FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Menengok Ternak Sapi Perah di Desa Galengdowo Jombang

Ekonomi     Dibaca : 88 kali Jurnalis:
Menengok Ternak Sapi Perah di Desa Galengdowo Jombang
FaktualNews.co/Muji Lestari/
Para peternak sapi perah menyetorkan susu di KUD (Koperasi Unit Desa) Galengdowo, Wonosalam, Jombang.

JOMBANG, FaktualNews.co – Usaha susu sapi perah nampaknya mulai diminati warga di lereng Pegunungan Anjasmara Jombang. Terbukti, warga Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, kini mulai serius menggeluti ternak sapi perah.

Kepala Desa Galengdowo, Wartomo menuturkan, ternak sapi perah ini memiliki potensi yang tinggi untuk meningkatkan perekonomian warganya.

Sebenarnya, selama ini usaha susu sapi perah sudah lama digeluti warga Desa Galengdowo. Namun, tidak berdampak pada perekonomian warga sekitar. Sebab, selama bertahun-tahun penjualan susu selalu dikirim ke Kabupaten Kediri.

“Mereka itu (peternak sapi perah) selama puluhan tahun setor ke daerah lain. Nah disana ternyata peternak desa kami tidak dianggap sebagai anggota, hanya dianggap sebagai penjual susu biasa,” ungkap Wartomo, Sabtu (17/11/2018).

Melihat kondisi seperti itu, lantas pemerintah desa berinovasi membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), untuk menampung dan mengola secara mandiri susu hasil peternakan warga Desa Galengdowo.

“Sebelum ada BUMDes, masyarakat masih setor susu di salah satu KUD (Koperasi Unit Desa) di Kabupaten Kediri. Disana warga kami tidak dianggap sebagai anggota KUD. Nah dari sini, kami berinisiatif bagaimana masyarakat bisa diberdayakan sebagai anggota BUMDes ini,” bebernya.

Selain itu, Wartomo memaparkan, rata-rata masyarakat di Desanya memiliki 2 hingga 3 ekor sapi perah. Dimana setiap sapinya mampu menghasilkan 15 liter setiap hari. Susu yang disetorkan ke penampungan susu milik BUMDes Lohjinawi, Desa Galengdowo ini, lanjut Wartomo, warga akan mendapatkan hasil Rp 5.500 perliter susu sapi perah.

“Untuk satu sapi, keluar 15 liter susu. Kita kalikan harga susu Rp 5.500, itu sudah ketemu Rp 82.500. Nah itu dikurangi biaya produksi setiap satu ekor sapi Rp 25.000, masih rata-rata Rp 60 ribuan untung setiap hari untuk satu ekor sapi,” papar Wartomo.

Dengan gagasan inovasi ini, Wartomo berharap bisa mendongkrak perekonomian para peternak sapi di desanya, yang sudah puluhan tahun tidak bisa merasakan hasil dari peternakan sapi.

Terpisah, Tunari (61), salah satu peternak sapi perah di Desa Galengdowo ini mengaku terbantu dengan inovasi penampungan susu sapi perah BUMDes ini. “Ya ini bisa membantu warga. BUMDes ini kan milik desa. Jadi kita ya ikut membangun desa,” jelasnya.

Selama ini, pria yang sudah sejak 2010 menggeluti usaha ternak sapi perah ini, mengaku selalu menjual hasil susunya ke Kabupaten Kediri. Karena tidak dianggap sebagai anggota koperasi susu di tempat yang dia setori, lantas Tunari lebih memilih memasukan susu di BUMDes Lohjinawi Galengdowo.

Editor
Saiful Arief

YUK BACA

Loading...