FaktualNews.co

Tersandung Pelecehan Seksual, Mantan Rektor Unipar Jember Akui Khilaf, Tuding Dipolitisasi

Peristiwa     Dibaca : 242 kali Penulis:
Tersandung Pelecehan Seksual, Mantan Rektor Unipar Jember Akui Khilaf, Tuding Dipolitisasi
FaktualNews.co/hatta
Tampak Depan Kampus Unipar Jember Jalan Jawa, Kecamatan Sumbersari.

JEMBER, FaktualNews.co – RS, Rektor Universitas IKIP PGRI Argopuro (Unipar) Jember yang mundur dari jabatannya akibat dugaan melakukan pelecehan seksual, akhirnya buka suara.

RS mengakui dirinya melakukan tindakan pelecehan tersebut. Namun demikian, RS menyebut kasus yang melibatkan dirinya, yang berbuntut pengunduran diri itu ada unsur politis.

“Sebenarnya kasusnya itu tidak terlalu ini, tapi dipolitisir jadi meluas. Saya pikir begini kasusnya itu, intinya itu pada saat saya mau cium dia (korban), mengelak. Setelah itu saya minta maaf dan jpergi. Itu yang terjadi,” kata RS, dikonfirmasi melalui ponselnya, Sabtu (19/6/2021).

Terkait tuduhan mencium yang diduga dilakukan di sebuah hotel Kawasan Tretes, Kabupaten Pasuruan, RS menjelaskan, karena tindakan spontanitas dan tidak direncanakan olehnya. Hotel di Tretes itu tempat menginap saat acara Diklat dari PGRI Jawa Timur.

“Yang di hotel itu, ya itu Pak Agus (salah seorang Dekan Fakultas di Unipar), bersebelahan dengan itu (korban). Pak Agus datang buka kunci pintu kamarnya, saya keluar dan maksud ajak bareng pak Agus. Kemudian saya (mendatangi kamar korban), ketok kamarnya mbak itu. Begitu membuka saya itu tidak ada rencana, tiba-tiba mau mencium itu, dan dia mengelak,” ujarnya.

“Saya pun minta maaf dan keluar (dari kamar korban). Tidak ada sampai ada paksaan atau lebih dari itu. Saya merasa tidak adil. Bahkan ada yang lebih berat dari saya kasusnya kok tidak diproses,” sambungnya.

Kemudian untuk kejadian dugaan pelecehan seksual lainnya yang dilakukan dalam mobil saat perjalanan ke luar kota, RS berkisah di dalam mobil ada sopir korban duduk di depan.

“Saya di tengah dan ada Pak Agus (dekan). Mungkin itu penafsiran dia saja. Saat itu kaki saya ‘kemeng’, pengen saya (ingin) selonjor, luruskan, mungkin nyenggol tangannya. Ya saya malu kalau mau melecehkan dalam mobil,” sambungnya.

RS mengaku itu sebuah tindakan lupa diri yang diakui olehnya sebagai sebuah kesalahan.

Bahkan karena perbuatannya itu, sampai pada ada desakan untuk mundur sebagai rektor yang disampaikan saat rapat bersama dengan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Unipar Jember. Juga diterima RS sebagai sebuah konsekuensi.

“Saya mengakui khilaf dan sudah meminta maaf kepada yang bersangkutan (korban). Diminta mundur saya tidak masalah, monggo silakan itu wewenang PPLP. Tapi apakah PPLP sudah siap mencari pengganti saya. Ini Unipar sedang toto-toto (menata sistem pendidikan dan administrasi),” ucapnya.

Terkait menata yang dimaksud oleh RS, karena beberapa waktu lalu. Ada perubahan nama dari lembaga pendidikan tinggi Unipar tersebut. Yang sebelumnya bernama IKIP PGRI Jember.

Bahkan dengan terungkapnya kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh RS itu. Menurutnya ada kepentingan politis yang mendesak dirinya untuk mundur sebagai seorang pimpinan tertinggi dari Unipar Jember itu.

“Padahal itu sudah ada keputusan dari (rapat bersama) PPLP dengan punishment (sanksi) SP 1 itu, tapi rupanya sampai meluas. Kalau gini gak ngeman Unipar. Unipar ini (baru) berdiri kok malah begini,” katanya.

“Kalau PPLP lebih mendengarkan, saya pikir ada yang memobilisir dan menggerakkan. Jadi kumpulan dosen yang tidak puas, dan kedua ada indikasi ada yang ingin mengganti jabatan saya. Kalau saya sudahlah ini punishment dari yang kuasa agar saya lebih baik,” sambungnya.

Diberitakan, Unipar Jember berinisial RS resmi mengundurkan diri dari jabatannya, Jumat (18/6/2021). Pengunduran diri rektor itu disampaikan secara resmi oleh Yayasan IKIP PGRI Jember.

Terkait pengunduran diri rektor itu, dari informasi yang dihimpun wartawan di lapangan, karena adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan RS.

Korban dugaan pelecehan seksual itu seorang dosen perempuan inisial H, yang kejadian ini kemudian diketahui suami korban.

Menyikapi hal ini Kepala Biro III Unipar, Dr. Ahmad Zaki Emyus mengatakan, terkait pengunduran diri dari jabatan rektor, karena pihak yayasan yang meminta.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono