LAMONGAN, FaktualNews.co-Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan selama hampir tiga bulan terakhir belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Meski berbagai upaya darurat dilakukan pemerintah, genangan air masih bertahan di permukiman dan lahan pertanian warga.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan perhatian khusus terhadap bencana ini.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan turun langsung meninjau lokasi terdampak bersama Bupati Lamongan dan jajaran terkait, Jumat (20/2/2026).

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau sejumlah titik banjir, termasuk Dusun Mluke, serta menyerahkan bantuan sembako secara simbolis kepada warga.

“Kami ingin persoalan banjir di Lamongan bisa terselesaikan. Yang paling penting adalah menambah pompa dan mengoptimalkan pompanisasi agar air segera teratasi,” ujar Mayjen TNI Budi Irawan. Jumat (20/2/2026).

Saat ini, sebanyak 15 unit pompa telah beroperasi di lapangan, ditambah dua unit lainnya. Setiap pompa bekerja rata-rata 14 jam per hari dengan kapasitas sekitar 549 liter per detik.

BNPB juga akan menambah satu unit pompa mobile berkapasitas 500 liter per detik, lima unit perahu, serta tenda darurat. Namun hingga kini, ketinggian air masih terpaut sekitar 66 sentimeter sehingga belum dapat mengalir keluar secara optimal.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengakui bahwa dalam kondisi saat ini, pompanisasi menjadi langkah paling memungkinkan.

“Langkah yang bisa kita lakukan sekarang adalah pompanisasi, karena cara lain dampaknya kurang efektif untuk mempercepat penurunan debit air,” jelasnya.

Banjir di kawasan Bengawan Jero sendiri merupakan fenomena tahunan. Seluruh aliran air dari 15 kecamatan bermuara ke satu titik pembuangan, sementara pintu air Kuro belum dapat dibuka akibat tingginya debit Bengawan Solo.

Kondisi ini membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Aktivitas terganggu, rumah rusak, dan sebagian petani terancam gagal panen.

“Kami sudah lelah menunggu. Air tidak juga surut, sementara aktivitas sehari-hari jadi serba sulit,” keluh Suyono (45), warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket.

Kondisi semakin berat dengan pendangkalan Waduk Gondang yang menurunkan kapasitas tampung hingga sekitar 65 persen.

Meski pemerintah menyebut normalisasi sungai dan pendalaman waduk terus dilakukan, dampaknya belum dirasakan warga.

“Setiap tahun banjir, tapi sekarang paling lama. Kami berharap ada solusi permanen, bukan hanya pompa dan bantuan sementara,” kata Siti Aminah (38), warga terdampak lainnya.

Warga kini hanya berharap air segera surut dan pemerintah segera menghadirkan langkah nyata agar banjir tahunan tidak lagi berubah menjadi bencana berkepanjangan.