Kesehatan

Omicron Lebih Sulit Terdeteksi Diagnostik RT-PCR

Talk Show RSPAL Ramelan Surabaya di HUT Ke-48 PPNI

SURABAYA, FaktualNews.co – Ada yang menarik pada kegiatan pengabdian masyarakat sebagai puncak acara HUT ke-48 Perawat Indonesia yang diadakan Dewan Pengurus Wilaya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPW PPNI) Jatim, Kamis (17/3/2022).

Salah satu Dewan Pengurus Komisariat (DPK) RSPAL Dr Ramelan Surabaya mengadakan kegiatan talkshow dengan auidens sekitar 100 pasien rumah sakit pusat Angkatan Laut tersebut.

Kegiatan ini tak lazim karena biasanya audiens adalah orang sehat pengunjung rawat jalan. Peserta yg sebagian besar dihadiri oleh pasien onkologi, penuh semangat mengikuti jalannya talk show.

Hal ini terlihat banyak audiens yang bertanya. Selain talk show tentang Prokes dan Vaksinasi di era varian baru Omicron juga dilaksanakan vaksinasi sebagai bentuk pengabdian masyarakat di HUT PPNI ke 48.

Sebagai narasumber tunggal dihadirkan dr Zainal Arifin Sp.PK, dokter spesialis patologi klinik RSPAL Dr Ramelan.

Disampaikan dr Zainal, sejak 11 Februari 2020, ada jenis virus baru yang oleh WHO diberi nama Sars-Cov-2 yang bisa menyebabkan penyakit Corona Virus Disease 2019 (Karena awal mulai muncul penyakit tersebut tahun 2019 di Cina).

Di Indonesia kasus Covid-19 pertama kali ditemukan pada 2 Maret 2020. Virus Sar-Cov-2 ini sifatnya sangat mudah bermutasi dan saat ini terdapat varian baru dari Covid-19 yaitu varian B.1.1.529 yang diberi nama Omicron.

Mutasi dari varian ini terdapat pada bagian Spike dari virus sehingga menimbulkan kegagalan untuk diagnostik dengan alat tes antigen yang sudah ada. Artinya tidak bisa terdeteksi dengan alat diagnostic RT-PCR yang sudah ada saat ini.

Ilmuwan Cina, Chi Wai dkk, mengatakan varian Omicron memiliki kemampuan bereplikasi sebesar 70 kali lipat lebih cepat pada sel saluran napas dibandingkan varian Delta.

Namun varian Omicron bereplikasi 10 kali lebih lambat dibanding varian Delta pada sel parenchim paru, sehingga tingkat keparahan gejala kliniknya lebih ringan dari pada akibat virus Delta.

Gejala yang timbul akibat Omicron biasanya demam, batuk,badan lemas nyeri tenggorokan, anosmia, hidung tersumbat, terasa sesak napas.

Kasus varian Omicron, ditemukan setelah pasiien dilakukan pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil Positif dengan tes S-Gene Target Failure (SGTF) dan dikonfirmasi dengan tes Sekuensing (berbasis PCR) positif Omicron Sars-Cov-2.

Mutasi virus akan akan lebih mudah terjadi pada seorang yang mengalami defisiensi system imun (punya komorbid atau penyakit penyerta), karena mekanisme pembersihan virus dari tubuh terganggu, pada kondisi demikian organisme intraseluler bisa bertahan hidup lebih lama dalam tubuh.

Diperlukan vaksinasi Covid-19 untuk membantu tubuh mengurangi atau menghambat perkembangbiakan virus dalam tubuh. Vaksinasi minimal 2 kali dan sebaiknya sampai booster (3kali).

Berita yang lagi hangat saat ini adalah adanya varian baru yaitu Deltacron yang merupakan silang antara Omicron dengan varian Delta.

Virus tersebut selalu ada di lingkungan kita tinggal, meskipun kita sudah melakukan vaksinasi sampai booster, kita tetap harus mematuhi protokol kesehatan, terutama menggunakan masker bila berada pada lingkungan banyak orang.

Kita boleh tidak pakai masker saat kita sendirian di tempat terbuka (seperti saat olah raga di lapangan).

Dalam sesi tanya jawab Ny IK, seorang pasien onkologi bertanya kapan boleh vaksin ke 3 karena sedang menjalani kemoterapi. Pertanyaan itu mendapat tanggapan Kolonel Pur dr Zainal Arifin Sp.PK, narasumber yang dihadirkan.

“Disesuaikan kondisi pasien apakah sudah siap menerima vaksin atau untuk tahu kondisi pasien lebih baik ditanyakan ke dokter onkologi yang merawat,” ujar dr Zainal Arifin Sp.PK mencoba menjelaskan.

Sementara audiens yang lain, Ny S, pasien Ca Mammae (kanker payudara) juga menanyakan, “Apakah boleh vaksin ke 3 dilaksanakan lebih dari satu tahun setelah vaksin ke 2” ujar Ny S, dengan mimik serius.

Menjawab pertanyaan ini, dr Zainal menjelaskan, asalkan belum satu tahun bisa dilaksanakan vaksin ke-3 dan kondisi yang bersangkutan juga memungkinkan untuk divaksinasi. Dan, jawaban tesebut bisa diterima Ny S.

Sedang penanya lain, pasien yang anggota militer, Sertu Ivan, menginginkan penjelasan apakah hanya protokol kesehatan (prokes) yang diterapkan untuk pencegahan Covid-19. Pasalnya, selama ini yang lebih banyak digaungkan.

“Tidak hanya prokes yang dijalankan tetapi juga pola makan dengan gizi seimbang dan minum vitamin kalau perlu olahraga. Jadi prokes itu hanya salah satu upaya dan perlu terus digaungkan agar menjadi budaya di masyarakat,” jawab dr Zainal.

Terpisah Ketua DPK PPNI RSPAL Dr Ramelan, Letkol Laut Puji Agung Wibowo, S.Kep., Ns mengungkapkan pengabdian masyarakat kita ujudkan dalam bentuk talkshow kesehatan kepada pasien dan pengunjung rawat jalan RSPAL Dr Ramelan serta vaksinasi untuk masyarakat sekitar.

“Saya kira kegiatan ini lebih mengena dan bisa dirasakan langsung manfaatnya,” ujar Puji Agung Wibowo.