FaktualNews.co

Peringatan Yadnya Karo Suku Tengger di Lumajang Tanpa Kehadiran Wisatawan

Sosial Budaya     Dibaca : 56 kali Penulis:
Peringatan Yadnya Karo Suku Tengger di Lumajang Tanpa Kehadiran Wisatawan
FaktualNews.co/efendi murdiono
Salah satu rangkaian kegiatan peringatan hari raya Yadnya Karo suku Tengger Semeru di Ranu Pani Lumajang

LUMAJANG, FaktualNews.co – Masyarakat adat Tengger Semeru di Desa Ranupani Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kini sedang memperingati Hari Raya Karo atau Yadnya Karo.

Yadnya Karo merupakan hari raya kedua setelah Kasada atau bulan kedua dari 12 bulan menurut kalender suku Tengger.

Perayaan Yadnya Karo biasanya turut disaksikan masyarakat luar Ranupani dan wisatawan. Namun, perayaan Yadnya Karo tahun ini hanya diadakan oleh dan untuk penduduk Ranupani saja, tanpa kehadiran wisatawan.

Perayaan Karo menjadi lambang asal mula kelahiran manusia sehingga berbagai rangkaian Upacara Karo wajib dilakukan oleh masyarakat adat Tengger di Ranu Pani.

Bandri, Ketua Panitia Perayaan Karo menjelaskan perayaan tahun ini dilakukan oleh masyarakat Ranu Pani tanpa kunjungan wisatawan mengingat masih dalam kondisi pandemi.

Ia juga mewajibkan masyarakat tetap diwajibkan mematuhi protokol kesehatan.

Bandri menjelaskan Perayaan Karo dimulai dengan Prepekan atau pembukaan, mbesan duata dan tayub pada malam harinya. Hari kedua dilakukan sesanti diawali pemberangkatan Punden dan Mbatek Tumpeng Gede di kediaman Kepala Desa Ranupane.

“Diawali dari tayub pada malam hari, paginya pemberangkatan punden dilanjutkan ke rumah kepala desa mbatek tumpeng gede setelah itu mengikuti romo dukun melakukan sesanti,” jelasnya, Kamis (09/09/2021).

Rangkaian perayaan Karo Suku Tengger dilanjutkan dengan Andon Mangan atau budaya saling berkunjung dan menjamu tamu dengan sajian khas Ranupani

“Setelah sesanti tidak boleh ada hiburan agar tidak mengganggu kekhidmatan masyarakat melakukan andon mangan, masyarakat saling sowan (berkunjung-red) meskipun sedikit sesuap harus tetap dilakukan, ini diwajibkan,” terangnya.

Puncak Perayaan Karo dilakukan Nyadran atau Sadranan yang artinya ruwah syakban dalam bahasa jawa. Tradisi ini masyarakat melakukan tabur bunga ke makam leluhur yang diawali dengan pemberangkatan Sadranan dari rumah Romodukun menuju makam yang diiringi Jaran Kencak & Tabuan Ketepong.

Sebagai tanda ucapan terima kasih, Panitia Perayaan Karo Suku Tengger menyajikan berbagai hiburan masyarakat seperti Jaran Kencak, Ujung dan Jaran Kepang hingga Minggu (12/09).

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono