KEDIRI, FaktualNews.co – Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Rakyat, Alissa Wahid, menegaskan bahwa pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren tidak bisa dilakukan hanya dengan menangani kasus per kasus. Ia menekankan perlunya perubahan sistem yang berkelanjutan dan melibatkan seluruh unsur pesantren.

​Hal ini juga dibahas Alissa Wahid dalam acara Training of Trainers (ToT) bagi Musyrif-Musyrifah yang digelar oleh RMI PBNU bersama Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).

Sebagai seorang psikolog, putri sulung Gus Dur ini memandang bahwa kekerasan di dunia pendidikan, termasuk pesantren, adalah persoalan sistemik. Oleh karena itu, penyelesaiannya pun harus bersifat sistematis.

​”Kalau kita melihat kasus yang terjadi berulang di berbagai tempat, berarti yang harus dibenahi bukan hanya individunya, tetapi juga sistemnya. Karena itu, kita menggunakan pendekatan system thinking untuk membangun perubahan yang lebih mendasar,” ujar Alissa Wahid saat dikonfirmasi di Kediri, Jumat (17/7/2026).

​Alissa menjelaskan bahwa selama ini penanganan kasus sering hanya fokus pada korban dan pelaku. Padahal, yang dibutuhkan adalah penguatan tata kelola, pola pengasuhan, kepemimpinan, dan budaya perlindungan anak di pesantren.

​Melalui kegiatan ini, PBNU berupaya memperluas gerakan Pesantrenku Aman dengan melatih para musyrif, musyrifah, pengasuh, dan tenaga pendidik agar mampu menjadi fasilitator perubahan di pesantrennya masing-masing.

​”Kalau kegiatan ini berhenti sebagai pelatihan, maka dampaknya terbatas. Tetapi kalau peserta mampu menggerakkan perubahan di lingkungannya masing-masing, itulah yang akan menjadi sebuah gerakan,” tambahnya.

​Alissa menutup dengan menegaskan bahwa perubahan budaya di pesantren memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari pengasuh, tenaga pendidik, santri, hingga wali santri. Sistem yang kuat ini diharapkan pesantren tidak hanya reaktif terhadap kasus, tetapi mampu mencegah terjadinya kekerasan sejak dini.