Peristiwa

Proyek Kota Kumuh di Kota Probolinggo Menyisakan Masalah

PROBOLINGGO, FaktualNews.co – Proyek drainase di Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, menyisakan persoalan.

Proyek yang didanai World Bank Rp14 miliar tersebut menimbulkan masalah baru, yakni genangan air, terutama saat hujan turun.

Air hujan masuk ke rumah warga, utamanya di lingkungan RT 6 RW 1 dan RT 7 RW 1 jalan Ikan Tongkol, kelurahan setempat.

Penyebabnya, air hujan tidak masuk ke drainase sistem tertutup, lantaran lubangnya terlalu kecil. Sedangkan di RT 6 RW 1 saluran pembuangan l lebih tinggi dibanding saluran dari rumah warga.

Akibatnya, air tidak jalan bahkan cenderung balik atau kembali sehingga menggenangi halaman dan rumah warga, terutama saat musim penghujan.

Kondisi tersebut terungkap, saat pertemuan di aula Kantor Kelurahan Mayangan, Senin (03/01/22). Hadir dalam pertemuan tersebut, dari Dinas PUPR, kontraktor, rekanan pengawas, serta warga dan anggota Fraksi PKB DPRD Kota Probolinggo, Syaifuddin.

Acara difasilitasi kelurahan berlnagsung tegang dan cukup lama, sekitar dua jam.

Usai pertemuan Syaifuddin mengatakan, kehadirannya karena diundang. Ia sempat bersitegang dengan Kholik, Kabid Pemukiman pada Dinas PUPR setempat, karena pembangunan tidak sesuai perencanaan.

Bahkan, drainase yang ada dan fungsinya amat penting, tidak diperbaiki. Justru membuat drainase baru yang lewat diatas jalan warga. Leveling atau kedalamannya pun lebih rendah dibanding saluran pembuangan.

Dampaknya, air meluap dan menggenangi pemukiman warga, terutama saat hujan. Selain itu, rumah yang berada di kanan-kiri galian, retak.

Syafiudin mengaku kecewa dengan proyek program Kotaku (Kota Kumuh) tersebut. “Proyek ini tujuannya menjadikan lingkungan kumuh menjadi bersih. Lha kok bertambah kumuh. Proyek ini menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Menurutnya, proyek tanpa papan nama tersebut memberi pekerjaan baru. Warga yang tidak ingin rumahnya kemasukan air, terpaksa meninggikan pintu masuk ke halamannya dengan batu bata dengan semen.

“Kalau tidak ditinggikan, setiap turun hujan, kita kedatangan tamu. Tamunya ya air. Rumah saya juga kemasukan air. Saya punya bukti videonya. Kalau kontraktornya enak. Selesai proyek, pulang. Kami ini yang soro (sengasara) menanggung dan menikmati dampaknya,” tambah Syaifuddin.

Menurutnya, sebenarnya permasalahan itu selesai jika pihak kontraktor membersihkan dan mengeruk saluran yang tembus ke laut.

Namun saluran pembuangan yang menembus Jalur Lingkar Utara (JLU) tersebut dibiarkan. “Ya, air tidak jalan, bahkan balik ke selatan. Laut surut pun air menggenangi rumah warga, apalagi kalau laut pasang,” pungkas anggota DPRD Dapil III Mayangan tersebut.

Bambang, pengawas proyek mengatakan, pertemuan di Aula Kantor Kelurahan itu untuk mencari solusi. Mengenai lokasi proyek yang dikatakan berubah-ubah, dia membantah.

“Enggak, kami menggarap proyek, sesuai bestek. Kalaupun ada perubahan, kita buat berita acara. Pertemuan ini untuk mencari solusi, bagaimana enaknya,” katanya singkat.