FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Perajin Cao di Surabaya Banjir Pesanan Saat Ramadan, Sehari Produksi 30 Ton

Ekonomi     Dibaca : 382 kali Penulis:
Perajin Cao di Surabaya Banjir Pesanan Saat Ramadan, Sehari Produksi 30 Ton
FaktualNews.co/mokhamad dofir
Yongki Yanmintarko mengawasi karyawannya di pabrik cao atau cincau Tegalsari, Surabaya, Rabu (6/4/2022).

SURABAYA, FaktualNews.co – Bulan suci Ramadan memberi berkah tersendiri bagi perajin cao atau cincau hitam di Surabaya.

Pesanan bahan minuman ini meningkat berkali-kali lipat dibandingkan biasanya. Kini dalam sehari, jumlah produksi bisa mencapai 30 ton.

Yongki Yanmintarko, perajin cao di bilangan Tegalsari Kota Surabaya mengaku, produksi cao di bulan puasa ini meningkat pesat.

Jika biasanya ia hanya memproduksi 100 hingga 200 blek (kaleng dari seng tempat menyimpan makanan kering). Saat ini dirinya harus membuat sedikitnya 1000 hingga 1500 blek cao untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Bila satu blek berbobot 20 kilogram, maka dalam sehari Yongki memproduksi cao sebanyak 30 ton.

“(Produksi) rata-rata 1000 sampai 1500 blek. Kan permintaan biasanya di awal Ramadan. Habis itu ya turun lagi. Kan orang beli satu nggak langsung habis, disimpan dulu. Lima hari lagi baru ada peningkatan lagi,” tutur Yongki ketika ditemui di tempat usahanya Jalan Dinoyo Tangsi VI Nomor 17, Keputran, Surabaya, Rabu (6/4/2022).

Kendati meningkat, pemilik pabrik Sinar Usaha Boga Nusantara generasi keempat ini menyampaikan bila jumlah produksinya tak sebanyak bulan puasa pada tahun-tahun sebelum pandemi datang. Menurut dia, jumlah produksi cao Bulan Ramadan 2022 ini agak menurun, selain karena Covid-19 juga dikarenakan puasa jatuh pada saat musim penghujan.

“Kemarin itu kan hujan deras, dua tiga hari lalu itu. Lah itu (pesanan) langsung drop,” keluhnya.

Yongki menyampaikan, untuk memenuhi permintaan pelanggan, pihaknya terpaksa mempekerjakan delapan karyawan tambahan menjadi 15 orang.

Belasan pekerja itu secara bergantian mengolah daun janggelan kering untuk dijadikan cao. Dengan cara direbus ke dalam dua panci metal raksasa sambil dipanasi menggunakan ketel uap hingga menghasilkan pati.

Bubuk pati itu selanjutnya dicampur dengan air, diaduk menggunakan empat mikser berukuran besar sampai berwarna pekat. Cairan ini kemudian dituang ke dalam blek-blek biru yang sudah disediakan. Lalu dibantarkan hingga membeku dengan sendirinya sekitar 5 jam. Baru setelah itu siap diangkut untuk dipasarkan ke beberapa pasar tradisional yang ada di kota pahlawan maupun sekitarnya.

“Kami marketnya di daerah (Surabaya) timur. Di Pasar Mangga Dua, Pasar DTC, ada Pasar Soponyono, terus Pasar Demak, Karang Tembok. Terus ada lagi Pasar Sidotopo. Kita juga ada lagi langganan distributor daerah Gresik. Kita antar kesana, kita punya armada, pesan berapa blek kita akan kirim. Terus ke Pasuruan, Pandaan terus ke Malang juga,” rincinya.

Untuk satu blek cao seberat 20 kilogram di tempatnya dibanderol seharga Rp 55.000. Selain menjual dalam ukuran blek, di pabrik yang didirikan tahun 1942 tersebut juga melayani pembelian eceran minimal Rp 5.000. Umumnya pembeli eceran datang dari masyarakat sekitar pabrik.

Bukan itu saja, di tempatnya Yongki juga menyediakan minuman kemasan berbahan dasar cao aneka rasa buah siap saji, ia menamainya dengan Caoku. Dikemas menggunakan gelas plastik berukuran sekitar 500 ml yang dihargai Rp 9.000 per gelas.

Lebih lanjut disampaikan pria yang juga berkecimpung dalam bisnis travel ini, bahwa usaha cao yang diwariskan kepada dirinya tersebut pernah kesulitan berproduksi akibat terkendala bahan baku.

Medio tahun 2019, harga daun bernama ilmiah mesona chinensis itu sempat melonjak tajam dari belasan ribu rupiah menjadi Rp 80.000 per kilogram karena langka. Kelangkaan bahan baku lantaran petani daun janggelan di sentra asal seperti Wonogiri dan Pacitan lebih memilih mengekspor ke luar negeri ketimbang melayani kebutuhan pasar domestik.

“Jadi pangsa besarnya itu China sama Taiwan. Orang-orang sana itu membutuhkan daun janggelan itu. Sama pengepul-pengepul di Jawa ini, dulu mereka (pengepul) nggak melihat ada nilai tambah dari pohon perdu biasa ini. Sekarang mereka membudidayakan, dipackaging, diekspor ke luar negeri,” tandasnya.

Untungnya kondisi itu sudah berlalu. Wabah Covid-19 yang menyerang dunia untuk sementara melarang ekspor daun janggelan ke luar negeri, sehingga membuat harga daun janggelan kering kembali normal.

“Makanya kita harus pintar cari informasi, harus menyetok barang (daun janggelan),” tutupnya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono