Batik Pewarna Alam Jombang Tampil di IFW 2026, Usung 13 Motif Khas dan Tenun Lurik Lokal
JOMBANG, FaktualNews.co – Batik pewarna alam khas Kabupaten Jombang akan tampil di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jombang membawa 13 motif batik khas daerah serta satu motif tenun lurik yang dikemas dalam koleksi busana karya desainer lokal, Lia Afif.
Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya memperluas promosi wastra Jombang sekaligus mengenalkan kekayaan budaya daerah ke tingkat nasional. Selain memamerkan karya para perajin, ajang tersebut juga diharapkan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM sektor kriya.
Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, mengatakan Indonesia Fashion Week menjadi momentum penting untuk meningkatkan daya saing batik Jombang di industri fesyen nasional.
“Melalui Indonesia Fashion Week kami berharap batik Jombang semakin dikenal masyarakat, memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, serta mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi para perajin,” ujar Yuliati.
Menurutnya, motif-motif yang ditampilkan merupakan hasil karya pengrajin lokal yang mengangkat nilai budaya dan filosofi khas Kabupaten Jombang. Kolaborasi antara pemerintah daerah, desainer, dan para perajin diharapkan mampu memperkuat posisi batik Jombang, bahkan membuka peluang menembus pasar internasional.
Tak hanya menampilkan koleksi di panggung peragaan busana, Dekranasda juga menyiapkan sesi pemotretan di kawasan wisata Sendang Tlimo, Kecamatan Kabuh. Konsep ini menjadi bagian dari promosi terpadu yang memadukan sektor fesyen, kerajinan, dan pariwisata.
Yuliati menilai promosi produk unggulan daerah akan lebih efektif jika dipadukan dengan pengenalan destinasi wisata. Karena itu, keindahan alam dan potensi wisata Jombang turut diangkat sebagai latar promosi koleksi batik tersebut.
Sementara itu, desainer Lia Afif mengaku antusias mendapat kepercayaan merancang koleksi yang akan mewakili Jombang di IFW 2026. Ia mengusung tema “Akasa Dharani”, yang menggambarkan harmoni langit dan bumi melalui dominasi warna-warna alami.
“Kami ingin menghadirkan harmoni warna alam melalui batik pewarna alami yang dipadukan dengan sentuhan warna navy blue, ice blue, krem, hijau zaitun, dan yellow lime,” kata Lia.
Sebanyak 13 rancangan busana akan dipamerkan, terdiri atas satu busana pria dan 12 busana wanita. Koleksi tersebut menampilkan beragam model, mulai gaun, outer panjang, celana panjang, hingga atasan bergaya jas dengan sentuhan siluet modern, teknik drapery, dan potongan asimetris.
Lia menjelaskan seluruh kain batik yang digunakan merupakan hasil karya perajin Jombang yang masih mempertahankan teknik pewarnaan alami. Koleksi tersebut juga diperkaya dengan tenun lurik produksi perajin lokal sebagai identitas wastra khas daerah.
Menurutnya, batik pewarna alam memiliki nilai eksklusif karena proses pembuatannya membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu yang relatif lama. Karakter warna pada setiap lembar kain pun tidak pernah benar-benar sama sehingga menghasilkan karya yang unik.
“Keistimewaan batik pewarna alam terletak pada prosesnya. Setiap kain memiliki karakter warna yang berbeda sehingga menjadi ciri khas dan menunjukkan orisinalitas karya para perajin,” ungkapnya saat ditemui di sela pembuatan video teaser batik di kawasan Sendang Tlimo, Rabu (15/7/2026).
Ia menambahkan, proses penyelesaian satu lembar batik dapat memakan waktu lebih dari satu bulan karena melalui tahapan pencantingan dan pewarnaan berulang menggunakan bahan-bahan alami.
Melalui keikutsertaan pada Indonesia Fashion Week 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli mendatang, Dekranasda Kabupaten Jombang berharap batik pewarna alam semakin dikenal masyarakat luas, memperluas jaringan pemasaran para perajin, sekaligus memperkuat citra Jombang sebagai daerah yang kaya akan budaya, kerajinan, dan destinasi wisata. (KabarJombang.com)


