FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Cerita Ali Fikri, Dipinang Umar Bakrie Jadi Wakil Bupati

Politik     Dibaca : 285 kali Jurnalis:
Cerita Ali Fikri, Dipinang Umar Bakrie Jadi Wakil Bupati
FaktualNews.co/Istimewa/
Wakil Bupati Jombang periode 2003-2008, Ali Fikri

JOMBANG, FaktualNews.co – Nama Ali Fikri memang cukup familiar di telinga warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Selain sebagai anggota DPRD, dalam kurun waktu 5 tahun (periode 2003-2008) ia mendampingi Suyanto sebagai Wakil Bupati Jombang.

Duet Suyanto-Ali Fikri mendulang suara terbanyak dalam pemilihan bupati (Pilbup) Jombang, dengan sistem parlemen. Pasangan ini memperoleh 27 suara di DPRD Jombang. Mengungguli rivalnya Soeharto-Tamim Romly yang mengantongi 17 suara. Sedangkan satu suara sisanya abstain.

Redaksi FaktualNews.co mendapatkan kesempatan untuk mendengar kisah perjalanan Ali Fikri dikancah perpolitikan Kabupaten Jombang. Mulai saat menjabat sebagai Ketua Pansus di DPRD hingga ia ‘dipinang’ sang Omar Bakrie dari Kota Santri menjadi Wakil Bupati (Wabup).

“Saat itu saya Ketua Pansus penyusun tata tertib Pilbup di DPRD. Awalnya tidak menyangka sama sekali akan ‘dipinang’ sama Mas Yanto (Suyanto,red),” kata Ali Fikri, Senin (7/5/2018).

Ada 45 kursi di DPRD waktu itu. Dengan jumlah fraksi sebanyak 10 fraksi. Ketika itu, belum ada pembatasan jumlah dalam satu fraksi di DPRD. Setiap partai politik (Parpol) yang memilik kursi di DPRD, tentunya memiliki satu fraksi.

“Dalam sistem pemilihan melalui parlemen, setiap fraksi memang diperbolehkan mengusung calon. Tidak ada batasan. Namun saat itu fraksi memang sangat selektif untuk memunculkan calon,” papar politisi kelahiran Sumobito, Jombang 22 April 1961 ini.

Insting manuver politik dan penggalangan suara di DPRD Jombang yang dimiliki mantan Ketua DPD PAN Jombang ini memang sudah terlihat sejak awal. PAN yang hanya memiliki 2 gelintir kursi sudah mampu untuk menggalangan koalisi dengan membentuk fraksi Madani di DPRD Jombang dengan menyatukan beberapa parpol berlatang belakang agama islam.

“Saya sedikit lupa ya, tapi seingat saya waktu itu anggotanya PAN, PPP, PKNU, PKP dan PBB. Waktu itu partai islam semua,” tuturnya sembari meminta maaf jika ada kesalahan dalam penyebutan anggota koalisi fraksi Madani.

Dipercaya sebagai Ketua PPD tahun 2001 dalam proses pemilihan Wakil Bupati dengan terpilihnya Suyanto mendampingi Affandi yang duduk di kursi Bupati Jombang, membuat Ali Fikri kian gencar melakukan manuver poltik. Ia pun tak segan menyorot kebijakan-kebijakan kontroversi yang dikeluarkan kalangan eksekutif.

Hingga akhirnya, menjelang pendaftaran Pilbup Jombang periode 2003-2008 nasib baik kembali menyambanginya. Suyanto yang kala itu tengah berupaya maju menjadi Bupati Jombang, berkeinginan untuk melamarnya.

“Nah, kalau itu awalnya Mas Yanto bilang ke almarhum Pak Mul anggota dewan PAN dan pihak ketiga, beliau (Suyanto) ingin ngobrol-ngobrol dengan saya. Kemudian Mas Yanto datang ke kantor DPD PAN siang-siang. Setelah berbincang agak lama, dari itu akhirnya saya bersedia maju mendampingi Mas Yanto,” papar politisi gaek ini.

Menurut Ali Fikri, untuk bisa mendapatkan kepercayaan 27 anggota DPRD Jombang tidaklah mudah. Ketika itu, prosesi penyampaian visi dan misi begitu alot. Ia dan Suyanto harus meladeni argumen-argumen dari para anggota DPRD Jombang yang mendukung paslon Soeharto-Tamim Romly.

“Dulu lebih seru dari pada sekarang. Jadi memang debat beneran. Kita tidak siap habis dibantai sama anggota DPRD lainnya. Mohon maaf, pemaparan visi misi itu hanya sekedar formalitas. Kemampuan kita diuji benar oleh anggota DPRD saat itu,” jelas politisi yang juga pernah ‘mencicipi’ kursi Bupati Jombang mulai 12 Juni 2008 sampai 23 September 2008 ini.

Memang, dalam pemilihan langsung, pemaparan visi dan misi pasangan calon bupati dan wakil bupati yang digelar di DPRD Jombang, hanya bersifat seremonial belaka. Tidak ada debat serius dalam memaparkan program masing-masing. Sehingga, berpengaruh pada kualitas kepala daerah dalam memimpin.

“Kalau kita ngomong Jombang, tapi tidak faham tentang Jombang, tidak mengetahui realitas di Jombang, ya pasti habis dibantai. Kalau saat ini, debatnya di televisi, disitu ada batasan waktu juga,” tambahnya lantas mengatakan jika pemilihan melalui parlemen juga bisa mengetahui kemampuan calon dalam memimpin.

“Yang datang (debat visi misi Pilbup melalui parlemen) bukan hanya anggota dewan saja. Ada tokoh masyarakat, tokoh agama, cendikiawan, dan semuanya bisa tanya. Seandainya anggota dewannya diam tok, jadikan kelihatan sekali kalau ‘dibeli. Kalau sekarang paparan visi misi yang datang anggota dewan saja, terus kalau anggota dewannya tidur gimana,” tandasnya sembari tertawa.

Setelah melalui serangkaian prosesi pemilu, pasangan Suyanto-Ali Fikri akhirnya menjadi pemenang dalam Pilbup Jombang yang dipilih anggota DPRD Jombang. Keduanya resmi menjabat sejak 17 September 2003 dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 123.35-497 Tahun 2003. “Kami dapat 27 suara di DPRD waktu itu,” pungkasnya.

Selama 5 tahun, Ali Fikri mendampingi Suyanto yang juga mantan Ketua DPC PDIP Jombang memegang tampuk kekuasan di Kota Santri. Hingga pada pilkada 2008, karir politik Ali Fikri habis lantaran Suyanto tak lagi menggandengnya. Hanya beberapa menit jelang pendaftaran di KPU Jombang.

Editor
Z Arivin



DCS ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG DARI PARTAI BERKARYA DAN PARTAI NASDEM DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2019



LIHAT LIST DCS SETELAH MEDIASI