Darurat Pelestarian Sejarah, Pemkab Sampang Didesak Bangun Dua Museum
SAMPANG, FaktualNews.co – Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang segera membangun dua museum sebagai langkah nyata melestarikan sejarah dan budaya daerah yang berjuluk Kota Bahari tersebut.
Menurutnya, keberadaan museum di Kabupaten Sampang sudah menjadi kebutuhan mendesak di tengah semakin memudarnya perhatian terhadap warisan sejarah.
“Saya berharap Sampang memiliki dua museum. Satu museum umum untuk peninggalan purbakala, dan satu lagi museum budaya,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).
“Sementara di Kabupaten Sampang sampai sekarang belum memiliki museum yang representatif,” sambungnya.
Bahkan, Bustomi menyoroti kondisi bangunan yang selama ini disebut sebagai museum di kawasan Madegan. Menurutnya, fasilitas tersebut masih jauh dari standar sebuah museum yang layak menjadi pusat edukasi sejarah.
“Yang ada sekarang hanya sebuah bangunan kecil di Madegan. Bahkan lebih pantas disebut kantor staf RT. Isinya hanya alat musik bakbeng dan foto-foto bupati. Kalau hanya memajang foto-foto bupati, saya juga punya,” katanya.
Museum seharusnya menjadi tempat menyimpan dan merawat benda-benda bersejarah serta dikelola oleh orang-orang yang benar-benar peduli terhadap sejarah.
Bustomi menilai kondisi pelestarian sejarah saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Ia mengaku prihatin karena perhatian terhadap sejarah semakin berkurang, termasuk dalam dunia pendidikan.
“Ini sudah darurat. Dari pusat sendiri, sejarah sudah tidak lagi diopeni. Sejak tahun 1975 pelajaran sejarah bahkan sudah tidak diajarkan di tingkat SD. Karena itu museum menjadi sangat penting untuk mengangkat sekaligus melestarikan sejarah dan budaya yang dimiliki Kabupaten Sampang,” tambahnya.
Selain pembangunan museum, ia juga mendorong Pemkab Sampang memperkuat pelestarian budaya melalui pendidikan, termasuk membuka lembaga atau program yang mampu mencetak tenaga pendidik Bahasa Madura.
“Yang paling penting juga adalah persoalan moral. Sepintar apa pun seseorang, kalau tidak diimbangi tata krama, tidak ada artinya. Saya berharap Sampang berani mendirikan lembaga atau membuka jurusan Bahasa Madura. Sekarang guru-guru diminta mengajar Bahasa Madura, bukunya ada, kurikulumnya ada, tetapi gurunya tidak pernah dididik secara khusus,” ungkapnya.
Menanggapi kemungkinan kendala anggaran, Bustomi menegaskan hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan pelestarian sejarah dan budaya. Menurutnya, pemerintah daerah masih memiliki banyak alternatif sumber pendanaan.
“Kalau alasannya anggaran, bisa bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan karena di sana ada anggaran. Anggaran bukan satu-satunya alasan. Kalau memang tidak ada, bisa memanfaatkan dana bagi hasil migas atau Petronas. Masak membangun taman saja bisa, tetapi membangun dua museum tidak bisa?” ujarnya.
Ia juga menawarkan solusi lain apabila pembangunan gedung baru dinilai belum memungkinkan. Menurutnya, sejumlah bangunan peninggalan lama yang ada di Sampang dapat direvitalisasi dan difungsikan sebagai museum.
“Kalau memang sangat terpaksa, banyak gedung peninggalan lama di Sampang yang bisa dimanfaatkan. Misalnya bangunan yang berada di dekat monumen, itu bisa difungsikan menjadi museum sehingga sekaligus menyelamatkan bangunan bersejarah yang ada,” pungkasnya.


