Kuliner

Rujak Yuk Bawok Mojokerto Rasanya Legit Mantap di Lidah

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Salah satu makanan yang paling terkenal di Indonesia adalah rujak. Hampir di setiap wilayah Indonesia punya kuliner ini. Tentunya dengan campuran bahan dan rasa bumbu yang khas sesuai dengan daerahnya masing-masing.

Di Mojokerto, ada warung rujak memiliki cita rasa yang khas dan cukup terkenal. Para pelanggan kerap kali menyebutnya rujak bawuk. Ketika mendengar kata bawuk, mungkin yang terbayang dibenak ialah konotasi negatif. Namun sebenarnya tidak demikian. Lantas, bagaimana cerita dibalik kata bawuk dan rasanya sendiri seperti apa?

Warung rujak ini milik seorang lansia berusia 67 tahun Fadilah yang masih terlihat sehat. Lokasinya berada di dalam perkampungan, Dusun Kejambon, Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Menemukan lokasinya cukup mudah, karena sudah terdaftar di Google Maps dengan nama Warung Rujak & Tahu Lontong Yuk Bawok.

Rujak racikan Fadillah ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan rujak lainya, terbuat dari campuran sayur atau buah dan disajikan bersama bumbu kacang. Hanya saja ada beberapa resep yang membedakan.

Ketika ditanya kenapa rujaknya dinamakan Rujak Yuk Bawok, nenek satu cucu ini malah tersenyum. Dia tidak bisa menceritakan asal usulnya lantaran nama itu disematkan oleh para pelanggannya. Menurutnya, teman-temanya dulu kerap kali mengejek dengan kata bawok yang menjurus pada kelamin wanita.

“Saya tidak tahu, itu orang-orang yang menyebut seperti itu. Ya dulu memang sering dipanggil begitu (nama Bawok),” katanya kepada FaktualNews.co, Sabtu (1/10/2022).

Kendati demikian, Fadilah tidak pernah mempermasalahkan jika warung yang sudah berdiri puluhan tahun silam disebut dengan nama itu. “Saya tidak ingat awal berdirinya kapan, sekirar 30 tahun ada,” ujarnya.

Rujak Yuk Bawok ini berisi irisan nanas, bengkoang dan mentimun segar, potongan tahu dan tempe goreng yang masih hangat, irisan lontong, serta sayur kacang panjang, krai, selada dan cambah.

Fadilah mengolahnya dari buah-buahan dan sayuran yang masih segar. Bumbu kacang yang digunakan juga sangat spesial, yakni campuran kacang goreng, petis, terasi, dan gula Jawa.

Pembeda dengan rujak lainnya adalah, ketika mengeluk bumbu dia menambahkan air biasa dan air asam Jawa. Sehingga bumbunya sedikit encer. Perpaduan bumbu inilah yang menghadirkan cita rasa yang legit dan lezat.

Barulah isian rujak dituangkan ke layah untuk dicampur dengan bumbu. Penyajian rujak ulek ini sangat sederhana. Yakni hanya dituangkan pada piring biasa dilengkapi sebuah sendok.

“Terasinya pakai yang enak. Kalau petis campuran yang enak dan biasa. Karena kalau petis enak saja rasanya amis dan pahit, pakai petis biasa saja juga tidak enak,” ujar Fadilah.

Janda anak satu ini, sangat menjaga kualitas rujakan racikannya. Bumbu dan isian rujak yang dibelinya di pasar dipastikan harus bagus.

“Semua bahan untuk bumbu dan isi rujak saya beli yang berkualitas untuk menjaga cita rasanya,” tuturnya.

Untuk menemukan resap rujak khasnya itu, ternyata tidak mudah. Fadilah harus beberapa kali bereksperimen menggabungkan segala macam bumbu.

“Saya mengarang sendiri, saya coba-coba saja, pakai bumbu ini itu, akhirnya menemukan yang pas,” tandasnya.

Menikmati Rujak Yuk Bawok akan terasa lebih nikmat dengan es dawet bikinan Fadilah juga. Minuman ini begitu pas untuk melepas dahaga atau mengobati pedasnya rujak ulek. Karena lembutnya dawet bercampur dengan gurihnya santan kelapa serta legitnya gula merah.

Selain kudapan rujak, Fadilah juga menyedikan tahu lontong. Isiannya terdiri dari irisan tahu, kentang goreng hangat dan lontong, serta acar mentimun dan taburan bawang goreng.

Acar mentimun buatan Fadilah diracik dengan bumbu khusus sehingga digandrungi para pelanggannya.

“Orang kan suka kalau ada acarnya. Banyak yang tidak jadi beli karena acarnya habis,” tukasnya.

Tarif yang dibanderol untuk satu rujak dan tahu lontong Yuk Bawok ini cukup ramah di kantong. Hanya Rp 12 ribu saja. Sedangkan es dawetnya Rp 5 ribu.

Warung rujak dan tahu lontong Yuk Bawok ini buka setiap hari pukul 10.00-16.00 WIB. Yang datang mencicipi kudapan racikan janda anak satu ini silih berganti, baik yang makan di tempat maupun membungkus. Sayangnya, Fadilah tidak pernah bertanya darimana saja mereka berasal.