JOMBANG, FaktualNews.co-Musim haji membawa berkah tersendiri bagi para perajin sarung tenun di Kabupaten Jombang.

Salah satunya dirasakan pelaku usaha sarung goyor tenun di Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, yang mulai menerima pesanan sarung untuk kebutuhan oleh-oleh dan souvenir jamaah haji.

Sarung goyor khas Jombang itu banyak dibeli untuk dibagikan kepada keluarga maupun tamu setelah jamaah pulang dari Tanah Suci.

Pemilik usaha tenun, Siti Khoirul Uma, mengatakan pada musim haji tahun ini pihaknya menerima pesanan sekitar dua kodi atau sebanyak 40 potong sarung.

“Alhamdulillah untuk haji kali ini ada beberapa pesanan untuk persenan, oleh-oleh, dan souvenir,” ujarnya saat ditemui di rumahnya Selasa (12/5/2026).

Menurut Uma, sapaan akrabnya, meski suasana produksi tidak seramai saat Ramadan dan Lebaran, permintaan sarung goyor tetap berjalan stabil selama musim haji. Sarung goyor tersebut harganya sekitar Rp250 ribu per potong.

Sarung goyor memiliki ciri khas pada motifnya yang tampak sama di kedua sisi kain atau motif bolak-balik. Selain itu, bahan kainnya juga dikenal nyaman digunakan di berbagai kondisi cuaca.

“Kalau musim panas terasa dingin, kalau musim dingin terasa hangat. Itu keutamaan sarung goyor,” katanya.

Usaha tenun yang berdiri sejak 29 Juni 2021 itu kini menjadi tempat pemberdayaan bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitar desa. Awalnya, usaha tersebut dibangun untuk membantu perempuan yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Yang bekerja di sini semuanya ibu rumah tangga. Setelah pekerjaan rumah selesai, baru mereka ke sini untuk menenun,” ungkapnya.

Selain sarung goyor, kelompok perajin di Desa Penggaron juga memproduksi kain dolby, kain warna alam, kain sintetis, selendang, hingga blanket. Dalam satu minggu, mereka mampu menghasilkan sekitar 15 potong sarung tenun.

Pemasaran produk dilakukan secara langsung dan banyak mengandalkan pelanggan lama yang kembali membeli. Sarung tenun tersebut tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga telah dipesan dari luar daerah seperti Kalimantan.

Bahkan, beberapa pembeli membawa sarung goyor hingga ke luar negeri, termasuk Singapura.

Ia berharap pada momentum musim haji seperti ini menjadi kesempatan bagi para perajin untuk memperkenalkan sarung tenun tradisional Jombang kepada pasar yang lebih luas, sekaligus menjaga warisan budaya lokal tetap diminati masyarakat.