Bola

Selain Anggaran, Manajemen Juga Jadi Masalah Klasik di Tubuh PSID Jombang

JOMBANG, FaktualNews.co – Struktur manajemen yang tidak jelas, juga jadi satu alasan bobroknya PSID Jombang tahun ini.

Sudah bisa dipastikan, bahwa PSID Jombang tidak akan ikut andil dalam persaingan kompetisi Liga 3 Jawa Timur (Jatim) yang akan digelar rencananya bulan September 2022 mendatang.

Masalah pengelolaan manajemen, jadi faktor lain selain anggaran yang setiap tahun menyelimuti PSID Jombang. Mantan pelatih PSID, Hendrawan Dwi Susanto menuturkan, bahwa pasca selesainya Liga 3 Jatim musim lalu, manajemen sudah dibubarkan.

“Memang untuk manajemen, sejak berakhirnya kompetisi tahun lalu sudah dibubarkan,” ucapnya pada Senin (22/8/2022).

Berkaca dari tahun lalu, manajemen tim PSID Jombang merekrut beberapa pemain potensial yang tersebar di beberapa desa di Jombang. Latih tanding pun digelar, guna menjaring pemain yang akan ikut bergabung di Liga 3 Jatim musim lalu.

Namun, sangat disayangkan, pasca berakhirnya Liga 3 Jatim musim lalu, manajemen keburu dibubarkan. Alhasil, para pemain yang sebelumnya telah berseragam Laskar Kebo Kicak juga ikut bubar.

Sehingga, hal itu menjadi masalah klasik di tubuh PSID Jombang yang setiap tahun jelang bergulirnya kompetisi, harus sibuk mencari manajer dan seleksi dari awal kembali.

“Tahun lalu untuk bayar pemain yang ditekankan memang mencari pengalaman bertanding. Kalaupun ada uang lelah berasal dari donatur dan tidak banyak juga,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut Sekretaris Askab PSSI Jombang, Sutyo Praftomo, kendala tidak berlaganya PSID Jombang di Liga 3 Jatim ini karena memang sulit mencari manajer.

Oleh sebab itu, pihaknya memilih untuk menjalankan program pengembangan sepakbola usia dini, alasannya karena yang diurus oleh Askab bukan hanya PSID Jombang.

Hal itu lantaran, mahalnya biaya kompetisi Liga 3 Jatim yang dimana harus merogoh kocek hingga Rp2 Miliar. “Tahun lalu untuk kompetisi Liga 3 Jatim itu menghabiskan dana sekitar Rp1-2 Miliar. Sementara itu untuk anggaran PSSI Jombang sendiri itu tidak sampai itu, hanya berkisar Rp85 juta untuk tahun ini ya,” katanya.

Anggaran itupun, lanjutnya, sudah dipakai untuk penyelenggaraan Liga Santri, Porprov dan juga pembinaan usia dini. PSID Jombang sendiri, menurutnya, memang posisinya berada di bawah naungan Askab PSSI Jombang.

“Tapi, sifatnya di dalam PSSI itu independen, berdiri sendiri. Jadi jika dibebankan pada kita untuk PSID saja jelas tenaga kita tidak sanggup,” ujarnya.

Baginya, keterlibatan pihak ketiga dalam hal ini harus nampak. Entah dari Pemkab itu sendiri maupun lainnya.

“PSID seharusnya bisa mandiri, karena anggaran dari PSSI ini minim,” tukasnya.(Anggit)