FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Hari Guru Nasional, Nasib Honorer di Jombang Gaji Minim Nyambi Jadi Ojek Online

Nasional     Dibaca : 113 kali Jurnalis:
Hari Guru Nasional, Nasib Honorer di Jombang Gaji Minim Nyambi Jadi Ojek Online
FaktualNews.co/Muji Lestari/
Guru honorer di Jombang nyambi jadi driver ojek online.

JOMBANG, FaktualNews.co – Hari guru nasional yang diperingati setiap 25 November, seharunya menjadi momentum membahagiakan bagi para tenaga pengajar. Namun, di Jombang, Jawa Timur, ada ratusan guru honorer maupun non kategori tak jarang hidup dengan ala kadarnya akibat minimnya gaji yang mereka terima.

Salah satunya Zainul Abidin (35), seorang guru olahraga sekolah dasar berstatus honorer K2, asal Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Jombang. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, pria yang sudah beristri dan memiliki seorang anak ini terpaksa harus bekerja sampingan menjadi driver ojek online.

Profesi yang baru dia tekuni selama beberapa bulan terakhir ini menurut Zainul cukup membantu perekonomian keluarganya. Karena jika hanya mengandalkan gaji sebagai guru sukuan sebesar Rp500 ribu per bulan ini saja tidak akan mampu menutup semua kebutuhan hidup keluarganya.

“Gaji saya sebagai guru honorer saat ini hanya Rp500 ribu per bulan, makanya saya terpaksa nyambi ngojek online,” tuturnya, kepada FaktualNews.co, Sabtu (24/11/2018).

Zainul Abidin telah menjadi guru honorer sejak tahun 2004 silam. Sejak saat itu hingga sekarang dia ditugaskan mengajar sebagai guru olahraga di SD Negeri 2 Jelakombo, Jombang. Gaji yang dia terima pun tidak banyak, awal Zainul mengabdi, dia hanya menerima gaji sebesar Rp50 Ribu.

Zainul mengaku bahwa dia pernah beberapa kali mengajukan diri untuk mengikuti tes CPNS, namun selalu gagal. “Saya jadi guru honorer ini sudah belasan tahun, sering ikut tes CPNS tapi gagal,sekarang saya gak bisa ikut lagi karena faktor usia,” bebernya.

Menjadi seorang guru bagi Zainul merupakan profesi yang cukup membanggakan. Diapun bercerita tentang bagaimana suka dukanya mengajar di Sekolah Dasar. “Kalau senangnya itu saya bisa mentransfer ilmu yang saya miliki kepada anak-anak, apalagi di kelas 1,2 dan 3, mereka yang masih cukup kecil sangat lucu bisa jadi hiburan tersendiri buat saya”,tuturnya.

Dukanya, menurut Zainul, takkala dia menghadapi murid yang bandel di kelas. “Kadang kalau ada yang berantem atau jatuh, saya lari-lari membawa mereka ke Puskesmas”, imbuhnya.

Menjadi guru berstatus honorer tidaklah mudah, apalagi ditengah-tengah kerasnya kehidupan dan tuntutan zaman. Selain menjadi driver ojol, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Zainul dibantu istrinya mencari penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai guru les di rumahnya.

Istrinya yang kini tengah mengandung anak keduanya inipun juga tidak tinggal diam, selain jadi guru les, mereka juga membuka kantin kecil-kecilan di rumah yang berada di tengah Kota setempat.

“Anak saya yang pertama sekarang sudah Sekolah kelas 2 SD, saya juga punya tanggungan angsuran rumah bersubsidi,” tegasnya.

Lalu bagaimana Zainul mengatur waktunnya saat bekerja sebagai guru dan ngojek ini? Menurutnya, dua profesi berbeda ini tentu sangat mudah dia lakukan. Meskipun dia harus rela mengorbankan sebagaian waktunya untuk ngojek diluar. Namun, penghasilan yang lumayan membuatnya tergiur ini tidak membuatnya merasa lelah.

“Ngojeknya ya setelah jam pulang sekolah mulai sekitar pukul 14.00 Wib, saya online sampai jam 12 malam, biasanya kalau target penuh saya dapat insentif Rp50 ribu sehari, belum lagi dapat tunainya,” kata Zainul.

Di Hari Guru ini, Zainul Abidin berharap, Pemerintah bisa memperhatikan nasib Guru honorer ini agar dapat porsi seimbang dengan keterampilan dan kemampuannya. Meskipun tidak bisa diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tapi setidaknya, harap Zainul, status guru honorer diakui oleh Pemerintah Daerah dan digaji minimal sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) setempat.

“Kita menjadi guru dituntut memiliki ijazah Sarjana, tapi gaji kita kalah dengan buruh pabrik yang bisa UMK, padahal rata-rata buruh pendidikannya hanya setara SMA,” pungkasnya.

Editor
Saiful Arief

YUK BACA

Loading...