Politik

Kisah Tukang Pijat di Kota Mojokerto Maju Jadi Caleg, Gagal 2 Kali Dicerai Istri

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Dua kali gagal terpilih dalam pemilihan anggota legislatif (Pileg) DPRD Kota Mojokerto, tidak membuat tekad tukang pijat keliling, Muh. Hasymi Munahar patah semangat untuk kembali mencalonkan diri.

Bahkan Hasymi Munahar mengaku, pernah di cemooh sang anak karena tak punya modal dalam mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Mojokerto.

“Hanya anak saya yang nomor dua itu pernah nyeletuk, bapak tak punya modal kok nyaleg. Saya jawab, harusnya kamu bantu,” ungkap Hasymi sembari menirukan perkataan anaknya.

Meski demikian pria yang berprofesi sebagai tukang pijat panggilan ini tak patah semangat, meski pernah gagal dua kali dan di cemoo sang anak. “Sebenarnya, kedua anak saya tak mempersoalkan pencalonan di Pileg 2019. Sebab kedua anak saya kini bisa hidup mandiri dengan bekerja sebagai karyawan hotel,” tutur Hasymi.

Hasymi menuturkan, jika pencalonannya pada tahun ini, merupakan yang ketiga. Tahun ini dia maju lewat Partai Amanat Nasional (PAN) di dapil Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Pada Pileg 2009 lalu Hasymi maju melalui Partai Matahari Bangsa serta pada Pileg 2014 melalui Partai NasDem.

Nyaleg Hobi dan Dicerai Istri

Bagi Hasymi, tukang pijat panggilan di Kota Mojokerto, nyaleg merupakan hobinya. Selain itu, gegara pencalonan dirinya di Pileg berimbas diceraikan sang istri.

Perceraian itu di awali saat Hasymi mencalonkan diri pada Pileg 2014. Saat itu dia maju melalui Partai NasDem di dapil Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. “Belum selesai Pileg istri saya sudah memintai cerai, karena istri saya merasa tak mendapatkan nafkah yang cukup dari saya saat itu,” imbuh Hasymi.

Wanita yang diceraikan Hasymi tahun 2015 itu merupakan istri ke duanya. Sebelum itu, dia juga telah bercerai dengan istri pertamanya. Pernikahan dengan istri pertamanya itu membuahkan 2 anak laki-laki yang kini berusia 22 tahun dan 19 tahun.

Kampanye Lewat Pasien

Kini Hasymi memanfaatkan para pasiennya untuk mendulang suara di Pileg 17 April 2019. Sembari memijat, dia meminta dukungan dari para pasien yang dia temui. Dengan modal yang sangat minim, dia harus bertarung dengan 83 Caleg lainnya di dapilnya.

Hasyim memaparkan jika pada pencalonan pertama dan ke dua, ia menggunakan strategi pijat gratis untuk menarik simpati pemilih. Selama masa kampanye, tarif gratis itu dia berikan kepada para pasien di dapil tempat dia bertarung kala itu. Namun, kerja keras Hasymi tak mampu mendulang suara siginifikan.

“Kalau sekarang ini khusus warga Kranggan saya tak memasang tarif, seikhlasnya saja, tak bayar juga tak masalah. Hitung-hitung sambil kampanye,” imbuhnya.

Sementara Komisioner Divisi Teknis KPU Kota Mojokerto, Imam Buchori menjelaskan, perolehan suara Hasymi tergolong minim di 2 Pileg sebelumnya. Pada Pileg 2009, dia maju melalui Partai Matahari Bangsa hanya meraup 19 suara.

“Tahun 2014 maju melalui Partai NasDem, beliau mendapatkan 24 suara,” tandasnya.