Sosial Budaya

Asal Mula Lodoyo dan Gong Kyai Pradah Blitar

BLITAR, FaktualNews.co – Banyak yang belum tahu asal mula Gong Kyai Pradah yang setiap Bulan Maulid dilakukan siraman. Budaya ini dilakukan  sejak zaman dahulu dan hingga sekarang.

Acara siraman ini bertempat di alon-alon Lodoyo Kabupaten Blitar. Para warga datang dan bisa melihat saat prosesi siraman Gong Kyai Pradah.

Ternyata awal mula ceritanya menurut tokoh masyarakat setempat Bakri menjelaskan, cerita zaman dulu, Mbah Kyai Pradah itu tameng zaman peperangan jaman dahulu  dari Solo yang ditugaskan di Lodoyo. Kemudian bertempat di Kawedanan.

Pada saat itu, Kyai Pradah di segani Kolonial Belanda dan Jepang. Para penjajah itu lalu meningalkan Lodoyo karena dikenal ada macan atau harimau.

“Ya cerita Gong Kyai Pradah itu awal mulanya. Singo itu simbulnya macan dan pradah itu yang laki dan yang perempuan Pradu yang ada di Solo. Jadi hingga saat ini orang banyak yang mengetahui Gong Kiyai Pradah,” kata Bakri.

Bakri yang sesepuh Lodoyo itu mengatakan, tradisi siraman Mbah Kyai Pradah ini di lakukan setiap tahun. Selain itu juga digelar di atas panggung dan disaksikan oleh masyarakat Lodoyo.

“Jadi dulu dikenal dengan adanya macan atau harimau yang disegani para penjajah. Mbah Kyai Pradah lah yang menjadi tameng yang mengusir penjajah,” kata Bakri.

Dia mengaku, kalau asal mula nama Lodoyo sebenarnya hanya sepele. Menurut Bakri, kata orang tuanya, Lu itu doyong, lalu di taruh di pohon kelapa yang masih kecil.

“Ya katanya sih dulu ya hanya di sini ada pohon waru doyong ke barat. Karena wilayah sini belum ada nama, oleh orang zaman dahulu di katakan Lodoyo, dalan artinya ya ceritanya ya pohon doyong kebarat,” pungkasnya.