FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Kisah Pilu Satu Keluarga di Jombang, Pemasukan Minim, Makan Sekali Sehari

Sosial Budaya     Dibaca : 185 kali Penulis:
Kisah Pilu Satu Keluarga di Jombang, Pemasukan Minim, Makan Sekali Sehari
FaktualNews.co/diana kusuma negara
Komunitas Spekal saat berkunjung ke keluarga di Jombang yang hanya makan nasi satu kali dalam sehari.

JOMBANG, FaktualNews.co – Kisah memilukan datang dari sebuah keluarga dengan penghasilan minim di Desa Pulo Lor, Kabupaten Jombang. Keluarga ini hanya dapat makan nasi sehari sekali.

Kondisi yang demikian menggugah salah satu komunitas di Jombang guna memberikan bantuan sembako.

Organisasi atau komunitas tersebut menamakan diri Spekal (Serikat Pedagang Kreatif Lapangan). Komunitas ini prihatin dengan kondisi keluarga tersebut.

Keluarga tersebut terdiri dari Pasutri (pasangan suami-istri) Suliono (43) dan Lusiana (33), dengan dua orang anaknya yang masih kecil.

Wajah mereka langsung sumringah begitu menerima bantuan bahan pokok tersebut. Tak hanya itu, mereka juga langsung meminum susu kemasan kotak pemberian Spekal.

“(Makan) diutamakan sing alit (anak yang kecil), sedinten pisan makan (sehari sekali makan,” tutur Lusiana saat dikonfirmasi pada Kamis (12/5/2022).

Sebenarnya, keluarga ini merupakan warga Dusun Bangle, Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Jombang. Namun, tiga tahun terakhir mereka tinggal di RT 05 RW 05, Desa Pulo Lor, Jombang Kota.

“Ini rumah ibu saya. Kami ke sini setelah ibu saya meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu. Di sini juga sambil merawat kakak saya yang cacat penglihatan (tuna netra),” tutur ibu dua anak yang akrab disapa Lusi ini.

Diakui Lusi, kondisi ekonominya sangat jauh dari kecukupan. Ia juga belum menerima bantuan pemerintah. Ia menyebut, pernah didatangi perangkat desa dan dimintai Kartu Keluarga, namun sampai sekarang belum ada kejelasan.

“Hanya punya KIS (Kartu Indonesia Sehat), Pernah didatangi dimintai (KK) Kartu Keluarga, cuma pas saya tanya buat apa, saya belum tahu. Itu sudah lama dan belum ada kabarnya sampai sekarang,” ujar dalam bahasa jawa.

Selama ini penghasilan suami Lusi sebagai buruh tani tidak bisa diandalkan setiap harinya. Sementara, kebutuhan hari-harinya sebagai ibu rumah tangga tidaklah sedikit. Anak perempuan pertamanya saat ini duduk di bangku SD Sukorejo kelas V, sedangkan anak keduanya laki-laki masih berumur 1,5 tahun.

“Terkadang kalau punya uang, ya saya pakai untuk membeli susu kaleng, untuk anak saya yang kecil ini,” ujar dengan nada lirih.

Di tempat yang sama, Ketua Spekal Jombang, Joko Fattah Rochim mengaku mengetahui adanya keluarga tidak mampu tersebut dari istrinya sekitar beberapa hari lalu.

“Saya tahunya kemarin lusa, keluarga ini ngomong ke istri saya, tidak bisa makan. Lalu, saya cek dan ternyata kelurga ini satu hari hanya makan nasi sekali saja,” tuturnya.

Nasi yang dimakan pun lauk pauknya ala kadarnya dan tidak menentu. Kadang hanya dengan kerupuk dan terkadang pula lauknya tempe yang didapat dari pemberian tetangga.

“Kalau lauk pauk (makan) itu belum tentu ada. Kadang hanya kerupuk, kadang tempe, cukup pemberian orang,” ujarnya.

Kondisi memilukan seperti itu, kata Fattah, dilakoni karena kehidupan yang pas-pasan. Mereka pernah berusaja jualan es di rumah, namun tak bertahan lama, karena modalnya habis untuk kebutuhan sehari-hari.

“Yang laki-laki sebagai buruh tani dan tidak ada kerjaan lain. Setiap hari jemput anaknya yang sekolah di Perak. Di sini, mereka tidak ada orangtua, ada satu kakaknya namun matanya tidak kelihatan (buta),” ucapnya.

Melihat kondisi warga yang memprihatinkan seperti itun, Fattah mengaku tergugah untuk membantu. Ia bersama rekan-rekan Spekal Jombang datang ke tempat tinggalnya untuk memberikan bantuan paket sembako berupa beras, susu, mi dan minyak goreng.

“Bantuan yang kami berikan ini sebagai rasa kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan. Semoga ini bisa membantu meringankan kebutuhan mereka,” ujar pria berambut pirang ini.

Fattah berharap, pemerintah kabupaten Jombang melalui pihak desa lebih perhatian kepada warga yang membutuhkan. Menurut dia, sangat ironis jika di era yang sudah maju ini, masih ada warga yang hanya makan nasi satu kali dalam sehari.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono