FaktualNews.co

Sebelum Meninggal Bocah Penghafal Al Quran Tulis ‘Ya Allah, Tolong Bukakan Hati Orangtua Saya Untuk Mengizinkan Saya Pindah ke Sekolah Lain’

Internasional     Dibaca : 3806 kali Penulis:
Sebelum Meninggal Bocah Penghafal Al Quran Tulis ‘Ya Allah, Tolong Bukakan Hati Orangtua Saya Untuk Mengizinkan Saya Pindah ke Sekolah Lain’
Ilustrasi pengerjaan proyek jalan tol.
thaqif menjalani perawatan setelah kedua kakinya diamputasi

Seorang santri di Malaysia, Mohd Thaqif, yang kedua kakinya diamputasi akibat dipukuli oleh staf sekolah saat menjalani perawatan di rumah sakit dan buku catatan harian yang ditulisnya. (The Star)

 

KOTA TINGGI, FaktualNews.co – Seorang santri di Malaysia, Mohd Thaqif, yang kedua kakinya diamputasi akibat dipukuli oleh staf sekolah, dilaporkan meninggal. Anak laki-laki berusia 11 tahun itu mengalami koma, setelah diduga mengalami penyiksaan.

Dugaannya, bocah itu dipukuli dengan pipa air oleh seorang asisten pengasuh di sebuah madrasah swasta di Kota Tinggi, Negara Bagian Johor.

Sebelum mengembuskan nafas terakhir, bocah ini telah dijadwalkan menjalani amputasi tangan. Sang ayah mengabarkan kematian putranya, Rabu (26/4/2017).

Pada saat itu anggota keluarga sedang menggelar doa untuk memohon kesembuhan.

BACA :

Sebelum meninggal, Thaqif sempat menuliskan catatan harian tentang pemukulan yang dialaminya di sekolah tahfiz (penghafal Al Quran) tersebut bulan lalu.

Catatan harian itu ditulis hanya dua bulan setelah sang ibu mengirimkannya ke asrama di madrasah tersebut.

Bibi Thaqif, Dzuraidah Ahmad (38), mengatakan keponakannya tersebut sempat mengadu ke ibunya tentang pemukulan yang dialami. Aduan tersebut sama dengan yang tertulis di catatan harian Thaqif.

Dikatakan, mereka rela mendapat giliran pertama untuk dipukuli agar bisa tidur cepat karena harus bangun pukul tiga pagi untuk shalat subuh.

“Keponakan saya mengatakan terkadang dia dan temannya menjadi relawan untuk dipukul lebih dulu sebelum tidur,” ujar Dzuraidah seperti dilansir dari Freemalaysiatoday.com, Kamis (27/4/2017).

“Dia (Thaqif) menuliskan bagaimana dirinya dipukul tanpa alasan, dan dia mengaku tidak tahan dengan perlakuan serta minta untuk dipindah ke sekolah lain,” kata Dzuraidah.

Catatan harian korban menyebut, jika seorang siswa membuat kesalahan di sekolah swasta itu, maka seluruh santri akan dihukum. Salah satu tulisan di catatan harian tersebut menyebut sosok staf sekolah yang menyiksa dirinya hingga koma.

catatan harian Thaqif

Catatan harian Thaqif tentang pemukulan yang dialaminya di sekolah penghafal Al Quran. (The Star)

“Ya Allah, tolong bukakan hati orangtua saya untuk mengizinkan saya pindah ke sekolah lain, karena saya sudah tidak tahan. Tolong ya Allah, kabulkan keinginan saya,” demikian potongan catatan harian Thaqif seperti dikutip The Star.

Menanggapi kasus ini, kepolisian setempat mengatakan, korban bersama 14 teman sekelasnya dipukuli dengan selang air pada tanggal 24 Maret lalu, karena membuat gaduh di aula sekolah.

Kepala sekolah menolak memberikan keterangan terkait dugaan pemukulan itu dengan alasan polisi tengah mengadakan penyelidikan.

Asisten pengasuh yang dituduh memukuli telah ditangkap dan polisi telah memeriksa rekaman CCTV yang menunjukkan dugaan penyiksaan. Kasus ini menggemparkan Malaysia dan sejumlah orangtua menyerukan agar pengawasan sekolah-sekolah agama swasta dapat diperketat.

Federasi Asosiasi Lembaga Tahfiz Al-Quran Nasional -organisasi payung untuk berbagai pesantren, madrasah dan sekolah agama, pun bersuara.

Mereka mengatakan telah melihat rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa anak laki-laki itu sedang dipukuli pada telapak kakinya.

Namun ketua organisasi tersebut, Mohd Zahid Mahmood, mengatakan kepada wartawan, masyarakat tidak perlu terburu-buru mengambil kesimpulan. Dia mengimbau warga menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang. (*)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
S. Ipul
Sumber
Freemalaysiatoday, tribunnews