Kesehatan

Temuan Kasus TBC di Tulungagung Masih 23 Persen, Banyak Penderita Menutup Diri

TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Hingga pertengahan tahun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung masih menemukan 23 persen kasus Tuberkulosis (TBC) dari yang ditargetkan.

Minimnya capaian target ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah, penderita TBC masih enggan terbuka karena menganggap aib.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3) Dinkes Kabupaten Tulungagung, Didik Eka mengatakan pada 2022 memang Dinkes Kabupaten Tulungagung memiliki target pengungkapan kasus TBC di Tulungagung mencapai 2.400 kasus dalam satu tahun. Namun, hingga dengan Agustus 2022, pengungkapan kasus TBC di Tulungagung masih jauh dari target.

“Dari 2.400 terget penemuan kasus TBC di Tulungagung, kami saat ini masih menemukan sekitar 23 persen atau sekitar 570 kasus TBC di Tulungagung,” tuturnya.

Didik menjelaskan, rendahnya capaian target penemuan kasus TBC di Tulungagung disebabkan beberapa faktor. Antara lain seperti, masih banyak penderita TBC menganggap penyakit tersebut sebagai aib, sehingga mereka enggan terbuka kepada petugas.

“Rata-rata penderita TBC yang tidak terdata itu lebih memilih menutup diri, dan melakukan pengobatan sendiri dengan beragam cara,” jelasnya.

Didik mengungkapkan bahwa diharapkan warga yang memiliki gejala mengarah TBC yakni berupa batuk yang terkadang mengeluarkan becak darah, mengalami penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, dan demam, untuk segera melaporkan kepada petugas kesehatan. Pasalnya, jika tidak segera tertangani dimungkinkan akan berdampak parah.

“Setiap ditemukan kasus TBC, sangat dimungkinkan akan menurlarkan kepada 15 orang yang melakukan kontak erat. Maka dari itu, warga yang sudah mengalami gejala TBC untuk segera melapor,” ungkapnya.

Disinggung bagaimana kondisi 570 penderita TBC yang terdata, Didik menambahkan bahwa saat ini 570 penderita TBC sudah dilakukan pengobatan secara intensif. Pasalnya, dalam menyembuhkan penyakit TBC aktif itu juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Semua penderita TBC yang terdata sudah dalam pengobatan. Karena jika terlambat melakukan pengobatan juga bisa berdampak fatal. Seperti ada satu penderita TBC di Tulungagung yang meninggal dunia, karena terlambat dalam penanganannya,” paparnya.

Meski capaian temuan kasus TBC di Tulungagung masih rendah, Didik akan berupaya dalam akhir tahun bisa mencapai 51 persen dari target temuan kasus TBC di Tulungagung. Disisi lain, sepajang pihaknya menangani TBC angka tertinggi temuan kasus TBC di Tulungagung mencapai 51 persen.

“Nanti kami akan genjot lagi untuk para relawan melakukan investigasi kontak penderita TBC. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan capaian target penemuan kasus TBC di Tulungagung,” pungkasnya. (Hammam)