Harga Bahan Baku Melonjak, Pengrajin Perak-Kuningan Wonosalam Tetap Bertahan
JOMBANG, FaktualNews.co – Di tengah lonjakan harga bahan baku yang terus menekan, para pengrajin perak dan kuningan di Wonosalam, Kabupaten Jombang, tetap berjuang mempertahankan usahanya. Meski keuntungan menipis dan permintaan konsumen menurun, semangat mereka untuk terus bertahan tidak surut.
Eko Cahyono (48), salah satu pengrajin logam asal Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, mengaku merasakan langsung dampak dari ketidakpastian pasar global, terutama terkait harga logam mulia seperti perak, emas, dan kuningan. Hal ini berdampak signifikan pada usaha mikro kecil menengah (UMKM) miliknya yang bergerak di bidang pembuatan aksesori logam.
“Memang sangat berpengaruh. Ditambah lagi kondisi perekonomian masyarakat sedang lesu, jadi daya beli terhadap aksesori juga menurun drastis,” ujarnya.
Eko menjelaskan, harga perak yang sebelumnya sekitar Rp8.000 per gram, kini telah melonjak hingga mencapai Rp21.000. Begitu pula harga emas dan logam kuningan yang turut naik tajam.
“Dulu perak hanya Rp8.000, sekarang sudah Rp21.000 per gram. Emas dari harga Rp750.000 hingga Rp800.000 per gram, sekarang sudah menyentuh Rp1.800.000. Sedangkan kuningan kini berkisar antara Rp120.000 hingga Rp145.000 per kilogram. Kenaikan ini jelas memberatkan kami sebagai pelaku UMKM kecil,” jelasnya.
Dalam satu bulan, Eko mengaku tak bisa memastikan jumlah pesanan yang ia terima. Terkadang dalam seminggu hanya ada dua hingga lima pesanan, tergantung permintaan yang masuk.
“Saya tidak bisa prediksi pasti. Kadang seminggu cuma dapat empat pesanan cincin, kadang dua, kadang juga ada tambahan liontin atau aksesori lainnya. Sekarang memang masa-masa sepi pemesanan,” tuturnya.
Meski begitu, Eko tetap optimis dan berusaha bertahan di tengah fluktuasi pasar dan lemahnya ekonomi. Ia mengaku terus mencoba menjangkau pasar di luar daerah, seperti Kediri, Solo, bahkan hingga ke Bali.
“Strategi saya, tetap bertahan sesuai dengan pasar yang saya miliki. Saya sudah terjun di dunia kerajinan logam, jadi saya harus bertahan mati-matian. Sekarang saya mulai aktif mencari pasar ke luar daerah,” ungkapnya.
Eko Cahyono telah menekuni dunia kerajinan logam sejak tahun 1992, dan secara resmi mendirikan UMKM sendiri pada 2012. Produk-produknya banyak diminati komunitas pecinta barang antik, bahkan telah merambah pasar di luar Jombang dan Pulau Jawa.
“Pemasaran paling jauh sampai ke Bali. Kalau lokal, saya biasa kirim ke Jombang, Kediri, Mojokerto, dan Surabaya,” katanya.
Harga aksesori seperti kalung, cincin, gelang, dan produk logam antik lainnya dibanderol berdasarkan jenis dan kadar bahan. Untuk perak, ia mematok harga mulai Rp35.000 hingga Rp40.000 per gram, sudah termasuk ongkos pembuatan. Sementara untuk aksesori dari kuningan, harga per item lebih terjangkau.
“Kalau perak, per gramnya saya hargai Rp35.000–Rp40.000, sudah termasuk material dan ongkos buatnya. Sedangkan kuningan, per item ada yang cuma Rp10.000 atau Rp15.000, misalnya untuk anting-anting,” pungkasnya.(Wahyu)


