 juta, tapi ngapunten pihak kami hanya bisa bantu Rp 2 juta dan kami transfer pukul 17.12 WIB,” ujarnya.

Atas hal tersebut, Gunawan mengungkapkan kebingungannya karena yang diduga menjadi pihak yayasan tersebut membeberkannya melalui media sosial. “Terkait kejadian ini kami juga bingung,” ujarnya memungkasi.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono