Cerita Relawan Covid-19 di Tulungagung, Kuburkan Janazah Tanpa Bantuan Pemerintah
TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Isu tak sedap terkait adanya pungli pemakaman pasien Covid-19 di Kabupaten Tulungagung kian santer diperbincangkan. Namun dibalik itu, seorang relawan menceritakan pengalamannya memakamkan jenazah pasien Covid-19 tanpa adanya sokongan dana dari Pemerintah setempat.
Lelaki berinisial ED tersebut merupakan seorang relawan dari sebuah tim kelompok relawan yang ada di Tulungagung. Selama ini ia menangani pemakaman bukan hanya bertaruh jiwa raganya saja dari paparan Covid-19, namun juga menghadapi kesulitan peralatan kerja utamanya APD (Alat Pelindung Diri).
“Tim kami sudah 21 kali memakamkan jenazah pasien Covid-19, selama 21 itu kita juga tidak mendapat apa-apa dari pemerintah, gugus tugas, maupun dari Dinkes (Dinas Kesehatan),” jelas, ED kepada jurnalis FaktualNews.co pada Jumat (15/1/2021).
Sedangkan, soal pungli maupun isu penarikan tarif, ia enggan berkomentar lebih jauh. Disisi yang lain pengadaan APD tidak didapatkan dari Pemkab maupun Satgas Covid-19.
“Kita alurnya, dari pihak desa ataupun pihak Puskesmas menghubungi kita, kita dipanggil. Jadi kita tidak ada komunikasi dari pihak rumah sakit ataupun Satgas, tahunya dari desa kalau memang APD disediakan kita siap berangkat,” bebernya.
Menurut ED, pemakaman jenazah Covid-19 wajib menggunakan APD. Tanpa adanya APD pihaknya juga mempertanyakan siapa nanti yang akan bertanggugjawab atas keselamatannya.
Kemudian, soal sokongan dana pemakaman Covid-19 memang dirinya tidak pernah menerima. Dari 21 kali pemakaman, pihaknya sama sekali tidak pernah mendapat imbalan apapun.
“Soal tarif, kita tidak komentar, karena dari pemberitaan yang ada tidak disebutkan relawan dari kelompok mana yang disebut abal-abal. Tapi kalau legalitas, kita siap, jadi tolong dalam pemberitaan nama saya disamarkan, karena di sini kita juga tidak ada masalah karena tidak disebut kelompok mana,” terangnya.
Lanjut ED, dalam setiap prosesi pemakaman minimal membutuhkan 8 orang. Sedangkan dengan kondisi tertentu, bisa membutuhkan lebih banyak orang.
“Misalnya pas malam, atau sedang hujan, kita membutuhkan penerangan, belum kondisi licin, banyak kesulitan kita, apa semua orang mau harus bertaruh jiwa raganya,” keluh ED.
Padahal, minimal jika terdapat 10 orang maka membutuhkan dana sekitar Rp1 juta. Dana tersebut dipergunakan untuk membeli peralatan APD, kaos tangan, masker, dan lainnya.
“Lalu ini uangnya darimana, setiap pemakaman Rp1 juta hanya untuk APD. Sehabisnya kita harus bakar, kita sudah 21 kali memakamkan jenazah Covid-19,” tambahnya.
Pihaknya pun enggan melawan pemberitaan yang terkesan menyudutkan tim relawan. Karena pada dasarnya pihak yang menyudutkan tidak tahu atas kesulitan yang dialaminya.
“Soal itu, saya tidak mau berkomentar jauh, kita intinya bersifat kemanusian. Kita pun juga tidak memaksa apa-apa, dalam setiap melakukan pemakaman,” terang ED.
Sementara itu, dari informasi yang berhasil dihimpun FaktualNews.co, di Kabupaten Tulungagung terdapat 3 tim relawan penanganan Covid-19. Mulai dari Basarta (Badan SAR Tulungagung), PMI (Palang Merah Indonesia) Cabang Tulungagung, dan Tagana (Tim Tanggap Bencana) Tulungagung.
Ketiga kelompok relawan tersebut masing-masing pernah membantu penanganan pemamakan Covid-19. Terlepas adanya unsur pihak lain seperti relawan desa maupun dari instansi tertentu.
Namun belakangan ini didapatkan konfirmasi dari Tagana, bahwasanya kelompok relawan tersebut berfokus menangani pasien Covid-19 yang berada di lokasi karantina Rusunawa IAIN Tulungagung.
“Kalau dari Tagana lebih berfokus kepada lokasi Rusunawa IAIN Tulungagung,” jelas Imam Syafii, Koordinator Layanan Psikososial Tagana Tulungagung, Sabtu (16/1/2021).


