Nasional

Kerusuhan Kanjuruhan, Presiden Jokowi Instruksikan Investigasi Cepat Harus Ada Tanggung Jawab

MALANG, FaktualNews.co – Pemerintah pusat turun langsung menangani tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, yang terjadi Sabtu (1/10/2022) malam.

Kerusuhan di Kanjuruhan yang terjadi usai laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 antara Arema FC vs Persebaya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 129 orang dan 80 lainnya dirawat.

Pada Minggu (2/10/2022) siang, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., datang langsung ke Stadion Kanjuruhan, arena laga Arema Fc vs Persebaya.

Kedatangan Muhadjir Effendy tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi dari Presiden Joko Widodo, yang menghendaki pemerintah ikut menangani tragedi ini.

Muhadjir Effendy menyampaikan beberapa pesan dari Presiden Jokowi.

“Dari arahan presiden sudah jelas, jadi yang pertama pemerintah sangat menyesalkan peristiwa ini,” ujar menteri berusia 66 tahun tersebut.

“Di saat kita mencoba memberikan kelonggaran event-event pertandingan sepak bola seiring dengan berakhirnya Covid-19 menuju ke arah suasana endemik, kok diwarnai dengan kejadian sangat memilukan ini,” katanya lagi.

Sebagai tindak lanjut instruksi Presiden, saat ini pemerintah pusat juga menuntut dilakukannya investigasi mendalam terhadap tragedi di Kanjuruhan.

Presiden meminta investigasi dilakukan secara mendalam sampai ke akar, hingga ditemukan pihak yang harus bertanggung jawab atas tragedi ini.

“Yang kedua Bapak Presiden sudah memerintahkan untuk segera dilakukan investigasi secepat mungkin, dan harus ada yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Tragedi Kanjuruhan bermula dengan kekalahan2-3  Arema FC dari sang rival bebuyutan, Persebaya Surabaya, pada pekan ke-11 Liga 1 2022-2023.

Tepat setelah peluit akhir laga Arema FC vs Persebaya dibunyikan, ada beberapa suporter yang hendak menemui pemain.

Namun, hal tersebut memancing suporter lain untuk ikut masuk secara bergerombol ke dalam lapangan.

Pihak keamanan mencoba melakukan pengamanan dengan menghalau suporter yang masuk. Akan tetapi, karena jumlah fan yang terlalu banyak, pihak keamanan menjadi kewalahan.

Untuk memecah kerumunan massa, pihak keamanan akhirnya menembakkan gas air mata. Gas tersebut justru menciptakan kepanikan di tribune yang membuat suporter berdesak-desakan keluar stadion untuk menghindari gas.

Keputusan yang diambil otoritas keamanan menciptakan perdebatan. Sebab, dalam regulasi pengamanan stadion yang terbitkan FIFA, gas air mata dan alat pengendali massa dilarang digunakan di dalam arena laga.

Sementara itu, Panpel Arema FC juga ikut mendapatkan sorotan karena dinilai gagal menerapkan langkah antisipasi.

Kendati demikian, Muhadjir Effendy, belum bisa berkomentar jauh mengenai siapa yang harus bertanggung jawab.

“Untuk yang bertanggung jawab masih belum tahu, karena masih akan diinvestigasi,” tutur Muhadjir Effendy mengakhiri.