Nasional

Kadet Soewoko Sosok Pahlawan Lamongan, Ini Kisahnya

LAMONGAN, FaktualNews.co-Kadet Soewoko Pahlawan asal Lamongan yang diabadikan dengan dibangunnya patung tahun 1975. Kata-kata terakhirnya juga dipahatkan di patung tersebut. Selain diabadikan menjadi monumen di pintu masuk Lamongan, nama Kadet Soewoko juga diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Lamongan.

Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dr. Ari Sapto menceritakan Kadet Suwoko masuk dan bergabung di Regu 1 Kompi 1 Karesidenan Bojonegoro yang lahir di Lumbang Sari Kecamatan Krebet atau Bululawang (sekarang) Kabupaten Malang tahun 1928.

Pada tahun 1943 Kadet Suwoko menamatkan Sekolah Rakyat. Di tahun 1946 ia menamatkan Sekolah Menengah di Mulo. “Tanggal 31 Oktober 1946, Markas Besar umum TKR yang ada di Jogja mendirikan sekolah Akmil atau sekolah kadet. Dengan materi pelajaran kadet meliputi, taktik bertempur dan gerilya, strategi berperang militer, administrasi militer, teknik senjata infanteri dan bahasa asing,” kata Dr. Ari Sapto.

Kemudian sekolah Akmil atau Kadet dikembangkan di Jawa Timur melalui divisi 7 Suropati di Malang pada bulan November. Di tahun yang sama Kadet Suwoko melibatkan dirinya di sekolah kader divisi Malang gelombang 2, yang bertujuan mencetak perwira guna mempertahankan kemerdekaan karena kekurangan tenaga.

Pada tanggal 21 Juli 1947 terjadi Agresi Militer Belanda I menyerang sebagian kota Malang. Sehingga dengan terpaksa divisi Malang pindah ke kota Solo Cabang Jogja.

Tanggal 22 Juli 1947 Malang jatuh ke penjajah, sehingga para kadet bubar. Kemudian para kadet dikumpulkan di perkebunan Sumber Agung lereng Semeru dalam kondisi perang.

“Kemudian sekolah para Kadet digabung dengan akademi Militer Jogja, mereka pindah ke Jogja tapi ditampung di Solo dulu pada Tahun 1948.

Pada tanggal 19 September 1948 PKI Muso dan FDR Amir Syarifudin melakukan pemberontakan dengan membuat Republik Indonesia Soviet di Kota Madiun. Di saat itulah atas perintah Jenderal Panglima Sudirman menyuruh divisi 1 Letkol Sungkono dengan membawa 42 pasukan ke Jawa Timur dan berhasil menumpas PKI Madiun hanya dalam waktu dua minggu.

Sementara itu pasukan Siliwangi melakukan long march menghadapi Belanda hingga ke Jawa Barat.

Usai menumpas pemberontakan PKI di Madiun kolonel Sungkono yang juga Gubernur Militer (TRI) memerintahkan Kadet menuju Bojonegoro Karesidenan yang meliputi Bojonegoro Tuban dan Lamongan. Karena pecah agresi militer Belanda II pada bulan Desember 1948.

“Mesti Kadet Suwoko belum menyelesaikan studinya di akademi militer atau kadet, sebanyak 42 orang termasuk Suwoko menyebar menyebar ke berbagai lokasi di Jawa Timur. Kadet Suwoko dan tujuh temannya kebagian di wilayah Lamongan dipimpin langsung Suwoko,” lanjut Ari menceritakan.

Pada hari Minggu tanggal 9 Maret Tahun 1949 usai salat Dhuhur ada penduduk sekitar yang menginformasikan dan mengatakan dan mengatakan truk Belanda masuk sungai sebelah Desa Parengan kurang lebih 12 tentara Belanda.

Karena persenjataan hanya tujuh pucuk maka rekan Kadet Suwoko yakni Kadet Sumarto tidak ikut penyerangan menyusuri utara tepi Bengawan Solo dengan menggunakan perahu kecil.

Kadet Soewoko mengatakan kalau musuh menggerakkan truk Power Wagon kita sambut saja dengan meriam terus lari mundur. Ternyata Belanda tidak dapat menaikkan truk dari dalam sungai. Namun pada sore hari datang satu truk lagi yang berisi serdadu kekuatan Belanda bertambah 20 orang.

Akhirnya Belanda mulai menarik truk Power Wagon dan berhasil terangkat dari sungai. Saat akan berangkat Kadet Suwoko dan teman-temannya mulai menyerang. Dua dua buah mesin senapan otomatis di atas truk Belanda membombardir regu Kadet yang menyerang. Sehingga regu kadet mundur sedikit demi sedikit dengan menyusup tanaman padi.

Kemudian tentara Belanda melakukan serangan melingkar menghadapi regu kadet dari jarak dekat dengan saling tembak-menembak. Belanda menang dalam kekuatan dan jumlah.

Kadet Soewoko memerintahkan untuk menerobos kepungan musuh dengan memasang sangkur menuju Desa Gumantuk Kecamatan Maduran. Alhasil Kadet Cancio berhasil lolos namun Kadet Suwoko tidak lolos karena tertembak bagian bau kanan dan kiri.

Kemudian Kadet Suwoko tertangkap pasukan Belanda dan diinterogasi. Ketika ditanya siapa namamu. Kemudian Kadet Suwoko menjawab “Namaku Suwignyo”. Kemudian pasukan Belanda mengajak Kadet Suwoko ke pos Sukodadi. Namun Kadet Suwoko menjawab saya tidak mau menyerah bunuh saja saya.

Akhirnya Kadet Suwoko meninggal dunia karena ditembak dengan sepucuk pistol di dada kiri dan ditusuk pipi sebelah hidung dengan sangkur. Hal tersebut diketahui salah satu anggota Kadet Suwoko yang berpura-pura meninggal dunia di bawah pohon.

“Alhasil Belanda merampas tiga pucuk karaben dan tiga pucuk senapan,” Pungkas Dr. Ari Sapto.

Untuk mengenang semangat kepahlawanan Kadet Soewoko, tiap tahun di Lamongan juga digelar napak tilas perjalanan Kadet Soewoko dari Desa Gumantuk ke Patung Kadet Soewoko.