Peristiwa

Bocah Yatim Piatu Penderita Hydrocephalus di Jember, Luput dari Perhatian Pemerintah

JEMBER, FaktualNews.co – Bocah penderita hydrocephalus dan cerebral palsy (lumpuh tidak bisa menggerakkan tubuhnya) asal Dusun Curah Buntu, Desa Jenggawah, Kecamatan Jenggawah, Jember, luput dari perhatian pemerintah setempat.

Bocah berusia 8 tahun bernama Meisya Chalinda Beryl, itu hidup dengan kondisi dialaminya. Ditambah kini kondisinya yatim piatu, karena orang tuanya telah meninggal dunia.

Sang ibu meninggal akibat terpapar virus Covid-19 sekitar Mei 2021 lalu. Bapaknya pun meninggal akibat penyakit paru-paru.

Meisya lahir dengan kondisi sangat memprihatinkan, dan saat ini membutuhkan perhatian secara khusus dan bantuan pemerintah. Namun 8 tahun lamanya, bantuan itu tak ada sama sekali.

“Meisya ini sakit hydrocephalus dan lumpuh itu. Sudah dioperasi yang hydrocephalus, habis biaya Rp 600 juta kurang lebih. Kondisinya tidak bisa apa-apa. Ini sekarang umurnya sudah 8 tahun,” kata pengasuh dan saudara sepupu Meisya, Ngatimah (60) didampingi suaminya Wasis Siswadi (66), Kamis (18/8/2022).

Dengan kondisi yang dialami bocah malang itu, kata Ngatimah, Meisya butuh kursi roda khusus dan perhatian nutrisi lebih. Namun karena kondisi ekonomi yang sulit.

Saat kedua orang tuanya masih hidup dan dibantu keluarga. Meisya diajukan ke pemerintah untuk mendapat bantuan.

“Waktu itu saya mengajukan bantuan ke dinsos. Tapi gak ada respon, katanya tidak bisa dari rumah. Tapi berapa kali saya mengajukan dan tidak ada respon, ya sudah saya tidak bisa apa-apa,” katanya.

“Dulu ada petugas katanya dari Dinsos. Datang hanya foto Meisya dan kondisi rumah. Setelah itu tidak ada kabarnya lagi. Saat itu Meisya umur 2 tahun, saya berusaha hubungi katanya tidak bisa datang ke rumah lagi. Ya sudah saya diam,” tutur Ngatimah menambahkan.

Ditambah kondisi kedua orang tua meninggal dan hidup yatim piatu. Untuk mendapat bantuan juga dirasa masih sulit.

“Saya tidak tahu mengurusnya bagaimana. Kondisi saya dan suami juga sulit. Kita hanya bantu Meisya semampu kami. Kami berusaha ajukan bantuan lagi. Ada persolan KK. Lah gimana? Memang kondisi anak ini yatim piatu. Kita berharap ada perhatian pemerintah,” ucapnya sedih.

Terkait kebutuhan Meisya, adalah soal kurai roda khusus dan nutrisi.

“Sejak awal yang saya harapkan menginginkan kursi roda buat Meisya ini. Karena kalau beraktivitas ke kamar mandi, mau menjemur ini kesulitan. Masih gendong. Apalagi ini makin lama makin tumbuh besar. Kalau tidak ada kursi roda kan bingung kasian juga,” ucapnya.

Terpisah salah seorang relawan, Maya Cendrawasih mengaku kaget dengan kondisi yang dialami Meisya. Proses untuk mendapat bantuan, kata Maya, akibat persoalan kartu keluarga (KK).

“Kami dari relawan, waktu itu dapat kabar dari Kepala Desa Kemuning. Kami langsung kroscek dan memang kami lihat keadaannya adek ini, sangat membutuhkan kursi roda,” kata Maya.

Selain itu, lanjutnya, juga butuh asupan gizi cukup. Mengingat kondisi hydrocephalus dan cerebral palsy (lumpuh tidak bisa menggerakkan tubuhnya), yang dialami.

“Untuk asupan susunya pun khusus, dan harus minum susu yang memang rujukan dari dokter,” katanya.

Terkait kesulitan mendapat bantuan, lanjutnya, terkait persoalan KK.

“Kita menggalang dana, karena setelah kita cek di adminduknya, adek ini ternyata di KK nya tinggal seorang diri. Karena di KK nya (awal) yang lainnya sudah meninggal. Ketika adek ini kita konsultasikan ke Dispenduk, adek ini tidak bisa menjadi kepala keluarga. Karena usia (saat itu) masih 7 tahun. Jadi kita pindahkan ke KK saudaranya (Ngatimah),” tandasnya.

Share