FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Peternak Tulungagung Keluhkan Kelangkaan Obat, Banyak Sapi Terpapar PMK Setelah Vaksin

Peristiwa     Dibaca : 162 kali Penulis:
Peternak Tulungagung Keluhkan Kelangkaan Obat, Banyak Sapi Terpapar PMK Setelah Vaksin
FaktualNews.co/Hamam.
Salah satu ternak sapi mati akibat PMK di Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo.

TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Peternak di Tulungagung, mengeluhkan sulitnya mencari dokter hewan di tengah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Selain itu, beberapa obat hewan seperti antibiotik, penurun panas serta vitamin juga langka. Bahkan jika obat tersebut ada, harganya juga sudah mengalami kenaikan.

Salah satu peternak di Kecamatan Pagerwojo, Agung mengungkapkan, bahwa kebanyakan hewan ternak tepapar PMK setelah mendapatkan vaksinasi. Ketika bertanya kepada petugas, pihaknya mendapatkan jawaban bahwa setelah hewan ternak mendapatkan vaksin PMK sistem kekebalan hanya terbentuk 20 persen.

“Sapi saya itu langsung mengeluarkan air liur berlebih setelah mendapatkan vaksin. Padahal dulu sebelum mendapatkan vaksin, ketika sapi saya sakit terus saya suntikkan itu dalam kurun waktu tiga hari sudah kembali sehat,” ujarnya, (05/07/2022).

Menurut Agung, seharusnya pemerintah lebih memfokuskan pada pengobatan dan penanggulangan penyebaran PMK dari pada memvokuskan vaksinasi PMK. Pasalnya, kasus PMK ini hampir sama dengan kasus Covid-19.

“Saya melihat kok seakan dipaksakan melakukan vaksin PMK. Padahal banyak ternak yang malah sakit setelah mendapatkan vaksin PMK,” paparnya.

Agung mengungkapkan, dari total 15 hewan ternak yang dimiliknya. Sebanyak 13 ekor di antaranya terpapar PMK setelah mendapatkan vaksin PMK. Sedangkan untuk jumlah ternak mati di Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, sudah tidak bisa dihitung lagi. Padahal saat ini jumlah kematian ternak akibat PMK di data Pemkab Tulungagung hanya 18 ekor saja.

“Kalau saya tidak ada yang mati, dan jangan sampai ada. Tapi kalau di desa saya jumlah kematian ternak akibat PMK sudah tidak bisa dihitung lagi, dalam arti jumlahnya sudah sangat banyak,” ungkapnya.

Lanjut Agung, bahkan saat ini harga sapi yang sudah tidak bisa berdiri (ambruk, red) hanya berkisar Rp 2 juta hingga Rp 1 Juta. Padahal dulu harga sapi ambruk itu bisa mencapai Rp 20 Juta per ekor. Bahkan para peternak juga kesulitan untuk menjual sapinya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Tulungagung, Tutus Sumaryani mengatakan, bahwa memang saat ini pihaknya sedang memfokuskan melakukan vaksinasi PMK di seluruh kecamatan di Tulungagung.

Bahkan untuk petugas kesehatan, difokuskan untuk melakukan vaksinasi. Maka dari itu, karena keterbatasan petugas membuat dropping obat mengalami keterbatasan dan belum bisa optimal.

“Tulungagung baru saja menerima dropping vaksin PMK lagi sebanyak 42 ribu. Artinya saat ini Tulungagung sudah mendapatkan vaksin PMK sebanyak 82 ribu. Namun untuk obat-obatan kami hanya bisa berikan kepada peternak sesuai dengan stok yanga ada,” tuturnya.

Disinggung terkait efek samping setelah mendapatkan vaksin PMK, Tutus menjelaskan memang ternak yang sudah mendapatkan vaksin PMK itu ada reaksi postvaksin seperti demam untuk membentuk antibody pada hewan ternak.

Namun, efek samping itu tidak sampai menyebabkan hewan ternak mati.

“Kalau ada sapi yang tidak mau makan setelah mendapatkan vaksin itu mungkin karena pengaruh demamnya,” jelasnya.

Tutus mengungkapkan bahwa memang Disnakeswan Tulungagung, menyediakan dokter hewan gratis bagi para peternak. Namun jumlahnya hanya 30 orang saja. Selain itu, juga ada petugas kesehatan di KUD dan KOPTAN yang memberikan pelayanan pengobatan secara gratis.

“Jika ada peternak yang mengobatkan ternaknya berbayar itu kemungkinan mereka memeriksakannya ke dokter hewan swasta. Tapi kalau mereka memeriksakan ke dokter dinas atau KUD dan KOPTAN itu gratis. Sedangkan untuk jumlah dokter dinas itu hanya sedikit. Di Kecamatan Sendang dan Pagerwojo saja itu hanya ada satu dokter dinas,” pungkasnya. (Hamam).

 

 

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Nurul Yaqin