Kesehatan

Kisah Posyandu Mandiri di Kota Probolinggo, Dulu Tak Ada yang Memperhatikan

PROBOLINGGO, FaktualNews.co – Dari sekian banyak Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) di Kota Probolinggo, hanya Posyandu Anggrek II yang berada di RT5 RW4, Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, yang mandiri. Seluruh biaya dipikul bersama, baik warga maupun orang kaya serta pengusaha.

Kini, Posyandu yang diketuai Luluk Edi Purnomo (52), berusia 4 tahunan dan ada sekitar 20 balita yang ditangani. Pelaksanaan posyandu, diselenggarakan setiap Sabtu pagi di rumah warga secara bergiliran. Selain pemeriksaan kesehatan rutin oleh bidan setempat, juga pemberian makanan bergizi.

Setiap kegiatan posyandu, kata Luluk, dibutuhkan dana sekitar Rp 500 ribu hasil patungan warga sekitar. Selama beberapa tahun, anggaran posyandu menjadi beban warga yang peduli terhadap kesehatan anaknya. Namun belakangan, yakni mulai 2018 hingga sekarang, beban masyarakat terkurangi, setelah diinfus PT Berdikari Jaya Bersama (BJB).

Melalui Corporate Social Responbility (CSR) nya, perusahaan penyulingan olie menjadi bahan bakar solar itu, menyumbang posyandu. Dana suntukan dari pihak swasta tersebut digunakan untuk pengadaan makanan bergizi dan operasional.

“Bantuan itu, membuat kami bisa bernafas lega. Ya, kalau ada kekurangan, kita pikul bersama,” ujarnya, Minggu (21/12/2019) siang.

Sebab, dua tahun perjalanan posyandu yang dikelolanya didanai urunan warga. Meski terseok-seok, Luluk dan kader posyandu yang lain, menolak menerima bantuan dari Pemkot. Alasannya, ada posyandu lain yang lebih membutuhkan.

“Di RW 4 ini kan ada 3 posyandu dengan yang di sini. Kami mengalah, lebih baik bantuan dari pemkot untuk posyand lain di RW 4,” jelasnya.

Warga memilih mendirikan sendiri posyandu, lantaran posyandu RW 4 lokasinya jauh dan harus menyeberang jalan raya jurusan Lumajang atau jalan KH Hasan Genggong. RT5 RW 4, lokasinya di lingkungan perumahan Sumbertaman Indah (STI) sisi selatan atau di belakang gudang bulog. Tepatnya, berbatasan antara Kelurahan Sumbertaman dengan Kelurahan Kedungasem. “Sekitar 1 kilometer jaraknya dari sini,” ungkap Luluk.

Dengan pertimbangan keselamatan, akhirnya warga sepakat untuk mendirikan sendiri posyandu. Anggotanya saat ini 44 kepala keluarga (KK) yang bermukim di perumahan Taman Permata Berlian, sisi selatan Perumahan STI.

“Semua dana yang terkumpul, kami manfaatkan untuk kesehatan anak-anak kami. Kalau ada sisa, anak-anak kami ajak refreshing. Biasanya saat ulang tahun posyandu. Bulan 2 atau
Februari,” tandasnya.

Ditanya kesehatan balita yang dinaungi, Luluk berterus terang, salah satunya ada yang menderita gizi buruk. Namun, berkat kerjasama dan pendekatan, sehingga anak yang mengalami gizi buruk 3 bulan lalu tersebut, kini berangsur pulih.

“Memang anaknya nggak mau makan. Tapi sekarang sudah seperti anak-anak yang lainnya,” tambahnya.

Tentang bau menyengat yang keluar dari pabri penyulingan olie, di utara perumahan, Luluk menyebut, sudah tidak seperti dulu. Mengingat, pihak perusahaan telah membenahi pabriknya, sehingga warga sudah tidak resah lagi.

“Ya beneran, kami tidak mengada-ada, bukan karena kami dibantu PT BJB terus mengatakan tidak bau. Memang sekarang baunya kadang-kadang dan tidak menyengat. Sampean rasakan sensiri. Kan sudah tidak bau,” pungkasnya.

Kepala produksi PT BJB Minkiet saat dikonfirmasi terpisah menyatakan, bantuan CSR yang diberikan ke warga, sebagai salah satu wujud kepedulian pabrik pada masyarakat sekitar.

“Sudah menjadi kewajiban kami membantu masyarakat melalui CSR. Dan kesehatan balita bagi kami amat penting. Ini bantuan kami yang kedua. Pertama tahun 2018,” katanya singkat.