FaktualNews.co

Terkait Pelayanan Pasien

Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Tegur Puskesmas Kapongan 

Parlemen     Dibaca : 2089 kali Penulis:
Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Tegur Puskesmas Kapongan 
FaktualNews.co/Fathul Bari.
Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Lukman (tiga dari kiri) bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo dr Sandy Hendrayono (kanan)  saat mengunjungi Puskesmas Kapongan.

SITUBONDO, FaktualNews.co-Pernyataan kontroversi  dr Winoto, salah seorang dokter di Puskesmas Kapongan, Situbondo terus menuai reaksi dari sejumlah elemen masyarakat. Kali ini, giliran Komisi IV DPRD Kabupaten Situbondo.

Bahkan,  dalam berkunjung ke Puskesmas Kapongan, Komisi IV DPRD Situbondo didampingi dr Sandi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo, memberikan teguran keras terkait pelayanan di Puskesmas Kapongan, yang menvonis penyakit yang disampaikan dr Winoto kepada Rafi Asrof (10).

Ketua Komisi IV  DPRD Situbondo, Lukman mengatakan, kedatangannya ke Puskesmas Kapongan, untuk mengklarifikasi terkait berita yang menyebar di media cetak maupun online,  terkait keluhan seorang pasien warga Dusun Setonggek, Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, yang divonis  penderita penyakit  vitiligo.

“Kami sudah mengklarifikasi adanya vonis yang disampaikan dr Winoto. Ternyata, pihak Puskesmas sudah meminta maaf kepada kliennya dan mengaku ditanggapi dengan baik pasien yang mengeluhkan pelayanan Puskesmas Kapongan,”ujar Lukman, Selasa (29/8/2023).

Menurut dia, dalam berkunjung ke Puskesmas Kapongan, pihaknya langsung menegur oknum dokter tersebut. Selain itu, pihaknya juga meminta agar para dokter menyampaikan hasil pemeriksaan medisnya secara santun.

“Selain memberikan peringatan kepada dokter yang bersangkutan. Kami meminta agar dokter merubah cara penyampaiannya kepada pasien, dengan cara yang lebih santun. Sehingga pasien mempunyai semangat untuk sembuh,”bebernya.

Lebih jauh politisi Partai Demokrat itu menegaskan, dengan penyampaian secara santun kepada pasien. Hal itu menjadi salah satu obat bagi pasien.  Setidaknya menjadi motifasi bagi pasien sehingga bisa menerima kenyataan.

“Kalau dokter salah ucap, bisa akan menjadi suatu persoalan.  Seharusnya kan memberikan motivasi. Bukan menyampaikan hasil pemeriksaan medis yang terkesan menakut-nakuti pasien, yang mengakibatkan pasien trauma,”pungkasnya.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Tim Redaksi FN