Kesehatan

Apakah Obat Perangsang Seks Benar Manjur dan Aman?

SURABAYA, FaktualNews.co – Pertanyaan seputar kepuasan seksual adalah tema klasik, pertanyaan purba bahkan barangkali setua usia peradaban manusia itu sendiri. So, dapatkah ilmu kedokteran abad 21 ini membongkar rahasia seputar kepuasan seksual ?

Nyatanya, meskipun abad 21 memiliki study klinis yang bagus, aprodisiak atau obat perangsang masih juga digunakan sebagian orang.

Bagi banyak pasangan kepuasan dalam kehidupan sex adalah kunci kebahagiaan dalam jangka panjang. Bahkan disfungsi seksual dan merosotnya gairah secara umum dianggap mempengarungi kepuasan sek dan kebahagiaan hidup.

Pada tahun 2015 sebuah sebuah panel yang terdiri dari para ahli mereview sebuah studi ilmiah yang meneliti disfungsi seksual terhadap lelaki dan perempuan.

Dimuat dalam The Journal of Sexual Medicine mereka menyimpulkan, seringkali disfungsi pada perempuan berupa gangguan pada gairah dan keinginan seksual. Perempuan yang mengalami multi disfungsi juga terekam cukup banyak.

Sementara pada kaum lelaki disfungsi seksual yang paling umum adalah berupa ejakulasi dini dan gangguan ereksi.

Apakah obat perangsang (aphrodisiac) dapat mengembalikan kehidupan seks kita ke ‘jalan yang benar’?

The Food and Drug Administration (FDA), sebuah lembaga di pemerintah Amerika yang bertanggung jawab atas perlindungan dan promosi kesehatan publik terkait makanan dan lainnya, menyatakan, banyak produk berlabel yang mengklaim mampu menumbuhkan, meningkatkan gairah, atau memperbaiki performa seksual ternyata adalah produk aprodisiak atau obat perangsang.

Beragam klaim dibuat seputar produk aprodisiak yang menggunakan bahan rempah-rempah biasa dan ekstrak tanaman khas hingga organ binatang dan serangga tanah.

Banyak dari kalim itu merupakan hal penting terkait dengan sejarah dan kepercayaan kultural yang telah lama diyakini. Tapi sayangnya, sedikit bukti ilmiah yang benar-benar menunjukkan adanya efek seperti yang diinginkan.

Beberapa produk, seperti Yohimbine yang terbuat dari ekstrak kulit pohon Yohimbe dari Afrika Barat, justru dikaitkan dengan sejumlah resiko kesehatan yang mengkhawatirkan seperti serangan jantung dan terhentinya sirkulasi darah dalam tubuh. Demikian menurut Pusat Kesehatan Komplementer dan Integratif Nasional (NCCIH) Amerika Serikat.

Beruntungnya kita secara perlahan keluar dari masa gelap terkait penelitian aprodisiak, berkat adanya sejumlah penelitian berkualitas bagus yang terus berkembang.

Ginkgo dan Ginseng
Sebuah review pembuktian ilmiah pendukung aprodisiak menyatakan, sementara data masih sangat terbatas, ginkgo biloba, gingseng, maca dan tribulus memiliki data potensial terkait aprodisiak. Setidaknya hal itu dikatakan oleh dua orang ahli yaitu Dr. Elizabeth West, dari the Department of Obstetrics and Gynecology di University of California, Irvine, dan Dr. Michael Krychman, dari the Southern California Center for Sexual Health and Survivorship Medicine di Newport Beach.

Menurut Dr. West dan Krychman, ginkgo telah terbukti meningkatkan aliran darah ke organ perifer, termasuk alat kelamin. Sementara satu penelitian menunjukkan ia mampu meningkatkan fungsi seksual pada pria dan wanita. Sayangnya temuan ini tidak didukung dalam penelitian lain.

Kedua ahli itu mengingatkan, meskipun ginkgo diterima dengan baik oleh kebanyakan orang, tapi ia bisa menyebabkan risiko tinggi terjadinya pendarahan.

Beberapa penelitian klinis dengan metode double-blind dan placebo-controlled mendukung anggapan bahwa ginseng efektif untuk disfungsi ereksi. Dalam tingkat studi yang lebih rendah ginseng bahkan juga dianggap dapat memperbaiki gairah seksual pada perempuan menopause.

Sebagaimana ginkgo, ginseng juga memiliki sejumlah efek samping. Termasuk diantaranya adalah gejala gastrointestinal ringan. Bagi yang mengidap kanker sensitif hormon harus menghindari pemakaian ginseng.

Maca dan Tribulus Terrestris
Menurut Dr. West dan Krychman, penelitian pada binatang pengerat menunjukkan bahwa maca (jenis tanaman lobak yang biasa tumbuh di dataran tinggi) efektif meningkatkan libido dan memperbaiki fungsi ereksi.

Meskipun tiga studi klinis menunjukkan adanya peningkatan fungsi seksual pada perempuan dan laki-laki, pada percobaan lain hal itu tidak ditemukan.

Tribulus terrestris (Rujak Polo), tanaman yang biasa dipakai dalam pengobatan tradisional China dan Ayurveda (pengobatan khas Hindu) mengandung senyawa yang dikonversi menjadi hormon steroid alami, dehydroepiandrosterone.

“Penelitian pada binatang pengerat menunjukkan peningkayan produksi sperma setelah mendapat suplemasi tribulus,” kata Dr. West dan Krychman

Kepuasan seksual pada wanita yang memakai Tribulus meningkat dalam beberapa penelitian – termasuk percobaan 2017 – sementara kualitas semen dan disfungsi ereksi pada pria juga menunjukkan peningkatan.

Namun demikian, meski telah ada peningkatan kualitas yang bagus dalam studi klinis, FDA mengingatkan bahwa masih terdapat kekurangan data untuk menetapkan dan mengeneralisasi bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk aprodisiak itu aman dan efektif.

Berdasarkan pada hasil pembuktian yang ada, sejumlah produk obat tanpa resep yang mengandung ramuan aprodisiak secara umum tidak dapat diakui sebagai obat yang aman dan efektif.