FaktualNews.co

Dusun Petung, Bondowoso yang Terisolasi (2): Naik Turun Bukit untuk Sekolah, Sekelas Cuma 2 Siswa

Liputan Khusus     Dibaca : 125 kali Penulis:
Dusun Petung, Bondowoso yang Terisolasi (2): Naik Turun Bukit untuk Sekolah, Sekelas Cuma 2 Siswa
FaktualNews.co/ Deni Ahmad Wijaya
Syarofa, dalam ruang kelasnya di SDN 3 Kretek di Dusun Petung, Senin (6/9/2021).

BONDOWOSO, FaktualNews.co – Tatapan Syarofa tajam memperhatikan papan tulis di depannya. Siswa kelas VI SDN 3 Kretek ini bersemangat menerima pembelajaran hari itu. Konsentrasinya tak melemah meski sebelumnya kaki mungilnya harus berjalan 3 kilometer naik turun bukit untuk sampai ke sebuah bangunan yang ia sebut sekolah.

Gadis belia berusia 10 tahun ini saban hari harus menyusuri jalan bebatuan terjal bersama sang ibu. Saban hari, ia berjalan 6 kilometer untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.

Satu jam jalan kaki naik turun bukit

“Saya berangkat sekolah jam enam pagi. Jalan satu jam sama ibu. Berdua saja,” ucap gadis berambut lurus terikat itu kepada FaktualNews, Senin (6/9/2021).

Kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) oleh pemerintah kabupaten Bondowoso sejak pertengahan Agustus lalu dia sambut dengan suka cita. Itu adalah kesempatannya bertemu teman-temannya, bercengkrama, dan bermain bersama.

“Waktu (sebelum PTM) disuruh belajar di rumah, enggak enak. Lebih enak belajar (PTM) begini. Banyak teman di sini,” tuturnya.

Letih berjalan kaki seolah tidak dianggap. Bukan orang tua tidak mampu mengantarkannya dengan mengendarai motor, tetapi lebih karena infrastruktur Dusun Petung, Desa Kretek, Kecamatan Taman Krocok buruk yang memaksa ia harus berjalan kaki.

“Kalau diantar naik motor, takut masuk jurang. Jadi lebih baik jalan kaki. Dekat kok. Cuma di sana,” kata bocah yang tahun depan akan lulus dari Sekolah Dasar itu.

Dekat yang dikatakan Syarofa adalah mendaki satu bukit. Jauhnya tiga kilometer. Itu jarak terjauh dari siswa lainnya di SDN 3 Kretek.

“Yang paling jauh tiga kilometer, ada yang satu hingga 2 kilometer. Tapi semua siswa ke sini jalan kaki,” tutur Kepala SDN Kretek 3, Dafir, Senin (6/9/2021).

Kelas rangkap, satu ruang disekat jadi dua

Dafir mengatakan, SDN 3 Kretek menerapkan pembelajaran kelas rangkap atau multigrade. Itu karena sangat minimnya jumlah siswa.

Total siswa di lembaga pendidikan tersebut hanya 22 siswa. Dimana 20 siswa masuk data pokok pendidikan (Dapodik), sedangkan 2 siswa lainnya adalah ‘siswa titipan’.

“Kan syaratnya minimal usia 6,5 tahun baru bisa masuk SD. Nah, anak di bawah usia itu yang ingin belajar, maka istilahnya dititipkan. Daripada sendirian di rumah, di sini bisa belajar dan bermain bersama teman-temannya,” ungkap warga Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok ini.

Rincian jumlah siswa SDN 3 Kretek yang terdaftar Dapodik yakni kelas I ada 4 siswa, kelas II dengan 2 siswa, kelas III sebanyak 4 siswa, kelas IV terdiri 3 siswa, kelas V ada 3 dan kelas VI memiliki 4 siswa.

“Kami hanya menggunakan satu ruangan untuk KBM (Kegiatan belajar mengajar) dengan cara disekat menjadi dua bagian. Semua siswa kumpul di sana,” sebutnya.

Dofir kemudian melangkah dan menunjukkan ruangan yang disekat menjadi dua bagian itu.

dusun terisolasi

Para siswa SDN 3 Kretek di Dusun Petung, sedang mengikuti proses kegiatan belajar mengajar dalam ruangan kelas yang disekat menjadi dua, Senin Senin (6/9/2021). (FaktualNews.co/Deni Ahmad Wijaya)

“Yang sebelah kiri ini kelas I-III dan sebelah kanan kelas IV-VI, mas,” tunjuk Dafir dengan rentangan tangan kanan ke kiri dan ke kanan.

Guru yang bekerja ada 6 orang. Tiga orang di antaranya berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), satu orang Calon PNS (CPNS) dan dua guru honorer.

“Pernah dulu sampai 60 siswa tahun 2013-2014. Itu paling banyak, paling pol. Lambat laun semakin turun. Banyak yang meninggalkan Dusun Petung dan merantau,” terangnya.

Dafir tidak saban hari bekerja mengajar di SDN 3 Kretek. Tergantung kebugaran tubuhnya. “Perjalanan dari rumah ke SD sini satu setengah jam. Berangkat pun harus istirahat tiga kali. Jadi kayak mendaki gunung itu ada pos satu sampai tiga,” selorohnya.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk pembangunan infrastruktur di Dusun Petung. “Infrastruktur yang bagus akan mempermudah akses ekonomi dan pendidikan. Jadi dusun ini tidak jadi dusun terisolasi lagi,” tuturnya.

Pendapat wakil rakyat

Taman Krocok merupakan daerah pemilihan V untuk pemilu legislatif. H. Buchori Mun’im, wakil rakyat yang terpilih dari Dapil tersebut mengaku kerap naik ke Dusun Petung.

“Hampir setiap bulan saya ke sana. Memang kondisinya sangat memprihatikan. Jadi, ke depan harus ada prioritas pembangunan di sana,” ucap Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso ini.

Ketua DPC PPP Bondowoso tersebut sepakat bahwa infrastruktur menjadi kunci dan solusi untuk mengentaskan Dusun Petung sebagai daerah terisolasi.

“Saya sudah berulang kali menyampaikan, baik lewat camat atau desa agar Dusun Petung dalam Musrenbang jadi prioritas,” ungkap warga Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel ini.

Wakil rakyat 4 periode ini juga sering menyerap aspirasi dari masyarakat setempat. Pembahasan utamanya adalah tentang nasib pilu warga Dusun Petung.

“Warga maupun tokoh masyarakat datang ke rumah berbincang tentang itu. Jadi, pada APBD 2022 harus menjadi prioritas dan perhatian khusus. Camat yang punya tanggungjawab,” tegasnya.

Jika merujuk pada visi Bupati Bondowoso KH. Salwa Arifin, maka tidak ada alasan untuk tidak membangun wilayah terpencil. Sebab, visi Bupati adalah ‘Membangun Bondowoso dari Pinggiran’.

“Kalau alasan terdampak Covid, semua juga terdampak Covid. Tapi ini persoalan kesejahteraan rakyat. Infrastruktur sangat dibutuhkan,” katanya tandas.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bondowoso diminta bergerak dan bertanggungjawab atas persoalan tersebut.

“Makanya ketika Musrenbang tingkat kecamatan itu kan semua hadir, termasuk DPUPR. Ini agar desa kretek keluar dari desa terisolasi menjadi desa maju,” bebernya.

Sementara itu hingga berita ini ditulis, Kepala DPUPR Kabupaten Bondowoso H. Munandar enggan memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat maupun sambungan telepon. (Deni)

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh