Mesin Rusak Karena Pertalite Campur Etanol, PMII Lamongan Gugat Kebijakan Pemerintah
LAMONGAN, FaktualNews.co-Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Unisla Veteran, Senin (3/11/2025) sore, menggelar aksi unjuk rasa di simpang empat afight light DPRD Lamongan, Jalan Basuki Rahmat.
Aksi yang dimulai pukul 15.10 WIB itu menyoroti keluhan masyarakat terkait dugaan adanya campuran etanol dalam bahan bakar jenis pertalite yang beredar di sejumlah SPBU wilayah Lamongan.
Dengan membentangkan poster dan spanduk tuntutan, sekitar 35 mahasiswa yang dipimpin Galang Dimasqibin sebagai koordinator aksi, menyerukan agar pemerintah dan Pertamina bertanggung jawab atas dugaan kerusakan sepeda motor milik warga usai mengisi BBM jenis pertalite.
Dalam orasinya, Galang menilai kebijakan mencampur etanol ke dalam pertalite bukan solusi, melainkan justru merugikan masyarakat.
“Kami menolak kebijakan pemerintah yang mencampur etanol dengan pertalite. Itu merugikan rakyat, dan sudah terbukti menyebabkan kerusakan mesin kendaraan,” teriak Galang salah satu. Senin (3/11/2025)
Mahasiswa juga menilai penggunaan etanol tidak cocok diterapkan di Indonesia. Mereka mendesak pemerintah bersikap ilmiah dan berpihak pada masyarakat kecil.
Adapun lima tuntutan utama yang disuarakan mahasiswa antara lain: Mewujudkan kebijakan yang ilmiah dan berpihak pada rakyat, Menolak campuran etanol dalam pertalite, Menutup sementara distribusi pertalite di SPBU hingga kondisi normal, Menurunkan harga pertamax sebagai bentuk kompensasi bagi warga Lamongan dan Menuntut SPBU mengganti kerugian masyarakat maksimal dalam waktu 1×24 jam.
Aksi tersebut direspon wakil rakyat dengan menemui massa aksi. Dihadapan mahasiswa PMII, Ketua DPRD Lamongan, Mukhammad Freddy Wahyudi, menyatakan mendukung penuh aspirasi mahasiswa.
“Kami sepakat dengan tuntutan rekan-rekan PMII. DPRD Lamongan akan menindaklanjuti dan bertanggung jawab atas aspirasi ini,” ujar Freddy di hadapan peserta aksi.
Usai dialog, dan aspirasi tersampaikan mahasiswa menutup dengan penandatanganan press release dan foto bersama, kemudian membubarkan diri.


