FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Kisah Pilu Nenek 65 Tahun di Situbondo

Menjadi Buruh Cuci Pakainan Tetangga Demi Merawat Tiga Cucunya yang Yatim Piatu

Peristiwa     Dibaca : 318 kali Penulis:
Menjadi Buruh Cuci Pakainan Tetangga Demi Merawat Tiga Cucunya yang Yatim Piatu
Nenek Suyatmini bersama tiga cucunya.

SITUBONDO, FaktualNews.co-Ironis kisah yang dijalani nenek Suyatmini (65), warga Desa Curah Jeru, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, karena di tengah kehidupan yang jauh dari kata sejahtera ini dirinya juga harus merawat tiga cucunya yang yatim piatu.

Tiga anak yatim piatu yang dirawat oleh nenek Mini, yakni Robiatus Supiya Abdillah (10), kelas IV SD,  Radihan Abdullah (7), kelas I SD ,dan Raisya Raihan Abdillah (5) kelas nol kecil sekolah taman kanak-kanak (TK).

Sehingga untuk bisa bertahan hidup dan bisa mencukupi kebutuhan cucunya agar tetap bisa sekolah, Nenek Mini panggilan Suyatmini harus banting tulang dengan berkeja sebagai buruh cuci dan menggosok pakaian milik tetangganya.

“Menjadi tukang cuci baju dan tukang setrika baju itu, merupakan  salah satu cara yang saya jalani untuk membesarkan ketiga orang cucu saya,” ujat Nenek Mini.

Kondisi rumah nenek Suyatmini.

Kisah pilu Nenek Mini yang harus memikul beban hidup yang semakin berat ini Mini ini dijalaninya sejak satu tahun yang lalu, ketika ketiga cucunya harus kehilangan sosok ayah, yang meninggal akibat kecelakaan.

“Ibu ketiga cucunya meninggal sekitar dua tahun lalu, sedangkan ayahnya meninggal akibat ditabrak truk di lampu merah simpang empat sebelah barat Mapolres Situbondo,” papar Nenek Mini.

Bermodal dengan keperluan seadanya, Nenek Mini dengan tulus dan ikhlas merawat ketiga cucu kesayangannya, dirinya rela menjadi orang tua bagi ketiga cucu tercinta.

Sebenarnya, dirinya mempunyai uang pensiunan sebesar Rp.1,3 juta setiap bulan, karena almarhum suami nenek Minin pensiunan TNI, namun karena anak tirinya pinjam uang ke bank, sehingga setiap bulan dirinya tidak menerima utuh.

“Namun, setelah dipotong uang kredit pinjaman ke bank, sehingga  setiap bulan saya hanya menerima sebesar Rp 400 ribu. Memang sekolahnya gratis, namun untuk kebutuhan lainnya saya harus tetap kuat berkerja demi mereka,” bebernya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Aris