Peristiwa

Dukung Warga Kulonprogo, Mahasiswa Mojokerto Gelar Aksi Simpatik

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Puluhan Mahasiswa Mojokerto beserta Komunitas jalanan mengelar aksi solidaritas menolak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo yang kini terus berlanjut Sabtu (4/8/2018).

Proyek bandara yang menghabiskan nilai kontrak proyek mencapai Rp 6,132 triliun, yang saat ini masih menuai di protes sebagian warga ini sudah mesuki tahap pembangunan fisik. Direncanakan akan bisa digunakan pada 2019 mendatang.

Dari pantauan di lokasi, puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi ini, seperti PMII Raden Wijaya, komitas lapak baca nyala, komunitas karpet baca, majelis literasi, tanam karya dan juga komunitas java syndicate Mojokerto, selain melakukan diskusi di depan Makam Pahlawan Kota Mojokerto, juga melakukan penggalangan dana yang nantinya akan di salurkan kepada warga yang terimbas proyek tersebut.

Ulul Absor, Ketua Komisariat PMII Raden Wijaya Mojokerto, juga ketua pelaksana mengatakan kegiatan aksi solidaritas galang dana dan diskusi ini digelar untuk membantu warga Kulonprogo terkena imbas proyek. Lantaran rumah dan lahan tempat mata pencariannya di gusur secara paksa oleh PT. Angkasa pura 1.

“Selain itu, aksi ini juga untuk mengabarkan ke masyarakat bahwa saat ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu kami bersepakat untuk menolak pembangun New Yogyakarta Internatioanl Airport (NYIA),” tuturnya.

Dirinya menambahkan mahasiswa menilai bahwa proses proyek pembangunan Bandara NYIA tidak sesuai dengan aturan yang ada dan merusak ekosistem yang ada disekitar lingkungan Kulonprogo serta tidak berperikemanusian.

“Bahkan, beberapa hari kemarin, sedang gencar isu bahwa pada pelelangan proyek bandara NYIA terdapat praktik KKN, sebesar Rp 6,1 milyar,” tuturnya.

Dan saat ini, dengan adanya kasus KKN ini menjadi senjata bagi warga untuk penolak pembangunan nyia. Dan harus menuntut KPK Agar mengusut tuntas kasus tersebut,

Mahasiswa menilai, proyek pembangunan NYIA telah merampas apa yang menjadi hak warga, keberlangsungan hidup, mulai dari pesoalan pekerjaan, pangan hingga nasib sekolah anak-anak Kulonprogo.

“Informasi yang kami terima tak jarang juga ada serangan berupa penindasan dan intimidasi. Hasil dari galang dana ini akan disumbangkan pada warga di sana,” tandasnya.