Peristiwa

Jenazah Pasien Asal Ploso Diusir Pegawai RSUD Jombang

JOMBANG, FaktualNews.co – Keluhan pelayanan di RSUD Jombang, Jawa Timur, satu persatu mulai terkuak ke publik. Hingga saat ini tercatat sudah lebih dari tujuh pasien yang mengaku menjadi korban buruknya pelayanan di rumahsakit pelat merah itu.

Terbaru, kali ini disampaikan DN (19) warga Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Ia mengeluhkan sikap kasar dan buruknya pelayanan pihak rumahsakit yang diterima almarhum ibunya saat menjalani perawatan di RSUD Jombang.

Menurut DN, kejadian nahas tersebut terjadi pada tanggal 7-9 April 2017 lalu. Saat itu, orang tua DN mengalami sakit dan harus menjalani perawatan di RSUD Jombang. NS (49) menderita sakit tulang belakang akut.

“Ibu pernah dua kali dirawat di RSUD Jombang, bulan Februari tapi saya lupa tanggalnya dan bulan April tanggal 7-9,” ungkapnya kepada FaktualNews.co, Senin (23/10/2017).

Pada bulan Februari ibunya dirawat di ruang Asoka 2 menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Selama di Asoka, ibunya mendapatkan pelayanan yang bagus.

Tapi sayangnya hal itu tidak berlanjut pada saat NS menjalani perawatan yang kedua, yakni pada 7-9 April 2017. Dimana sang ibu saat itu kritis harus menunggu berjam-jam untuk dilayani petugas.

Ketika itu NS dalam kondisi kritis. Ia masuk pukul ke RSUD Jombang sekira pukul 19.00 WIB dan baru mendapat kamar pukul 02.00 WIB dini hari.

“Ibu saya kritis dan masuk ruang IGD dari jam 7 malam sampai jam 2 pagi. Itu karena menunggu kamar, tapi apakah harus selama itu untuk pasien kritis?,” sesalnya.

Tak berhenti disana, pada hari kedua pelayanan bertambah parah. Sejak pukul 02.00 WIB infus yang masuk ke tubuh ibunya sudah tidak jalan. Pihak keluarga sudah melaporkan berkali-kali dan baru ditangani pukul 07.00 WIB.

“Malam kedua itu infus ibuku ndak jalan. Saya lapor dari jam 2 pagi, katanya gak apa-apa tetapi darah yang ditangan ibuku naik. Terus baru jam 7 pagi ditindak lanjuti,” bebernya.

Selanjutnya, setelah tiga hari mendapatkan perawatan, NS akhirnya menghembuskan nafas terahir. DN saat itu menangis histeris bersama sang kakak di kamar tersebut lantaran sedih kehilangan orang tuanya.

Namun tiba-tiba suster RSUD Jombang datang dan menyuruh pasien dibawa keluar. Padahal, ia dalam kondisi berkabung lantaran ditinggal ibunya.

Suster tersebut beralasan jika ruangnya akan dipakai oleh pasien baru. Pihak keluarga sudah meminta waktu beberapa menit untuk memenangkan diri. Tetapi suster tetap ngotot kalau jenazah harus dikeluarkan saat itu juga.

“Waktu saya dan kakak saya histeris karena ibu meninggal tiba-tiba ada perawat gemuk bilang, ndang dikeluarkan jenazahnya itu, mau ada pasien masuk. Ayah saya sampai memohon agar jenazah tidak dikeluarkan dulu tetapi diletakkan dipojok ruangan,” paparnya.

Terahir, lanjut DN, setelah seluruh administrasi selesai dan tinggal bayar biaya mobil ambulan, jenazah kembali dipersulit. Hal itu dikarenakan sang ayah tidak bawa KTP dengan demikian mobil ambulan tidak bisa keluar.

“Ayah saya ndak bawa KTP, disana wajib ada KTP. Ayah bilang, ‘tolong pak ini sudah jadi jenazah jangan dipersulit lagi dan baru mau jalan’,” jelasnya menirukan perkataan sang ayah kepada petugas RSUD Jombang.

Hingga akhrinya, pihak RSUD Jombang mengeluarkan mobil pengangkut jenazah dan membawa jasad NS ke rumah duka. Setelah, keluarga pasien terlebih dahulu merengek agar mobil ambulan bisa digunakan.

Sementara itu, Humas RSUD Kabupaten Jombang, Anita Kusuma saat dihubungi belum dapat memberikan konfirmasi terkait dengan keluhan yang disampaikan DN.

[totalpoll id=”43421″]