JOMBANG, FaktualNews.co-Harga sejumlah kebutuhan dapur di pasar tradisional Kabupaten Jombang mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan para pedagang, tetapi juga membebani masyarakat yang harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.

Berdasarkan pantauan di Pasar Pon Jombang, beberapa komoditas bumbu dapur mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.

Harga bawang putih yang sebelumnya berada di kisaran Rp27 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.

Sementara itu, bawang merah yang semula dijual Rp30 ribu per kilogram kini mencapai Rp35 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada minyak goreng bersubsidi merek Minyak Kita. Harga kemasan dua liter yang sebelumnya dijual sekitar Rp38 ribu kini meningkat menjadi Rp42 ribu.

Selain mengalami kenaikan harga, pasokan minyak goreng tersebut juga disebut semakin sulit ditemukan di pasaran.

Tidak hanya bumbu dapur, sejumlah komoditas sayuran turut mengalami kenaikan. Harga cabai yang sebelumnya berkisar Rp75 ribu per kilogram kini menembus Rp90 ribu per kilogram.

Buncis naik dari Rp14 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram, sedangkan wortel mengalami kenaikan dari Rp10 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang di Pasar Pon Jombang, Sumaiyah, mengatakan lonjakan harga yang terjadi hampir bersamaan pada berbagai kebutuhan pokok berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di pasar.

Menurutnya, banyak pelanggan yang kini memilih mengurangi jumlah belanja untuk menyesuaikan dengan kondisi keuangan mereka.

“Kenaikan harga terjadi pada beberapa kebutuhan dapur sekaligus. Akibatnya, banyak pembeli yang mengurangi jumlah barang yang dibeli karena harga dinilai cukup tinggi,” ujar Sumaiyah, Selasa (9/6/2026).

Secara tidak langsung, Sumaiyah menjelaskan bahwa menurunnya daya beli masyarakat mulai terasa di lapak para pedagang.

Ia mengaku belum mengetahui faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga berbagai komoditas tersebut.

Ia berharap harga kebutuhan pokok dapat segera kembali normal sehingga masyarakat tidak semakin terbebani dan aktivitas jual beli di pasar tradisional dapat berjalan lebih stabil.

Keluhan serupa juga disampaikan Putri Ayu Rosdiana. Ia mengaku harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran rumah tangga akibat naiknya harga berbagai kebutuhan sehari-hari.

“Kalau harga kebutuhan terus naik, saya biasanya mengurangi jumlah belanja dan memprioritaskan barang yang benar-benar dibutuhkan,” kata Putri.

Secara tidak langsung, Putri menuturkan bahwa kenaikan harga bahan pokok memaksanya menyusun ulang anggaran belanja keluarga agar kebutuhan utama tetap dapat terpenuhi di tengah meningkatnya biaya hidup.