Pasar Lesu, UMKM Kulit Kambing di Jombang Andalkan Promosi Lewat Medsos
JOMBANG, FaktualNews.co – Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) penyedia kulit kambing di Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, mengeluhkan turunnya permintaan bahan baku untuk pembuatan alat musik, khususnya jimbe. Penurunan permintaan ini telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan berdampak signifikan terhadap pendapatan mereka.
Galuh Sri Iswandari (63), pemilik UMKM kulit kambing di Desa Sumberagung, Kecamatan Megaluh, menyatakan bahwa pemesanan kulit kambing untuk kebutuhan pembuatan jimbe di wilayah Blitar menurun drastis. Kondisi ini menyebabkan omzet usahanya turun hingga 40 persen.
“Beberapa bulan terakhir, pemesanan alat musik jimbe dari Blitar menurun. Biasanya setiap minggu saya bisa mengirim satu truk kulit kambing, tapi sekarang permintaan mulai berkurang,” ujar Galuh, Senin (28/7/2025).
Ia menduga turunnya permintaan disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakat yang lesu serta menurunnya minat terhadap alat musik tradisional seperti jimbe.
Harga kulit kambing per lembar bervariasi tergantung ukuran, yakni mulai dari ukuran M, L, hingga XL. “Harga per lembar sekitar Rp100.000,” jelasnya.
Sebelumnya, Galuh bisa mengirimkan 200 hingga lebih dari 1.000 lembar kulit kambing sekali pengiriman, dengan ukuran rata-rata 24 cm. Namun kini, pengiriman jauh menurun dari jumlah tersebut.
“Dulu pengiriman ke Blitar minimal 200, 300, 500, bahkan sampai 2.000 lembar. Saya bahkan sempat kewalahan melayani permintaan. Tapi sekarang sepi, mungkin karena kondisi pasar juga sedang lesu,” tambahnya.
Untuk mengatasi penurunan ini, Galuh mencoba memanfaatkan teknologi digital dengan memasarkan produknya melalui media sosial. “Solusi saya sekarang fokus promosi lewat platform seperti Facebook dan lainnya,” ujarnya.
Galuh mengungkapkan bahwa pada masa ramai pesanan, penghasilan usahanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Namun kini, pendapatan jauh menurun.
“Kalau dulu, sebulan bisa dapat Rp30 juta. Sekarang bisa produksi tiap hari saja sudah sangat bersyukur,” ungkapnya.
Meski saat ini pasar utama berada di Blitar, Galuh mengaku pernah melayani permintaan dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri.
“Yang paling jauh pernah kirim ke Malaysia. Kalau dalam negeri pernah ke Martapura, Lampung, Bali, Jepara, hingga Gresik,” pungkasnya.(Wahyu)


