FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Dampak BBM Naik, Penumpang Bus Antarprovinsi dan Angkot di Jember Turun 50%

Ekonomi     Dibaca : 336 kali Penulis:
Dampak BBM Naik, Penumpang Bus Antarprovinsi dan Angkot di Jember Turun 50%
FaktualNews.co/hatta
Kondisi Terminal Tawangalun Jember yang sepi penumpang sejak kenaikan harga BBM.

JEMBER, FaktualNews.co – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak pada turunnya jumlah penumpang bus antarprovinsi dan angkutan kota (angkot) Klenting kuning (Lin Kuning) di Jember.

Di Terminal Tawangalun, Kecamatan Rambipuji, Jember misalnya. Penurunan jumlah penumpang mencapai 50 persen dibanding sebelum kenaikan harga BBM. Para sopir bus antarprovinsi pun mengeluh.

Suparmo, sopir bus antarprovinsi, mengatakan, saat ini kondisi jumlah penumpang menurun drastis.

“Penumpang yang tadinya lumayan, bisa 25-30 orang, kini turun jadi 10 paling banyak 15 orang dari Terminal Tawangalun. Jika dipersentase turunnya sekitar 50 persen,” kata Suparmo di Terminal Tawangalun, Kamis (15/9/2022) sore.

“Padahal kami juga harus memenuhi target dari perusahaan, minimal 30 orang setiap kali angkut penumpang. Tapi kondisi sekarang ini ya kita kesulitan,” sambungnya.

Dengan kondisi tersebut, diakui Suparmo, pihaknya kesulitan jika harus memenuhi target agar penumpang busa sesuai yang diharapkan.

“Kami di target setiap hari harus ada penumpang tiap hari. Kami juga ditarget waktu tempuh. Tidak bisa sembarangan untuk berhenti di terminal yang dilewati hanya untuk cari penumpang,” katanya.

Untuk kenaikan harga tiket bus, Suparmo juga menyampaikan, pihaknya terpaksa harus melakukan penyesuaian.

“Untuk tiket, terpaksa harus naik 20 persen kira-kira. Yang sebelumnya Rp 240 ribu, sekarang Rp 295 ribu. Jadi ada selisih Rp 50 ribu,” ungkap sopir bus jurusan Jember – Cilacap itu.

Kebijakan kenaikan harga tiket itu, sambungnya, memang tanpa menunggu aturan dari pemerintah.

“Ya bagaimana lagi, kita terkendala biaya operasional juga yang ikut berpengaruh. Jadi ya harus segera melakukan strategi untuk menutupi biaya operasional,” sambungnya.

Senada dengan Suparmo, sopir angkot Lin Kuning Jatmiko juga mengakui hal yang sama.

Dampak pandemi yang selama dua tahun memberikan banyak kerugian dengan menurunnya penumpang. Saat ini ditambah kenaikan harga BBM, tidak memberikan keuntungan untuk perbaikan ekonomi.

“Kami harus berhadapan dengan ojol (ojek online). Sekarang terkena dampak BBM. Penumpang merosot 50 persen,” kata sopir Lin Kuning jurusan Tawangalun – Arjasa itu.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, pihaknya pun berharap pemerintah segera melakukan penyesuaian tarif untuk penumpang.

“Nah kalau tidak, kita kesulitan untuk menutup biaya operasional. Kami berharap pemerintah segera melakukan penyesuaian tarif untuk lin ini,” ucapnya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono